Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCX


__ADS_3

Kedua mataku kembali terbuka saat kurasakan usapan lembut yang menyentuh kepalaku berulang-ulang. Bayangan hitam yang ada di hadapanku itu tampak sedikit mengabur di pandangan.


"Sa-chan," ucap suara itu, usapan lembut di dahiku beralih menyusuri pipi.


"Haru-nii," ucapku pelan sembari kugerakkan kedua mataku berkedip beberapa kali.


"Syukurlah kau baik-baik saja," ucapnya tersenyum menatapku, tampak terlihat getaran kecil terukir di ujung bibirnya.


"Nii-chan, apa yang terjadi?" Ucapku kembali dengan sangat pelan, masih kurasakan seluruh tubuhku yang terasa lemah hanya untuk menggerakkan tubuh.


"Ratu, menyelamatkanmu," ucapnya pelan padaku.


Ratu? Aahh, apakah yang dimaksud perempuan berkulit hitam itu?


Aku melirik ke kiri, perempuan berkulit hitam yang sosoknya sempat aku pikirkan sebelumnya telah berjalan lalu berdiri di samping ranjang. Perempuan itu tersenyum menatapku sembari ia melangkah mendekat lalu duduk di pinggir ranjang menatapku.


"Maafkan, atas sikap lancang rakyatku," ucapnya menundukkan kepalanya ke arahku.


Perempuan itu menyentuh dahiku, kurasakan rasa panas mengalir dari sentuhan yang ia lakukan. Aku menggerakkan tubuh ke samping, berkali-kali aku terbatuk-batuk diikuti darah berwarna kehitaman yang keluar hingga membasahi ranjang.


Perempuan itu beranjak berdiri, ia melangkahkan kakinya menghilang dari pandanganku. Ku tatap Izumi yang telah berdiri di hadapanku, Izumi mengarahkan sebuah kain kecil yang ada di tangannya menyapu wajahku.


________________________


Kedua mataku kembali terbuka, tidak seperti sebelumnya... Saat aku terbangun, tubuhku sudah sedikit dapat digerakkan tanpa rasa sakit. Aku kembali mengarahkan pandangan mataku ke kanan, tubuhku beranjak duduk sembari kugerakkan telapak tanganku menyentuh kepala Zeki yang tertidur bersandar di pinggir ranjang.

__ADS_1


"Aku ingin minum, bisakah kau mengambilkan airnya untukku?" Ucapku saat Zeki bangun menatapku, kuarahkan jari telunjukku ke arah sebuah teko yang tergeletak jauh dari ranjang.


Zeki beranjak berdiri lalu melangkah mendekati sebuah meja dengan teko dan deretan cangkir di atasnya. Zeki mengangkat teko tersebut lalu menuangkannya di atas salah satu cangkir yang ia pegang.


Zeki berbalik, melangkahkan kakinya kembali mendekati. Kuraih cangkir yang ada di tangannya, dengan perlahan kugerakkan bibirku mendekati bibir cangkir tersebut lalu meminum semua air yang ada di dalamnya.


"Zeki, apa kau dapat menjelaskan apa yang terjadi?" Ungkap ku kembali menatapnya.


"Saat kau sekarat, perempuan yang mereka panggil Ratu itu mendekati kita. Aku sempat mencekik lehernya saat tangannya menyentuh tubuhmu. Tapi, rupanya ia berusaha menyembuhkanmu, aku mengetahuinya saat luka yang ada di tubuhmu sedikit memudar saat ia menyentuhnya," ucapnya duduk di pinggir ranjang sembari meraih cangkir yang aku pegang.


"Apa kau mengetahui, di mana kita sekarang?"


"Ini salah satu kamar yang ada di Istananya Ratu, dan juga Haruki, Izumi maupun Aydin berada di kamar sebelah. Ia memintaku menjagamu, sembari mereka mencari semua informasi mengenai tempat ini," bisik Zeki saat dia mendekatkan wajahnya ke telingaku.


"Dan yang membuatku terheran, mereka bahkan memiliki banyak sekali Kesatria yang tak kalah dari Kesatria lainnya. Maksudku, saat Aydin tak sengaja melihat mereka berlatih. Aydin mengatakan, jika kemampuan bertarung mereka tak kalah dari para Kesatria yang ia lihat di Balawijaya dulu," ungkap Zeki kembali menjauhkan wajahnya dariku, kepalanya tertunduk seakan berusaha mengingat sesuatu.


"Lebih jelasnya, aku pikir Haruki yang lebih mengetahuinya. Kau bisa menanyakan semuanya nanti kepadanya," ucapnya kembali menatapku.


"Apa kau baik-baik saja?" Ucapku meraih lengannya, tampak sinar-sinar lilin yang memenuhi ruangan sedikit membantu mataku melihat bekas kemerahan di kedua pergelangan tangannya.


"Ini karena rantai sialan yang mengikatku kemarin. Aku tidak bisa berpikir jernih saat kau diperlakukan seperti itu oleh mereka," ucapnya mengusap-usap rambutku.


"Aku pun tak bisa berpikir jernih saat mereka hampir membunuh kalian. Bagaimana keadaan perempuan yang..."


"Perempuan yang menyiksamu itu?" Ucapnya memotong perkataanku, kutatap cangkir yang ada di tangannya telah remuk di genggamannya.

__ADS_1


"Aku tidak terlalu mendengar kabarnya. Akan tetapi, yang aku dengar jika dia sekarang sedang dipenjara. Karena hukum yang berlaku di sini, tidak memperbolehkan menyiksa perempuan terlebih lagi hampir membunuhnya walaupun perempuan itu adalah bukan penduduk asli di Kerajaan ini," ucap Zeki membuka telapak tangannya yang berisi pecahan cangkir tadi di pinggir ranjang.


"Perempuan itu, sama seperti kita... Dia terdampar di sini saat laki-laki yang ia cintai membuang ia ke lautan. Karena itu, ia selalu meyakinkan mereka jika laki-laki itu makhluk tak bermoral, bahwa laki-laki itu makhluk yang tak layak hidup..."


"Berhubung, para warga di sini bahkan Ratu tak pernah bertemu dengan satu laki-laki pun sebelumnya, langsung mempercayai ucapan yang perempuan itu katakan..."


"Tunggu dulu, darimana kau mengetahui semuanya?"


"Aydin, dia berkeliling menggoda banyak sekali perempuan untuk mendapatkan informasi. Banyak perempuan yang terdampar di sini sebelum kita, karena itulah Aydin dapat berkomunikasi dengan mereka..."


"Bahkan Ratu itu sendiri, masih mempelajari bahasa kita dari beberapa perempuan yang mereka selamatkan di lautan dulu..."


"Cukup, kita hentikan pembicaraan malam ini sampai di sini. Kau harus kembali beristirahat," sambungnya, sembari menarik selimut yang menutupi kedua kakiku.


"Berbaringlah," ucapnya lagi sembari kugerakkan tubuhku mengikuti perkataannya saat telapak tangannya menyentuh pundakku.


"Apa yang kau lakukan?" Ucapku menatapinya yang telah berbaring menyamping dengan sebelah tangannya memangku kepalanya.


"Aku juga butuh istirahat," ucapnya berbalik lalu membaringkan tubuhnya di sampingku.


"Maksudku, kenapa kau berbaring di sini?"


"Leherku terasa sakit karena selalu tidur duduk beberapa hari ini, jadi ya... Aku pun ingin tidur dengan berbaring untuk menghilangkan rasa sakitnya," ucapnya berbalik memeluk tubuhku yang tertutupi selimut.


"Aku hanya akan tidur, aku tidak akan melakukan apapun. Jadi, beristirahatlah," ucapnya memejamkan mata, kugerakkan sebelah tanganku mengusap rambutnya yang menyentuh hidungku.

__ADS_1


__ADS_2