
Zeki menarik tanganku mendekati kerumunan, langkah kaki kami berdua berhenti di dekat Adinata dan juga Julissa, sambil kuarahkan pandangan mataku ke arah Eneas dan Aniela yang tengah berpegangan tangan di depan bara api bekas api unggun. “Apa yang mereka lakukan di sana?”
Julissa balas menatapku, “perempuan itu mengatakan, jika setiap pasangan haruslah berpegangan tangan lalu melompat melewati api. Jika mereka berhasil melompat dengan tetap berpegangan tangan, pasangan itu akan bahagia selamanya,” tukas Julissa yang membuang kembali pandangannya ke arah depan.
Aku turut membuang pandangan mataku, kutatap Aniela yang telah melompat kegirangan sambil mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Eneas. “Sepertinya, sudah banyak yang melompat. Sekarang, giliran kita untuk mencobanya, Julissa,” ungkap Adinata sambil berjalan melewati kami dengan menarik tangan Julissa di sampingnya.
“Kau ingin, kita mencobanya sekarang? Atau, kita harus menunggu beberapa orang lagi melakukannya?”
Aku menoleh ke arah Zeki yang semakin menggenggam erat tanganku, “aku ingin menyelesaikan ini secepatnya. Jadi,” ucapku sambil mengangkat tanganku yang digenggam kuat olehnya.
Dia mengajakku berjalan ke sebuah api unggun kecil dengan beberapa bara api tercecer mengelilinginya. Genggaman tangannya padaku semakin menguat tatkala tatapan matanya itu beralih kepadaku. Aku membuang tatapan ke samping, sesekali aku menepuk dadaku sendiri saat jantungku terasa semakin bergemuruh dari sebelum-sebelumnya.
Aku menghela napas panjang, tatkala kami berdiri semakin dekat ke api. “Apa kau telah siap, Zeki?” tukasku, aku menggenggam erat tangannya sambil meneguk ludahku sendiri menatap api yang masih berkobar itu.
“Jika kau takut, aku akan menggendongmu di punggungku untuk melewati api tersebut.”
“Aku, tidak selemah itu. Dalam hitungan ketiga, kau mengerti?”
“Kau, pasti melompati api itu, bukan?”
“Tentu saja. Jika kau, tidak melompat … Aku akan melemparkan semua bara api itu ke wajahmu,” tukasku, Zeki tersenyum lebar saat kedua mata kami kembali bertemu.
“Baiklah, Zeki! Satu, dua … Tiga!” ucapku, aku berlari kencang mendekati api tersebut lalu melompatinya.
__ADS_1
Aku berbalik ke belakang, menatap api unggun yang semakin membesar tertiup angin. “Kita berhasil,” dengan sigap, aku langsung menoleh ke arahnya yang bersuara.
Zeki tersenyum sambil mengangkat tanganku yang ia genggam ke atas. “Masih ada yang harus kita lakukan,” ucapnya lagi sambil menarik pelan tanganku untuk mengikutinya.
Dia membawaku, mendekati beberapa pasangan yang berbaris … Kami berdiri berdampingan, menunggu barisan itu habis. Seorang perempuan paruh baya, memberikan rangakaian bunga kepadaku dengan sebuah lilin di tengah-tengah rangkaian bunga tersebut. “Kalian, harus menyalakan lilin ini, lalu membawanya ke danau yang ada di sana. Letakkan karangan bunga dan lilin ini, ke permukaan air danau. Biarkan ia berlayar, jika dia tenggelam … Hubungan kalian pun, akan mengalami nasib yang sama.”
“Prosesi ini, dinamakan dengan pernikahan antara api dan air. Jika perahu dari karangan bunga kalian ini dapat melaluinya, bahkan kematian pun tidak akan bisa memisahkan kalian,” ucap perempuan paruh baya itu lagi saat karangan bunga yang ada di tangannya itu telah berpindah ke tanganku.
Aku mengangguk sebelum bergerak menjauhinya, “terasa mengerikan saat mendengarnya,” ucapku, aku memberikan karangan bunga tadi ke arah tangan Zeki yang terangkat ke arahku.
“Saat sebelumnya, ketika ayam itu tidak ingin mematuk apa pun, aku merasa tidak ingin mengetahuinya … Aku merasa, tidak peduli akan semua itu, dan tidak ingin mempercayainya. Namun, saat aku mendengar kabar, jika ayam tersebut telah mematuk benihnya. Aku, langsung ingin mempercayai semua ramalan itu.”
“Benar-benar aneh,” ucap Zeki kembali, dia tersenyum sambil tetap menundukkan wajahnya.
“Apa pun, hasilnya nanti,” ucapnya yang tiba-tiba langsung memotong perkataanku, “aku ingin tetap bersama denganmu. Susah, senang … Aku ingin, kita selalu bersama,” ucapnya, yang membuatku sedikit tertegun.
“Jawabanmu?” sambungnya lagi, wajahku terangkat menatapnya lama, “ayo kita lakukan. Walau nanti, hasilnya jauh dari apa yang dapat kita bayangkan … Setidaknya, kita telah sempat berjuang,” ungkapku, Zeki menggenggam erat tanganku, mengangkatnya lalu mencium tangannku dengan sangat lama.
“Terima kasih,” ucapnya yang kembali menurunkan tanganku sambil tersenyum simpul.
Zeki berjalan melewatiku, langkah kakinya bergerak mendekati sebuah obor yang ditanam di tanah. Dia kembali berbalik, melangkahkan kakinya mendekatiku sambil membawa karangan bunga dengan lilin menyala di tangannya. Aku mengangkat telapak tanganku mendekati tangannya yang berusaha menahan angin agar tak memadamkan api pada lilin yang ada di karangan bunga tersebut.
Dengan perlahan, kami berdua berjongkok di samping danau yang sudah diterangi oleh banyak obor yang mengelilinya … Zeki, dengan sangat hati-hati, meletakkan karangan bunga tadi ke atas permukaan air danau. Dia, sedikit demi sedikit menggerakkan telapak tangannya itu, mendayung pelan air agar karangan bunga itu dapat bergerak ke depan.
__ADS_1
Dia, mendekapkan kedua tangannya itu mendekati bibirnya, diikuti kedua matanya itu yang terpejam. Aku, turut melakukannya, sama persis seperti yang ia lakukan.
Deus, aku tidak tahu, yang manakah yang benar … Hatiku? Atau otakku? Jika benar nanti kami, memang tak ditakdirkan bersama … Pertemukan saja, dia dengan seorang perempuan yang menurutmu lebih pantas untuknya dibandingkan aku. Namun sayangnya, aku tidak akan semudah itu melepaskannya. Masa bodo dengan takdirmu! Aku, tidak akan berdiam diri membiarkanmu berbuat semaunya. Ini bukan ancaman, namun ini sebuah rayuan. Aku pun, ingin bahagia. Wahai engkau yang paling Agung.
Aku kembali membuka mata, kuarahkan mataku itu melirik ke arahnya yang mengarahkan pandangannya itu ke depan, “Zeki,” ucapku pelan memanggilnya.
Tubuhku sedikit beranjak saat dia menoleh ke arahku. Dia tertegun, matanya berkedip pelan beberapa kali ketika aku mengecup lembut bibirnya. Aku beranjak berdiri, melangkahkan kakiku meninggalkannya yang masih diam terpaku, berjongkok di dekat danau. “Kenapa, kau selalu melakukan sesuatu yang mengancam jantungku?” tukasnya yang terdengar dari arah belakang.
“Apa yang kau maksudkan?” Aku balas bertanya dengan tetap melanjutkan langkah.
“Memelukku tiba-tiba, atau menciumku tiba-tiba-”
“Aku hanya melakukannya kepadamu, apa kau ingin aku melakukannya pada laki-laki lain?” timpalku seraya kembali memotong perkataannya.
“Jika kau, tidak ingin laki-laki itu mati di tanganku. Maka lakukan saja,” ungkapnya yang lagi-lagi terdengar.
“Aku hanya bercanda. Aku lapar sekali, karena sejak pagi … Aku belum memakan apa pun.”
Aku menoleh ke samping saat kurasakan kembali rangkulan yang melingkari pinggangku, “festivalnya telah selesai, bukan? Haruskah, kita berkeliling untuk mencari makanan lezat di tempat ini?” tanyanya sambil tersenyum menatapku.
“Pastikan kau membawa banyak uang, karena aku … Sangatlah lapar, hingga ingin memakan apa pun.”
“Laksanakan, Putri. Apa pun, yang engkau perintahkan," jawabnya singkat sambil menciumi samping kepalaku.
__ADS_1