
Aku berjalan, mengikuti Lux yang terbang di depanku. Bermodalkan, ranting dari cabang pohon yang tergeletak di tanah … Aku membuat sedikit jalan dari rerumputan tinggi yang ada di sekitarku. Langkahku terus berlanjut dengan sebelah tangan menggerakkan ranting yang aku bawa itu, ke kanan dan ke kiri membelah rerumputan.
“Sachi, apa kau baik-baik saja?”
Pandangan mataku kembali terangkat menatapinya yang telah terbang mendekat lalu hinggap di pundakku, “aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Kau, tidak terluka, bukan?”
Aku menggerakkan kepala ke samping saat kurasakan sesuatu menyentuh leher. “Walau kecil, aku tidaklah lemah. Seharusnya, kau khawatirkan saja dirimu sendiri,” tukasnya, hingga kurasakan tarikan di rambut tipis yang ada di dekat telinga.
“Aku mengerti, aku mengerti.”
“Lux, apa masih jauh?” sambungku dengan kembali melirik ke arahnya.
“Apa kau lupa pohon besar yang menjadi tempat kalian beristirahat?”
“Aku, telah melihat pohonnya saat terbang tadi. Hanya maju saja ke depan, kita akan segera menemukannya,” lanjutnya yang pelan terdengar di telinga.
Langkahku terus berlanjut dengan sesekali membuang pandangan ke sekitar. Kadang kala aku berhenti sejenak, hanya untuk menyeka keringat yang membanjir. Kedua kakiku bertekuk, lalu duduk di atas rerumputan saat deru napasku itu kian tak terkendali. “Kau kenapa, Sachi?” tukas suaranya diirikuti elusan pelan menyentuh leherku.
Aku masih tertunduk dengan memegang erat kening, “aku, belum makan atau minum apa pun sejak semalam. Beberapa hari terakhir, tubuhku diracuni … Mungkin itu jadi salah satu alasan kepalaku rasanya sakit sekali,” jawabku pelan sambil tetap mencoba untuk mengatur napas.
Aku mengangkat kepalaku, menatapi Lux yang telah terbang di depan wajah, “kau juga tidak membawa tas. Hampir semua, ramuanku ada di sana,” ungkapnya, yang terlihat gelisah sambil menggerakkan kepalanya.
Aku menarik napas lalu menelan ludah sendiri, sebelum kupaksakan tubuhku untuk kembali beranjak berdiri, “tidak perlu khawatir seperti itu. Kepalaku, sudah tidak apa-apa,” jawabku, dengan berusaha tersenyum agar dia tak khawatir.
“Lux, bisakah kau terbang, dengan menggandeng tanganku?” tanyaku sambil mengangkat jari telunjuk tangan kiriku ke arahnya.
Aku kembali tersenyum saat Lux meraih lalu menggenggam jari telunjukku itu. Langkahku kembali berlanjut, sambil sesekali melirik ke arahnya yang terbang di samping dengan memegang jari tanganku itu. “Sudah lama sekali, kita tidak berjalan seperti ini, bukan?” tanyaku dengan kembali menunduk menatapnya.
__ADS_1
Lux terbang sambil mendongakkan kepalanya, membalas tatapanku, “kau benar. Terakhir kali kita seperti ini, adalah saat kita menyusup ke hutan hanya untuk menemui Kou. Jari-jari tanganmu, cepat sekali tumbuh besar,” balasnya, dengan tawa kecil dariku yang menimpali perkataannya.
“Apa kau ingat, Sachi?”
“Hari di mana, pertama kalinya untukku datang ke rumah kalian?”
Kepalaku mengangguk pelan menjawab pertanyaannya, “hal itu, juga menjadi pertama kalinya untukku tidur di sebuah bantal yang sangat empuk sejak meninggalkan bangsa Peri. Walau nanti, urusan kita dengan Kaisar telah usai … Aku ingin, kita tetap berteman. Aku ingin, tetap menjadi bagian keluarga kalian.”
“Kau telah menjadi keluarga kami sejak lama. Haru-nii sendiri yang mengatakan semuanya kepadamu, bukan? Saat, pertama kalinya untuk kami berdua merasa haru dengan apa yang diucapkan Izu nii-chan. Kau, telah menjadi keluarga kami sejak itu.”
“Terima kasih, Lux. Setelah berbicara denganmu, perasaanku terasa lebih baik. Bahkan aku, sudah tidak merasakan sakit lagi di kepala. Terima kasih,” ucapku, aku kembali tersenyum kecil ketika matanya itu kembali menatap padaku.
_______________.
Aku berjalan, melewati pohon besar yang sebelumnya kami jadikan tempat untuk bermalam. Aku ingat betul, Haruki meninggalkan tas besar di bawah pohon sebelum kami melanjutkan perjalanan. Tapi, di mana tas tersebut berada? Justru malah, pohon ini terlihat tak pernah dijamah manusia.
Aku kembali tersadar, saat bisikan suara Lux yang memanggil terdengar berulang kali. Langkahku kembali berlanjut, menyusuri jalan yang dulu pernah kami lalui. Aku tertegun, menatapi pemandangan yang ada di depanku itu. Perahu yang dulu kami pakai untuk sampai ke sini, kini telah hancur menjadi puing-puing kayu yang menghampar di tanah.
“Lux, apa kau yakin? Jika mereka ke sini?”
“Bahkan, manusia yang paling bodoh sekali pun. Pasti paham dengan petunjuk yang aku tinggalkan,” balas Luz, aku kembali meliriknya yang tengah terbang memutari puing-puing dari perahu.
“Dan lagi pun, coba perhatikan! Bukankah, ada yang aneh?”
Aku yang diliputi rasa penasaran oleh apa yang Lux katakan, coba melangkahkan kaki mendekatinya. Aku berdiri, dengan kedua mata menatapi apa yang Lux tunjukkan kepadaku. “Aku benar-benar akan membunuh mereka!” tukasku geram, sambil berjongkok dengan meraih satu potongan papan di tanah.
“Puing-puing ini, terlalu sedikit dan hanya cukup dijadikan satu buah perahu. Jika apa yang aku pikirkan itu benar? Itu berarti, mereka telah pergi menggunakan perahu yang lain, lalu menghancurkan perahu yang satunya agar tak ada yang bisa mengikuti mereka. Sialan!” Aku kembali menggerutu saat kembali beranjak berdiri.
__ADS_1
“Lalu, apa yang akan kita lakukan?”
“Tidak ada, untuk saat ini,” jawabku sembari berjalan meninggalkannya. Aku duduk bersandar di salah satu pohon sambil meluruskan kedua kakiku, “kita, akan menunggu Haru-nii dan yang lainnya untuk sampai ke sini. Kalaupun, memang tak ada cara lain, maka aku akan meminta Kou untuk mengeluarkan kita dari sini,” sambungku seraya membuang pandangan mata ke depan.
______________.
Lama kami menunggu kedatangan mereka yang tak kunjung muncul. Panas yang menyengat dari matahari sebelumnya, justru sekarang telah berkurang oleh malam yang kian mendekat. Kuelus perutku yang sedikit terasa sakit dengan sesekali aku mencoba meneguk ludahku yang hampir mengering. Aku menutup mata, tubuhku sedikit tersentak saat bayangan besar diikuti suara hentakan ke tanah mengusik.
“Kou? Apa kau memanggilnya, Sachi?’
“Aku belum … Memanggilnya,” tukasku yang sempat terputus oleh rasa sakit yang mendera di perutku.
“My Lord,” ucapnya, aku mengusap kepalanya yang tiba-tiba ia baringkan di atas pahaku.
“Apa yang kau lakukan di sini, Kou?”
“Menemanimu, mereka akan segera sampai. Aku, sempat melihat mereka yang berlari sebelum sampai ke sini,” ucapnya, matanya berkedip beberapa kali dengan pelan saat tanganku mengusap kepalanya.
“Ambil darahku, My Lord!” sambungnya, kepalaku mendongak ketika ia dengan tiba-tiba mengangkat kepalanya menjauhi pahaku.
Kou menggigiti tubuhnya hingga berdarah sebelum akhirnya ia duduk di hadapanku, “aku hanya sakit perut biasa, dan kau langsung memberikan darahmu. Nagaku, memanglah yang terbaik,” ucapku, aku sedikit meringis sebelum aku akhirnya melangkah mendekati Kou.
“Apa kau tiba-tiba muncul karena mengkhawatirkanku?”
Bibirku tersenyum kecil ketika Kou sama sekali tak menjawab pertanyaanku. Dia justru membaringkan kepalanya di tanah dengan kedua matanya yang terpejam. Kugerakkan kepalaku, mengisap pelan darah Kou yang telah mengaliri kulitnya. Semakin lama aku melakukannya, semakin itu juga … Rasa sakit di seluruh tubuhku perlahan menghilang.
Aku menjauhkan wajahku dari lukanya, sebelum akhirnya menyandarkan tubuhku di tubuhnya, “Kou, aku ingin beristirahat sejenak. Bangunkan aku, jika kakakku telah datang,” tukasku pelan, tanganku kembali terangkat mengusap kepalanya yang lagi-lagi ia baringkan di pahaku.
__ADS_1