
"Lepaskan, lepaskan dia!" Teriak Haruki, suara gemerincing rantai semakin kuat terdengar di telinga.
"Laki-laki itu meminta untuk melepaskanmu," ucap perempuan berambut pirang itu sembari ia melangkahkan kakinya mendekati.
"Aku sudah katakan, belum tentu semua laki-laki akan sejahat seperti yang kalian ki..."
"Sa-chan!" Teriak Haruki kembali terdengar, kali ini lebih keras dari sebelumnya mengetuk telingaku.
Kepalaku tertunduk, anak panah yang menancap di pundakku sekarang, terasa lebih sakit dibanding kedua anak panah yang menancap di belakang tubuhku. Semakin perempuan berambut pirang itu melangkah mendekat, semakin kuat pula suara gemerincing yang terdengar.
Seseorang menarik kedua lenganku ke belakang, perempuan berambut pirang tadi menghentikan langkah kakinya tepat di depanku. Diangkatnya wajahku menatapnya dengan sebelah tangannya sedangkan sebelah tangannya yang lain memegang anak panah yang menancap di tubuhku.
Pandangan mataku terjatuh pada Zeki yang terlihat menggerakkan sedikit kepalanya. Aku menjerit, kepalaku seakan ditampar oleh sesuatu saat perempuan berambut pirang itu menarik tiba-tiba anak panah yang menembus pundakku...
Pandangan mataku sedikit mengabur, kutatap Zeki yang telah mengangkat kepalanya menatapku. Aku menggigit kuat bibirku sembari kepalaku bergerak tanpa sadar menatap ke atas saat perempuan berambut pirang itu mengarahkan telapak tangannya menekan luka panah di pundakku itu.
Suara gemerincing rantai kembali terdengar, kali ini lebih sering bahkan lebih keras dibanding sebelumnya. Aku menggerakkan kepalaku perlahan saat kudengar suara benda jatuh yang kuat terdengar...
Kutatap Zeki yang menggantung dengan sebelah tangannya diikat, sedangkan sebelah tangannya yang lain menjulur ke bawah diikuti rantai panjang yang menyentuh tanah. Zeki menggerakkan kepalanya menoleh ke arah kami, tangannya kembali bergerak dengan kuat berusaha memutuskan rantai satunya yang mengikat tubuhnya.
"Lepaskan dia! Atau aku, akan membunuh kalian semua!" Ucap Zeki kembali menggerakkan tangannya menggoyang-goyangkan rantai yang mengikat tangannya.
__ADS_1
Sedikit kugerakkan kakiku menghentak tanah, tubuhku jatuh ke belakang... Bunyi suatu benda patah sekilas terdengar diikuti semakin dalamnya dua panah yang ada di belakang punggungku menancap. Belum sempat aku beranjak dari atas tubuh perempuan yang memegang tanganku tadi...
Perempuan berambut pirang itu telah menarik rambutku, kuarahkan telapak tanganku menggenggam lengannya sembari tubuhku sedikit demi sedikit beranjak berdiri di hadapannya. Berkali-kali kurasakan pukulan kuat diayunkan perempuan berambut pirang itu di kepalaku.
Kugenggam telapak tangan kananku sembari kuarahkan genggaman tanganku tadi memukul kuat perut perempuan itu. Dia mundur ke belakang seraya melepaskan cengkeramannya di rambutku.
"Sachi!" Teriakan Izumi memanggil namaku ikut menggema di tempat ini, aku berjalan ke pinggir sembari mataku menatap ke arahnya yang tengah menatapku dengan wajah pucat pasi dari kejauhan.
Perempuan berambut pirang tadi kembali berjalan menyusul langkah kakiku. Kutundukkan kepalaku sembari sebelah telapak tanganku sedikit menekan luka akibat panah di pundakku.
Suara perempuan kembali berteriak dengan kata-kata yang tak aku mengerti. Perempuan berkulit hitam itu melangkah mendekatiku diikuti suara teriakan dari perempuan berambut pirang tersebut...
Apa ini? Apa itu panah beracun?
Semakin aku batuk, semakin banyak juga darah yang keluar memenuhi telapak tanganku tadi. Sebuah suara benda jatuh tiba-tiba terdengar di telinga diikuti gemerincing suara rantai yang semakin jelas terdengar.
Rasa dingin bercampur kesemutan semakin menjalari setiap jengkal tubuhku. Tubuhku jatuh tersungkur ke depan... Apa mereka memanggil namaku? Apa yang kedua Kakakku teriakkan?
Sakit, tubuhku terasa digerogoti dari dalam. Rasa panas di dalam perutku semakin menjadi-jadi, kubuka sedikit kedua mataku saat kurasakan sesuatu menyentuh pelan pipiku...
Bayangan hitam itu merangkul tubuhku diikuti rasa hangat menyentuh leherku. Aku melirik ke arah Zeki yang mendekatkan wajahnya ke luka bekas panah tadi, kurasakan sesuatu nan hangat menyentuhnya dengan sebuah isapan kuat di tempat yang sama.
__ADS_1
"Sialan! Apa yang kalian lakukan pada Adikku!"
"Bertahanlah Sa-chan! Kakakmu ini memohon bertahanlah," suara Haruki ikut menimpali teriakan Izumi. Aku melirik ke arah mereka yang tengah duduk dengan kedua tangan mencoba menarik rantai yang mengikat kedua kaki mereka.
"Sachi," bisiknya pelan di telingaku, ikut kurasakan air hangat mengalir jatuh di wajahku.
"Aku akan membawamu pergi dari sini apapun yang terjadi, jadi... Bertahanlah sedikit lagi, kau mendengarku?" bisikan itu kembali terdengar diikuti tubuhku yang terangkat dengan suara rantai yang mengikuti.
____________________
Aku kembali membuka kedua mataku perlahan, aku menggerakkan pandangan mataku ke sekitar, aku tidak tahu di mana ini... Akan tetapi, ukiran-ukiran pada batu yang mengelilingi ruangan ini terlihat sangat indah.
Aku mencoba beranjak tapi gagal, rasa sakit saat aku mencoba menggerakkan tubuhku seakan membelah otakku menjadi dua. Aku melirik ke arah kanan, betapa terkejutnya aku... Melihat Zeki yang tengah tertidur dengan tubuhnya bersandar di kepala ranjang .
Apa yang terjadi? Bukankah aku sudah hampir mati kemarin?
Kugigit pelan bibirku saat aku berusaha menggerakkan tangan kananku, kuangkat tanganku tadi sembari kuarahkan dengan sangat perlahan meraih lengannya yang ia silangkan di dada.
Kedua mata Zeki, terbuka perlahan. Pandangan matanya itu menoleh menatapku, Zeki tertunduk dengan sebelah tangannya menutupi matanya. Ia mengangkat kembali kepalanya, menatapku dengan kedua matanya yang memerah. Diraihnya telapak tanganku tadi olehnya sembari lama ia menciumi telapak tanganku tadi.
"Aku akan mengabari kedua Kakakmu," ucapnya dengan pelan menuruni tanganku tadi di kasur, Zeki beranjak berdiri lalu melangkah berjalan meninggalkan.
__ADS_1