
“Apa Lux sudah hidup ketika kejadian itu?” tanyaku dengan menundukkan kepala, “apa Lux ikut dalam pengusiran bangsa Elf?” sambungku kembali sambil mengangkat wajah menatap Kakek.
“Jika tidak. Jangan menyalahkan dia akan sesuatu yang tak dia perbuat. Yang salah hanya dia atau mereka yang melakukan kesalahan ketika itu, anak keturunannya … Tidak melakukan kesalahan apa pun. Dan juga, semua bangsa peri telah lenyap, hanya tinggal dia seorang … Dia bahkan sekarang berusaha untuk mengambil kembali Robur Spei dari Kaisar.”
“Bukankah, bangsa Elf yang seharusnya malu? Melalaikan kewajiban untuk menjaga Robur Spei, lalu menuding bangsa lain sebagai pengkhianat,” ucapku lagi, aku menghela napas sembari menggigit kuat bibir, “yang lebih penting, terima kasih atas bantuanmu Kakek. Terima kasih atas bantuan kalian semua,” lanjutku sambil kembali berjongkok mengangkat kepala Tsubaru yang masih tak sadarkan diri.
“Arata, Yuki. Bantu aku untuk membawa mereka berdua ke dekat pohon yang ada di sana. Setelah itu, bantu kami untuk menyiapkan tenda,” tukasku dengan melirik ke arah Arata dan juga Yuki yang juga duduk berjongkok di hadapanku, tepatnya di samping Tatsuya yang terbaring.
Aku meletakkan kepala Tsubaru di lengan Arata yang ada di dekatku, aku kembali beranjak berdiri lalu melangkah mundur ketika dia mulai beranjak dengan memapah Tsubaru di pundaknya. Aku berjalan maju mendekati Izumi yang telah berdiri di samping Haruki, “kita akan menginap di sini untuk malam ini, nii-chan,” ucapku, mereka berdua menoleh lalu menganggukkan kepala menatapku.
_________________.
Aku masih menatap mereka yang bercanda menjaga Tsubaru dan juga Tatsuya, “Ryu! Eneas! Berhenti bermain-main! Jika tenda itu roboh, tubuh kalian yang akan aku bekukan,” ucapku sambil mematahkan ranting yang ada di genggaman.
Kulemparkan ranting yang ada di tanganku itu ke dalam api unggun yang ada di hadapan, dengan tetap mengarahkan pandangan ke arah mereka yang saling tatap terdiam. “Sachi, apa kau pikir mereka akan menyukai makanan yang kita buat?” bisik Izumi, aku ikut mengarahkan pandangan ke arah tatapannya yang menuju ke arah Kakek, bibi dan juga Elf yang lain.
“Entahlah, apa kau tidak percaya diri dengan masakan yang kau buat, nii-chan?” Aku balas berbisik yang dengan seketika dibalas oleh senyuman darinya.
“Aku bahkan canggung untuk memanggilnya Kakek. Dia terlalu muda untuk dipanggil seperti itu,” Izumi kembali berbisik, aku segera mencubit pinggangnya saat kurasakan dedaunan tiba-tiba bergoyang tanpa angin yang meniupnya.
“Jaga bicaramu, nii-chan. Pohon, bahkan rumput yang kita injak bisa menjadi telinganya. Bagaimana jika dia mendengar kata-katamu tadi,” ucapku sembari melepaskan cubitanku di pinggang Izumi.
“Itu sebuah pujian, sangat aneh jika dia marah karena pujian,” balas Izumi, aku memperbesar kedua mataku, berusaha untuk menyuruhnya menutup mulut.
Aku menoleh ke belakang ketika sesuatu menyentuh punggungku, “Haru-nii,” tukasku dengan melirik ke arahnya yang melangkah lalu duduk di sampingku.
__ADS_1
“Kau melakukan kontrak paksa lagi? Kau tahu, risikonya bukan? Jangan lagi melakukannya,” ucap Haruki dengan menatap ke arah api unggun yang ada di hadapan kami.
“Aku, akan melakukannya jika kurasa dia makhluk yang berguna. Tujuanku hanya satu, memenangkan peperangan … Walau usiaku berkurang, walau salah satu anggota tubuhku hilang, yang harus aku lakukan hanya … Memenangkan peperangan dan mengalahkan Kekaisaran.”
“Pikirkan dirimu sendiri,” tukasnya sambil menoleh ke arahku.
“Aku sudah melakukannya. Aku melakukan ini semua juga hanya untuk melindungi diriku sendiri,” jawabku yang membuang pandangan darinya, kuambil ranting pohon yang ada di dekat kakiku lalu kulemparkan ranting pohon tadi ke api unggun.
“Sachi,” aku menoleh ke arah Izumi ketika suaranya terdengar diikuti tepukan menyentuh punggung.
Izumi menggerakkan wajahnya … Kugerakkan wajahku mengikuti arah tatapannya. Pandangan mataku terjatuh kepada bibi yang melambaikan tangannya di samping kakek, Aku beranjak berdiri, menepuk kedua telapak tangan dan juga bokong sebelum melangkah mendekatinya.
“Ada apa, bibi?” tanyaku, aku duduk di hadapannya ketika dia menepuk telapak tangannya ke tanah.
“Ryu!” pekik bibi lagi, kali ini lambaian tangannya beralih kepada Ryuzaki yang masih duduk di samping Eneas.
“Apa kau, menguasai sihir terlarang?”
Aku ikut melirik ke arah Ryuzaki ketika kakek juga melirik ke arahnya. “Siapa yang mengajarimu sihir itu? Apa nenekmu? Sudah berapa kali kau melakukannya?” tanya kakek secara beruntun kepada Ryuzaki.
“Jangan mengulanginya kembali,” sambungnya ketika Ryuzaki masih terdiam tak bersuara.
“Cukuplah nenek kalian yang kehilangan nyawa karena sihir tersebut. Aku tidak menyangka, jika kemampuan untuk menjaga Robur Spei diturunkan kepada kalian berdua.”
“Apa maksud Kakek?”
__ADS_1
“Pengorbanan, dan juga kesempatan. Robur Spei melambangkan itu semua … Pengorbanan, ada padamu dan juga Ibu. Sedangkan kesempatan, ada padaku,” tukas Ryuzaki menjawab perkataanku.
“Kau sudah memahami semuanya.”
“Nenek yang mengajariku tentang semua itu,” sambung Ryuzaki kembali membalas tatapan kakek.
“Sudah berapa kali kau melakukannya?”
“Entahlah, apakah itu penting? Sejak kapan, kau, kakek, begitu peduli kepada kami?”
“Bahkan saat Sachi memohon bantuanmu untuk menyelamatkan nyawa pasukannya, kau bersikap acuh tak acuh karena mereka adalah manusia. Dan apa kakek tahu, apa yang terjadi kepada Sachi selanjutnya?” Kedua mataku membesar, jantungku bergemuruh saat Ryuzaki mengeluarkan kata-kata itu.
“Sachi, menjadi tawanan pasukan musuh. Salah satu pasukan musuh yang mempercayai mitos mata hijau merenggut kehormatannya, kami menemukannya tak bernyawa dengan mulut, kedua tangan dan kaki yang terikat. Sachi kehilangan nyawanya, karena kami gagal menyelamatkannya,” ucapnya menatapku, kugigit kuat bibirku diikuti kedua mataku yang telah basah menatapnya.
“Itu terjadi, di dua kehidupan sebelum sekarang. Karena itulah, aku tidak bisa memaafkanmu, Kakek … Bahkan aku pun, tak bisa memaafkan diriku sendiri sebagai penyebab kematiannya di kehidupan sebelumnya,” sambung Ryuzaki, kepalanya tertunduk diikuti kedua tangannya yang menggenggam satu sama lain.
“Apakah salah kami, jika kami terlahir sebagai setengah manusia? Sebagai makhluk yang tak sempurna? Kami terlahir karena Ayah dan Ibu kami saling mencintai, apakah itu suatu kesalahan?”
“Ryu,” tukasku gemetar saat dia mengangkat lengannya mengusap mata.
“Aku, ingin mengubah masa depan saudariku, masa depan keluargaku. Jika kakek berniat menghalangi, Kakek akan menjadi orang pertama yang aku habisi. Tapi jika Kakek ingin mendukung, aku … Akan sangat berterima kasih.”
“Maafkan kakek, jika saja Kakek tidak egois untuk mengajak nenek kalian menikah. Kalian, mungkin tidak harus menanggung ini semua. Jika saja nenek kalian masih menjadi penjaga Robur Spei, kalian tidak akan menderita seperti ini.”
“Ayah.”
__ADS_1
“Apa yang Kakek katakan, tidak ada kata terlambat untuk membuka lembaran baru … Jika kakek tidak menikah dengan nenek, lalu ayah tidak menikah dengan ibu, kami berdua tidak akan lahir di dunia ini. Kakek, kakak dan adikku dari kalangan manusia ingin sekali mengenalmu … Apakah Kakek juga bersedia untuk mengenal mereka?” tanyaku sambil tersenyum menatapnya.