
“Apa yang kalian bicarakan?”
Aku mengangkat wajahku menatap Izumi yang berjalan mendekat dengan seekor ikan di kedua tangannya, “bukan apa-apa. Kami hanya sedang memikirkan, bagaimana caranya menjual kembali semua ikan ini sebelum membusuk,” tukas Haruki yang juga turut menatap Izumi.
“Apa kita harus menjualnya? Kita bisa meninggalkannya saja di sini,” sahut Eneas yang telah mengangkat sebuah pedang dari ikan yang dipegang oleh Ryuzaki.
“Jika kita menelantarkan semua ikan ini dan membuatnya membusuk. Hal itu akan membuat mereka yang ada di sekitar sini curiga, dan bukan hanya itu … Jika para nelayan dicurigai, Kacper akan kesulitan mencarikanku informasi lagi. Aku tidak ingin hal itu terjadi,” ungkap Haruki yang kembali mengarahkan sebuah pedang ke arahku.
Aku mengangkat tangan meraih pedang tersebut dari tangannya, “kalau begitu, kita tidak bisa menunda waktu. Semakin cepat kita menjualnya, semakin cepat juga kita dapat melanjutkan rencana kita,” Haruki menganggukkan kepalanya saat perkataanku selesai terucap.
“Jadi Izumi, buka kayu besar yang menjadi jendela di dekat pintu. Kita akan mulai menjual semua ikan ini sekarang. Eneas dan Ryu, kalian bantu Izumi untuk menarik pembeli datang ke sini!”
“Kami?”
“Aku?” tukas Eneas dan juga Izumi secara bersamaan.
Haruki beranjak berdiri dengan melirik ke arah mereka yang duduk berjongkok mendongakkan kepala menatapnya, “kenapa? Apa kalian merasa tidak percaya diri? Kalian Pangeran, bukan? Bagaimana bisa seorang Pangeran tidak pandai mengatur kata-kata,” tukas Haruki kepada mereka secara beruntun.
“Lakukan perintah dariku sekarang! Jangan banyak mengeluh!” sambung Haruki kembali yang membuat mereka tak mengeluarkan suara apa pun lagi.
Aku menarik tong berisi ikan mendekati jendela terbuka yang ada di dekat pintu, kuangkat satu per satu ikan yang ada di dalam tong kepada Izumi yang berdiri di depan jendela. Izumi meletakkan ikan-ikan tersebut ke atas keranjang yang ada di atas meja yang mereka dapatkan di belakang rumah. “Menjengkelkan sekali,” gerutu Izumi, wajahnya masih tertunduk dengan kedua tangannya bergerak menyusun rapi ikan-ikan tadi.
Aku berjalan menarik tong yang sebelumnya aku bawa ke sudut ruangan sebelum aku berbalik mendekati Haruki yang tengah menabur garam ke dalam tong, “nii-chan, apa kau yakin? Memerintah mereka untuk menarik pembeli?”
__ADS_1
Haruki memasukkan tangannya ke dalam tong berisi ikan yang sebelumnya ia taburkan garam, “mereka Pangeran, suatu saat … Mereka akan memimpin suatu Kerajaan. Seorang Raja, haruslah cakap. Setidaknya, mereka harus pandai berbicara agar ketika rakyat mereka tengah mengalami keraguan, mereka dapat menenangkannya.”
“Dan, bukan hanya itu … Saat perang nanti, mereka akan memimpin banyak sekali pasukan. Jika mengeluarkan suara saja enggan, bagaimana mereka dapat melakukannya nanti,” sambung Haruki, dia manarik napas dalam sebelum beranjak berdiri.
“Keluarkan suara kalian! Apa pembeli akan datang jika kalian hanya berdiam diri seperti itu?!” bentak Haruki sambil menunjuk ke arah Izumi dan juga Eneas yang berdiri tertunduk di dekat jendela.
“Mana suaramu, Izumi! Apa kau telah berubah menjadi pengecut sekarang?!”
“Cerewet! Ini dan itu adalah sesuatu yang berbeda!” Izumi balas berteriak dengan menatap ke arah kami dari luar jendela.
Haruki menghela napas sambil mengarahkan kantung kulit berisi garam kepadaku, “aku menyerahkan semua yang ada di dalam kepadamu, Sa-chan. Ketiga saudara bodohmu itu, benar-benar tidak bisa diharapkan untuk ini,” sambung Haruki, dia berjalan ke luar rumah saat aku telah meraih kantung kulit yang ada di tangannya.
______________.
“Aku lelah sekali,” timpal Eneas yang duduk bersandar di dekat pintu.
“Ada apa dengan Ryu?” tanyaku dengan menunjuk ke arah Ryuzaki yang berdiri tertunduk di dekat Eneas.
“Beberapa laki-laki yang membeli, mengira jika dia perempuan. Dia, kemungkinan sekarang, sedang berusaha mengendalikan diri karena sebelumnya beberapa laki-laki itu sempat memegang tubuhnya.”
“Sachi!”
“Ryu!” Aku ikut meninggikan suara ketika bisikan Lux terdengar dari tas yang aku bawa, “jangan menggunakannya! Kendalikan dirimu!” sambungku kembali padanya.
__ADS_1
“Aku telah membuntuti mereka, tenang saja … Tidak ada yang tahu, jika mereka akan mati karenaku,” tukas Ryuzaki sambil mengangkat wajahnya menatapku.
“Ryu, satu kesalahan yang kau buat, bukan hanya akan merugikan dirimu sendiri, tapi juga mereka,” ucap Haruki sembari membuang pandangannya ke arahku.
Ryuzaki menarik napas sebelum dia membuang pandangannya ke samping, “baiklah,” ungkapnya, wajahnya masih berpaling dengan kedua tangannya yang bersilang.
“Apa kau yakin? Kita tidak perlu menguncinya?”
“Tidak perlu, laki-laki sebelumnya akan datang dalam beberapa hari untuk tinggal di sana. Yang harus kita lakukan sekarang hanya mencari penginapan, lalu membersihkan tubuh kita sebelum melanjutkan rencana,” tukas Haruki, dia kembali berbalik dengan melangkahkan kakinya menjauh.
Aku ikut berbalik, berjalan menyusul di belakangnya. Sesekali aku mengangkat tanganku memukul pinggang, dua hari sudah kami menjual ikan-ikan tersebut tanpa henti … Kami, benar-benar tidak beristirahat sejak meninggalkan desa nelayan itu. Seluruh tubuhku terasa berat untuk digerakkan, bau amis dan rasa lengket yang juga menempel di tubuh, membuatku enggan untuk menghisap aroma tubuhku sendiri.
“Aku tidak peduli kita tinggal di mana, aku benar-benar ingin membaringkan tubuh sekarang, nii-san.”
“Eneas, kau mewakili perasaanku,” sahutku menimpali perkataannya yang berjalan sedikit membungkuk di sampingku.
“Aku mengerti rasa lelah kalian, kita memang tidak beristirahat yang cukup sejak meninggalkan tempat itu. Bersabarlah, setelah kita menemukan tempatnya, kalian dapat langsung beristirahat,” ungkap Haruki, dia terus melangkah maju tanpa sedikit pun menoleh.
“Apa kau yakin, akan ada penginapan yang akan menerima kita? Maksudku, cobalah lihat ke sekitar!”
Aku turut mengarahkan pandangan ke sekitar saat gumaman Izumi terdengar dari arah belakang. Kutatap, beberapa orang yang lewat, menghentikan langkah mereka sejenak lalu melangkah menghindar dengan menutup hidung mereka saat kami berjalan mendekati mereka. “Apa mereka tidak sadar? Tanpa ada yang menangkap ikan lalu menjualnya kepada mereka, apa mereka dapat memakan ikan-ikan itu setiap kali mereka ingin memakannya. Sialan, aku ingin sekali rasanya melepas pakaianku ini, lalu membekapnya ke wajah mereka satu per satu.”
Aku tertunduk, menutup mulutku menggunakan telapak tangan, berusaha sekuat mungkin agar tidak tertawa saat suara menggerutu dari Izumi terdengar. “Izumi, kau menggerutu terlalu keras, lihatlah! Mereka semua jadi mengawasi kita,” timpal Haruki, langkah kakinya terus berlanjut tanpa mempedulikan lirikan-lirikan tajam yang mengarah kepada kami.
__ADS_1
“Aku tidak peduli. Lebih bagus jika mereka dapat mendengarnya, lagi pun … Dilihat dari mana pun, mereka hanyalah para pengecut yang hanya berani bersembunyi dalam kelompok. Dengan bau amis ikan saja mereka tidak tahan, bagaimana mungkin mereka memiliki nyali untuk melawan kita,” sambung Izumi, kali ini suaranya semakin jelas terdengar dari sebelumnya.