
“Lux,” ucapku, kedua kakiku bertekuk sambil menyandarkan diri di kepala ranjang.
“Menurutmu, hadiah apa yang harus aku berikan kepada mereka saat upacara pernikahan nanti?” tanyaku kembali sambil melirik ke arahnya yang berbaring di salah satu bantal.
“Apa yang kau maksudkan itu, untuk kedua orang tuamu?” Kepalaku mengangguk, membalas pertanyaan yang dilontarkan Lux.
“Orang tuamu seorang Raja dan Ratu, memberikan mereka perhiasan? Tidak mungkin. Memberikan mereka uang? Bahkan mereka pun sudah kaya.”
“Apa aku harus membuatnya sendiri? Tapi apa yang harus aku berikan, sesuatu yang tidak akan bisa mereka beli di mana pun.”
“Aku pun turut pusing dan gugup, padahal bukan aku yang menikah.”
Aku kembali melirik ke arah Lux yang bergumam sambil beranjak duduk menatapku. “Kenapa kau susah-susah memikirkan hadiah? Jika kau saja, sudah menjadi hadiah terbesar untuk mereka.”
“Meskipun kau berkata seperti itu, tetap saja aku harus memberikan mereka sesuatu. Aku akan keluar untuk menenangkan pikiran,” ucapku sambil merangkak, beranjak turun dari atas ranjang.
Aku meraih sandal yang ada di bawah ranjang lalu berjalan mendekati pintu kamar. Aku melenggang keluar dari kamar dengan sebelumnya menutup kembali pintu. Langkahku terus berlanjut saat terdengar suara tawa perempuan yang terdengar dari balik suatu ruangan, “Ibu!” panggilku sembari berjalan mendekatinya yang tengah duduk bersama banyak sekali perempuan terutama Sasithorn.
“Calon pengantin, kenapa tidak beristirahat saja,” ungkap Ibu saat dia tersenyum menoleh ke arahku.
“Apa yang sedang ibu lakukan?” tanyaku ketika sudah duduk berdampingan dengannya.
“Ibu hanya sedang membantu mereka menyiapkan semua perlengkapan untuk pernikahan kalian,” jawabnya, dia kembali tertunduk dengan jari-jemarinya bergerak menjahit kain putih yang ada di tangannya.
__ADS_1
“Apa ada sesuatu yang dapat aku bantu?”
“Calon pengantin, hanya serahkan semuanya kepada Ibu saja. Rasanya, Ibu bahagia sekali dapat mempersiapkan pernikahan Putri Ibu sendiri,” ucapnya, dia tersenyum dengan telapak tangannya menyentuh pipiku.
“Ini sudah larut, apa kau tidak beristirahat?”
Aku menoleh ke samping saat suara laki-laki mengetuk telinga, “sebentar lagi. Kami hanya tinggal menyelesaikan semua pernak-perniknya,” jawab Ibu, aku melirik ke arahnya yang tersenyum menatap Ayah.
“Ayah, dari mana kalian?” tanyaku sambil menatap mereka berlima yang berdiri di belakang Ayah.
Ayah menoleh ke belakang, “Zeki dan saudara-saudaramu, menemani Ayah untuk memeriksa kuil di bukit yang akan menjadi tempat pernikahan kalian,” ungkap Ayah sembari berjalan mendekati kami.
“Beristirahatlah, ini sudah larut. Kau dapat melanjutkannya besok,” ucap Ayah, dia sedikit membungkuk sambil menjulurkan tangannya ke arah Ibu.
“Kalian juga, pergilah beristirahat! Ini sudah larut,” sambung Ayah, para perempuan tersebut termasuk Sasithorn hanya terdiam dengan menundukkan kepala mereka.
_____________.
Telapak tanganku terangkat menekan dada, semakin kuat aku menekan dadaku itu saat detakan jantungku semakin tak karuan. Kutatap bayangan perempuan paruh baya yang berdiri di belakangku itu, bayangannya yang terpantul dari cermin tampak sibuk menata rambutku.
Mereka mengatakan, aku harus mengikuti upacara sebelum hari pernikahan. Ayah telah memanggil pendeta untuk memimpin upacara tersebut di Istana. “Apa Putri gugup?” Kuangkat kembali kepalaku menatap bayangan perempuan tersebut yang tersenyum.
“Sudah wajar, jika seorang calon pengantin merasa gugup menjelang pernikahan mereka. Saya pun, ketika dulu menikah dengan Duke, merasakan hal yang sama,” sambungnya sembari menatap bayanganku yang terpantul dari cermin.
__ADS_1
“Aku tidak tahu, hanya saja … Aku merasa semakin resah dan berniat untuk melarikan diri dari pernikahan ini,” ungkapku pelan, semakin kutekan telapak tanganku yang menyentuh dadaku itu.
“Jika suami kita merupakan orang yang baik, tidak ada alasan untuk menolaknya. Terlebih, di dunia yang seperti ini … Suami yang baik, sudah seperti perisai untuk kita menghadapi dunia ini. Jadi, jangan ragu Putri,” tukasnya kembali dengan menatap ke arah cermin.
Aku sedikit melirik ke kiri ketika suara pintu bercampur suara Ibu terdengar, “apa semuanya telah selesai? Pendeta telah datang, upacara calon pengantin akan segera dilaksanakan,” ucap Ibu saat dia membuka pintu lalu masuk berjalan mendekatiku.
“Putri Ibu, kau terlihat cantik sekali, nak,” lanjut Ibu ketika dia telah membungkukkan tubuhnya di sampingku.
Ibu kembali beranjak dengan mengangkat telapak tangannya ke arahku, “ayo, semuanya telah menunggu,” ucapnya tersenyum dengan melirik ke arah telapak tangannya.
Aku menarik napas sedalam mungkin ketika jantungku semakin bergemuruh, telapak tanganku yang basah … Kuusap di kimono yang aku kenakan sebelum kuangkat telapak tanganku itu meraih tangan Ibu. Aku melirik ke arah bibi Alida, yang sedikit berjongkok sambil merapikan ujung kimono yang aku kenakan.
Kami bertiga, berjalan beriringan keluar kamar ketika ia telah selesai melakukannya. Genggaman tanganku pada Ibu semakin menguat, tatkala langkah kaki kami semakin mendekati Taman Istana. Bau wewangian, semerbak tercium saat langkah kaki kami berhenti … Menatap tempat yang akan digunakan sebagai ritual.
Dupa yang dibakar di keempat sudut kain yang dibentang, membumbungkan asap kecil mereka ke udara saat angin bertiup. Pandangan mataku, beralih ke arah Ayah, Haruki, Izumi, Ryuzaki, Eneas, Sasithorn, Duke, dan seorang laki-laki tak dikenal yang memakai pakaian serba putih.
“Jika kau mencari Zeki, dia tidak mengikuti upacara ini … Upacara ini, hanya dilakukan oleh calon mempelai perempuan berserta keluarganya. Calon pengantin laki-laki, dilarang untuk mendatanginya,” aku menoleh ke arah Ibu yang seakan menjawab apa yang aku pikirkan.
Ibu menuntunku mendekati mereka, aku melepaskan sandal yang aku kenakan lalu berjalan di atas kain putih melewati keluargaku yang duduk di atas kain yang sama. Dengan perlahan, Ibu dan bibi Alida membantuku duduk di depan laki-laki berpakaian putih itu. Aku menggenggam kuat kimono milikku saat hanya aku sendiri saja yang duduk berhadapan dengan laki-laki tersebut.
Sesekali, aku melirik ke arah mangkuk besi yang tergeletak tidak terlalu jauh dari laki-laki itu, sebuah besi panjang yang dicelupkan ke dalam bara api di mangkuk besar itu … Semakin membuatku kembali gugup tak menentu. Laki-laki berpakaian putih itu beranjak berdiri dengan sebuah mangkuk kecil di tangan kirinya dan beberapa tangkai daun yang diikat menjadi satu di tangan kanannya.
Sebuah lantunan, dari kata-kata yang tak aku mengerti … Mengiringi langkah kaki laki-laki tersebut yang berjalan mengelilingiku. Selama dia berjalan mengelilingiku, selama itu juga aku merasakan percikan-percikan air menampar tubuhku. Kepalaku masih tertunduk, menatap sepasang kaki dari laki-laki tersebut.
__ADS_1
“Minumlah! Dan habiskan!” Aku mengangkat kepalaku, menatapnya yang telah mengarahkan mangkuk kecil yang ia pegang itu ke arahku.
Aku mengangkat kedua tanganku meraih mangkuk tersebut, “sebelum meminumnya, berdo’alah terlebih dahulu. Katakan, ‘lancarkan pernikahan kami, Deus. Hamba meminum air suci ini, untuk menyucikan diri sebelum menyerahkan diri pada laki-laki pilihanmu.’ Jika telah selesai mengatakannya, minum habis air tersebut!” ucap laki-laki itu kembali padaku.