
“Zeki,” aku kembali menoleh ke arahnya, “jelaskan padaku seperti apa isi perjanjiannya,” sambungku lagi padanya.
“Perjanjiannya hanya bertuliskan, jika kami harus menyembunyikan kebenaran yang ada di dalam hutan. Jika tidak, Kaisar akan menghancurkan Kerajaan kami hingga tak bersisa,” Zeki berhenti sejenak, “maaf, aku menyembunyikan hal ini darimu,” sambungnya dengan kembali menatap lurus ke depan.
“Apa ada lagi hal yang tidak aku ketahui?”
Zeki menggelengkan kepalanya, “tidak ada,” jawabnya padaku.
Aku beranjak berdiri dengan melangkahkan kaki menjauhinya, “mau ke mana kau?” Tukas suaranya terdengar dari belakang.
Aku mengangkat sebelah tanganku ke atas, “menenangkan diri. Aku butuh menenangkan diri,” ucapku tanpa menoleh ke arahnya.
Kedua kakiku berhenti, “buka pintunya!” Suaraku meninggi, pintu berdaun dua yang ada di hadapanku itu terbuka perlahan.
Langkahku kembali bergerak, bahkan semakin cepat menuruni anak tangga yang ada di hadapan, “Putri,” langkah kakiku lagi-lagi berhenti, kugerakkan wajahku menoleh ke arah Costa yang masih berdiri menunggu.
“Aku baik-baik saja,” ungkapku kembali melanjutkan langkah meninggalkan tempat itu.
“Hime-Sama,” suara laki-laki terdengar berulang di belakang.
“Kalian tidak perlu mengikuti aku, aku hanya akan berkeliling sebentar,” ucapku dengan terus menatap ke depan.
“Hime-Sama!" Langkah kakiku terhenti saat suara bentakan laki-laki mengetuk telinga, kugerakkan kepalaku menoleh ke belakang menatap mereka berdua yang masih mengikuti.
“Oi Makoto,” ucap Arata menarik lengannya saat laki-laki itu bergerak mendekat, “aku tahu jika Putri yang kami layani mempunyai hati yang baik. Tapi, bukan berarti kau harus menahan diri dan memaklumi semua yang mereka lakukan padamu!” Aku terhentak kaget saat dia berteriak mengeluarkan kata-kata tersebut.
Aku tertunduk dengan tertawa mendengar apa yang ia katakan, semakin lama suara tawa yang aku keluarkan beralih menjadi tangis tertahan, “terima kasih, tapi aku sungguh baik-baik saja,” ungkapku kembali menatap mereka, kugigit kuat bibirku yang gemetar itu.
“Kalian dapat menyusul kembali Daisuke jika ingin,” ungkapku berbalik membelakangi mereka, aku mendongakkan kepalaku ke atas, “Kou, datanglah! Aku membutuhkan bantuanmu,” ucapku dengan pelan memanggil namanya sebelum aku kembali menundukkan kepala.
Baik Makoto maupun Arata memundurkan kedua kaki mereka ke belakang beberapa langkah, mereka berdua menarik pedang yang ada di pinggang ke depan, “tenanglah, itu Naga milikku,” ucapku tersenyum lalu berbalik melangkahkan kaki meninggalkan mereka.
“Kou,” tukasku mengangkat telapak tanganku menyentuh lehernya ketika kepalanya mendekat ke arahku, “maaf, aku mamanggilmu untuk sesuatu yang tidak begitu penting,” ucapku lagi padanya diikuti kedua tanganku yang memeluk lalu mengusap-usap lehernya itu.
“Apa yang harus aku lakukan, My Lord?” Ungkapnya, Kou kembali menarik kepalanya menjauh dengan kedua matanya masih menatap ke arahku.
“Aku ingin berkeliling, memeriksa keadaan sekitar,” ucapku sedikit bergerak mundur ke belakang.
Kou menggerakkan tubuhnya duduk di hadapanku, kedua kakiku bergerak mendekatinya lalu beranjak menaiki punggungnya, “Hime-Sama,” aku kembali menoleh ke arah mereka, saat suara Arata bergerak memanggilku.
“Apa kalian berdua ingin ikut bersamaku?” Tanyaku dengan tetap menatapi mereka yang saling melirik satu sama lain.
__ADS_1
“Mendekatlah,” ucapku lagi dengan melambaikan tangan ke arah mereka.
Arata dan Makoto berjalan mendekati, pedang yang ada di tangan mereka sudah kembali menyelip di masing-masing pinggang mereka. Aku sedikit melirik ke belakang saat mereka berdua telah beranjak duduk di belakangku.
Kou mengepakkan sayapnya hingga beberapa pepohonan yang ada di taman Istana bergoyang karenanya. Kupeluk erat lehernya saat dia telah membawa kami ke udara, “bagaimana rasanya ketika terbang?” Tanyaku dengan berusaha melirik ke arah mereka yang duduk di belakang.
“Menakjubkan,” suara Arata menimpali perkataanku, aku sedikit tersenyum kecil mendengarkannya.
“Orang-orang yang ada di bawah, terlihat sangat kecil,” ucap Arata kembali terdengar.
“Tutup mulutmu, Arata! Apa kau tidak bisa tenang sedikit?!”
“Ada apa Makoto? Apa kau takut terbang?” Arata lagi-lagi bersuara di belakangku.
“Diamlah, atau aku akan melemparkanmu dari atas sini,” ungkap Makoto yang menimpali perkataannya.
“Hime-Sama, aku tidak tahu … Jika, kau memiliki hewan menakjubkan seperti ini.”
“Kau jangan melupakan Kaisar, Kaisar pun memiliki hewan yang sama,” tukasku menimpali perkataan Arata.
“Kaisar?”
“Naga milikku dapat mengeluarkan es, sedangkan naga milik Kaisar dapat mengeluarkan api dengan napasnya. Naga itulah, yang menyerang Kerajaan kita beberapa bulan yang lalu,” sambungku lagi kepada mereka.
“Kekuatan Naga itu menakjubkan, jangan meremehkan makhluk sepertinya jika kalian tidak ingin kehilangan nyawa sia-sia,” aku memotong perkataan Arata kembali.
“Tapi engkau dahulu dapat mengalahkannya lalu membebaskan kami, Hime-Sama.”
“Aku hanya menghancurkan inti sihir tempat itu, aku tidak akan bisa mengalahkan makhluk itu sendirian. Yang ada, tubuhku akan langsung ditelan hidup-hidup olehnya.”
“Syukurlah, aku dulu memilihmu untuk ikut bersama kami Makoto.
“Semuanya karena Tsubaru, Hime-Sama. Dia mengirimkan kabar kepadaku dari Yang Mulia untuk mengawasi kalian. Di surat itu juga, terdapat informasi bahwa aku harus menjadi laki-laki yang menyedihkan agar aku dapat dekat dengan Putri yang ia besarkan. Karena itu, terciptalah sosok Arion.”
“Maaf, jika saja aku membantu kalian, mungkin kesulitan yang kalian hadapi akan sedikit berkurang. Akan tetapi, perintah tetaplah perintah … Aku masihlah harus menjadi mata-mata di Kekaisaran, jika aku membeberkan identitas dengan menunjukkan kemampuan bela diri, semua usahaku akan sia-sia. Walaupun, aku tak mempermasalahkan untuk membongkar identitas jika terjadi sesuatu yang buruk kepada kalian,” ucapnya yang kembali terdengar di telinga.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti dengan apa yang terjadi. Lagi pun, kita semua dapat keluar dari hutan dengan keadaan baik-baik saja,” ucapku menimpali perkataannya.
“Kalian,” ucapku lagi, aku berbalik berusaha menatap mereka, “apa kalian berdua membawa uang?” Lanjutku sebelum kembali menatap lurus ke depan.
“Uang? Kapten yang menyimpan semua uang kami,” ucap Arata terdengar.
__ADS_1
“Karena beberapa dari kami akan langsung membuat keributan terutama jika telah berkumpul bersama, karena itu … Kapten membawa semua uang kami bersamanya,” Makoto menimpali perkataan Arata.
“Apa Daisuke sangatlah menakutkan?”
“Hime-Sama, jangan katakan … Kau belum pernah melihat Kapten bertarung?” Aku menggelengkan kepala menanggapi perkataan Arata yang menyentuh telingaku.
“Dia bukanlah manusia ketika marah. Aku tidak ingin mencari masalah dengannya baik itu sekarang atau untuk kedepannya,” Ungkap Arata kembali padaku.
“Lalu, apa kalian mengetahui, di mana aku bisa bertemu dengan Daisuke sekarang?”
“Mereka mungkin sedang bersembunyi di hutan yang ada di Utara, karena sebenarnya kami berniat untuk menghabisi para Kesatria yang berjaga di perbatasan yang ada di Utara.”
“Tunjukkan aku di mana tempatnya!”
Kou bergerak mengikuti ucapanku saat Makoto memimpin menunjukkan arah dengan ucapannya, saat dia berkata belok, maka aku akan mengulanginya, dengan menggunakan bahasa Inggris, “Daisuke!” Aku berteriak memanggilnya saat aku menatap bayangan mereka yang tengah berjalan menyusuri hutan.
Daisuke dan keempat laki-laki lainnya mendongakkan kepalanya ke atas, “Putri?”
“Hime-Sama.”
“A-a-apa? Makhluk apa itu?” Tukas mereka bergantian menatapi kami.
“Daisuke, aku membutuhkan uang, apa kau mempunyai uang?!” Aku sedikit berteriak agar mereka dapat mendengarkan suaraku.
“Hime-Sama, kenapa engkau mengajak dua orang itu terbang bersama dan bukan aku,” pandangan mataku menoleh ke arah Sano yang mengangkat kedua tangannya ke atas.
“Tutup mulutmu, Sano!” Daisuke membentaknya diikuti tendangan kuat yang ia lakukan, hingga tubuh laki-laki itu jatuh tersungkur ke depan.
“Kapten, aku tahu jika tendanganmu itu adalah yang terbaik. Tapi, aku sungguh-sungguh ingin menaiki makhluk itu sekarang!” Dia balas berteriak dengan menunjuk ke arah kami.
Mereka perlahan berjalan mendekat saat Kou menginjakkan kakinya ke tanah, “untuk apa kau membutuhkan uang, Putri?” Tukas Daisuke membalas tatapanku.
Aku sedikit melirik ke arah empat orang wakil kapten yang mengangkat tangan mereka menyentuh Kou, “ada sesuatu yang harus aku lakukan. Daisuke, kumohon … Lagi pun, ada Arata dan juga Makoto yang akan menjagaku,” ucapku dengan tersenyum menatapnya.
Daisuke menghela napas dengan sebelah tangan bergerak ke dalam pakaian yang ia kenakan, “aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan, Putri. Tapi, pikirkan batas kemampuan tubuhmu sendiri,” ucapnya dengan meletakkan kantung kulit yang ia ambil dari balik pakaiannya ke telapak tanganku.
“Aku mengerti, kami akan segera kembali sebelum malam tiba.”
“Oi Sano, apa yang kau lakukan?” Aku menoleh ke belakang, kedua mataku sedikit membesar saat kutatap Sano yang telah duduk di belakang Makoto.
“Membantu menjaga Putri kita yang tercinta,” jawabnya dengan menunjuk ke arah depan. “Sano, turun sekarang juga atau aku akan memenggal kepalamu!” Daisuke kembali meninggikan suaranya.
__ADS_1
“Jika kau tidak keberatan Daisuke, sebenarnya aku membutuhkan satu orang lagi untuk menemaniku,” ucapku ketika Kou mulai kembali beranjak berdiri, “tapi sebenarnya yang ingin aku ajak adalah Nao,” ucapku dengan melirik ke arah seorang laki-laki yang berdiri di samping Daisuke.
“Tapi itu bukanlah masalah yang besar,” aku masih menatapi mereka ketika Kou telah kembali terbang di atas kepala mereka, “terima kasih untuk uangnya Daisuke. Aku akan pergi ke Kerajaan Rhys dengan membawa mereka, katakan kepada kedua kakakku … Aku akan pulang dalam beberapa hari!” Aku berteriak diikuti kepakan kuat sayap Kou yang dengan sekejap membawa kami berempat mendekati langit.