Fake Princess

Fake Princess
Chapter LIII


__ADS_3

"Ambil ini?" ucap Raja Ismet seraya menyerahkan sebuah kalung terbuat dari anyaman tali dengan sebuah batu giok berwarna biru bermotif layaknya sebuah mata tepat ditengah-tengah batu giok biru tersebut.


"Itu dinamakan nazar boncuğu atau biasa kami sebut mata iblis. Sebuah simbol keberuntungan di Kerajaan kami, itu akan melindungimu dari bahaya." Sambung Raja Ismet menatapku


"Terima kasih." Ucapku membungkukkan tubuh ke arahnya, kukenakan kalung pemberiannya tadi ke leherku.


"Hari ini aku umumkan, Putri Takaoka Sachi. Tunangan dari Putraku, Pangeran Zeki Bechir. Sebagai pemenangnya." teriak Raja Ismet yang disambut riuh tepuk tangan dari arah belakangku


Pertandingan telah berakhir, Raja Ismet sendiri telah beranjak kembali ke Istana. Beranjak aku dari tempatku berdiri sebelumnya, tampak terlihat Julissa yang berlari cepat ke arahku...


"Sachi." Ucapnya yang langsung memelukku


"Kau keren sekali. Aku tidak tahu jika kau bisa bela diri dan juga memanah. Aku sampai terpukau melihatnya, andaikan kau laki-laki... Aku rela menjadi selirmu." Sambungnya, ditutupnya seluruh wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya


"Jangan mempermalukan dirimu sendiri." Tukas seorang laki-laki seraya memukul kepala Julissa, laki-laki yang tak lain dan bukan ialah Ayahnya sendiri


"Maafkan aku, Ayahanda." Ucap Julissa diam seketika, digenggamnya kedua tangannya tadi dengan kuat


"Aku tidak tahu kau berteman akrab dengan Putriku." Ucapnya lagi seraya menatapku


"Kami berteman sejak acara pertunangan, tiga tahun yang lalu." ucapku balas menatapnya


"Putri." terdengar suara Tsubaru dari arah belakangku


"Ada apa? Apa ada masalah?" tukasku berbalik menatapnya


"Kami baru saja mendapatkan surat dari Pangeran Haruki."


"Benarkah?" ucapku yang dibalas anggukan kepalanya


"Kalau begitu, kami permisi dahulu." ucapku seraya membungkukkan tubuh ke arah Ayahnya Julissa


"Sampaikan kepada Ayahmu, aku ingin sekali bertemu dan berbincang dengannya."


"Aku mengerti, akan aku sampaikan kepadanya."


Berjalan aku dan Tsubaru melewati Julissa dan Ayahnya, melangkah kami menuju ke arah kerumunan para Kesatria ku. Tampak sebuah burung besar berwarna putih bertengger di lengannya Kazuya, terlihat juga sebuah lipatan kertas yang terikat dengan benang merah di kaki burung tersebut...


Dibuka ikatan yang ada di kaki burung tersebut oleh Kazuya, diambil dan diserahkannya lipatan kertas tersebut padaku. Kubuka lipatan kertas tersebut untuk sekedar melihat isi di dalamnya...


Apa berada di Kerajaan tunanganmu membuatmu sangat betah berlama-lama disana? Cepatlah kembali, atau aku akan mengambil semua perhiasan yang kau sembunyikan.

__ADS_1


Aku ingin menangis saat ini juga, ini bahkan belum sampai sehari aku sampai kesini. Perhiasanku, harta-harta ku yang berharga, aku akan menyelamatkan kalian...


"Tsubaru, acara pesta nya dilangsungkan malam ini bukan?" ucapku mengalihkan pandangan kepada Tsubaru, dibalasnya perkataanku tadi dengan anggukan kepala darinya


"Besok pagi kita akan langsung kembali. Jadi kalian semua, berisitirahat lah yang banyak untuk sekarang. Aku tidak ingin kalian jatuh sakit akibat kelelahan." ungkapku seraya menatap mereka satu persatu


"Dan kau juga Tsubaru, berisitirahat lah terlebih dahulu. Aku juga ingin beristirahat sebentar, dan kembalilah nanti untuk membantuku bersiap-siap." Tukasku menatapnya


"Aku mengerti."


___________________


Kulangkahkan kakiku menuju ke sebuah kamar yang ditunjukkan Tsubaru sebelumnya padaku. Tampak terlihat dari jauh, Zeki yang berdiri di depan pintu kamar dengan kedua tangannya yang menyilang ke dada.


Menoleh ia ke arahku, berbalik dan berjalan ia mendekatiku. Duduk ia di atas bangku terbuat dari batu yang ada di dekatku, ditepuk-tepuk nya telapak tangannya ke atas bangku tersebut. Berjalan dan duduk aku disampingnya...


"Kau bisa bela diri? dan juga memanah?" tukasnya dingin tanpa menoleh ke arahku


"Sejak kapan?"


"Aku mulai mempelajarinya sejak usiaku tiga tahun."


"Heh, pantas saja cengkraman tanganmu di kerah bajuku dulu terasa kuat."


"Eh? lalu?" tanyaku bingung menatapnya


"Apa lagi yang kau coba sembunyikan dariku?"


"Tidak ada." ucapku singkat


"Apa kau sadar? apa yang kau lakukan tadi sangat berbahaya."


"Aku sungguh-sungguh tidak bisa menahan diri tadi. Jadi, begitulah... semuanya terjadi begitu cepat."


"Apa kakimu sendiri baik-baik saja?"


"Tentu. Lihatlah!" tukasku seraya ku hentakan kakiku berulang kali ke lantai


"Dan besok pagi, aku akan langsung kembali ke Kerajaan ku."


"Kau baru saja sampai." ucapnya menatapku

__ADS_1


"Aku tahu, tapi aku baru mendapatkan kabar bahwa ada masalah yang terjadi di Kerajaan."


"Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau pikirkan." ucapnya lagi


"Aku lelah..." ucapku tertunduk


"Baiklah, kalau begitu beristirahat lah." ucapnya beranjak


"Bukan itu maksudku, duduklah kembali. Dan berbaliklah ke arah sana." ucapku seraya kuputar tubuhnya hingga membelakangi ku yang tengah duduk di sampingnya


"Aku lelah menjadi sosok lain yang bukan diriku..." ucapku, kusandarkan kepalaku di bahunya


"Memasang senyum palsu di saat aku ingin sekali menangis, atau bersikap sok kuat di saat aku ingin sekali dirangkul. Aku hanya ingin, menunjukan emosiku yang sebenarnya pada mereka yang aku anggap berharga..."


"Keluargaku sudah terlalu banyak menderita, kami mendukung satu sama lain dengan menyembunyikan luka di hati kami masing-masing..."


"Katakan Zeki, apa kau percaya bahwa luka akan berangsur sembuh seiringnya waktu?"


"Aku percaya." ucapnya, disandarkannya kepalanya di atas kepalaku


"Tidak apa-apa jika kau ingin sekali menangis, tidak apa-apa jika kau merasa frustasi, tidak apa-apa jika kau bersikap palsu di hadapan semua orang, aku akan tetap menerimamu..."


"Kita telah berjanji satu sama lain akan hal itu, tiga tahun yang lalu." ucapnya lagi, ditepuknya kepalaku pelan


Kubuka kedua mataku pelan, kuusap kedua mataku yang masih terasa berat tadi. Kuangkat kepalaku yang terasa nyeri, tampak terlihat punggung Zeki yang masih membelakangi.


Aahh benar, aku tertidur ketika tengah berbicara dengannya...


"Kau harusnya membangunkan ku." ucapku, kutepuk pelan punggungnya


"Aku tidak tega melakukannya. Lihatlah, kau membalaskan dendam mu dengan membasahi pakaianku." ucapnya, diarahkannya jari telunjuknya ke sebuah bercak iler yang aku buat di punggungnya


"Maaf." ucapku tertunduk


"Berisitirahat lah di kamarmu..." ucapnya beranjak, ditepuknya kembali kepalaku


"Berpura-pura bahagia lebih menyita tenaga, dibandingkan melepaskan kesedihan itu sendiri. Berisitirahat lah, aku akan menjemputmu kembali ketika acara pestanya akan dimulai."


"Terima kasih, Darling." ucapku tersenyum ke arahnya


"Kochira koso..."

__ADS_1


"Darling." sambungnya seraya balik tersenyum menatapku


__ADS_2