
"Apa maksudnya?" Ucap Jabari maju melangkah berdiri di belakang Haruki.
"Naga milik Kaisar yang membakar hutan, dia juga yang memakan para Kesatria itu dulu," tukas Haruki meraih sebutir apel yang ada di dalam keranjang.
"Naga?" Bisik mereka kembali, kuarahkan pandanganku melirik pada mereka yang memandang satu sama lain.
"Kaisar memelihara Naga, apa kalian tidak mengetahuinya?"
"Aku sempat meragukan perkataan Nona, karena penasihat Kerajaan memberitahukan kepada kami... Jikalau, Pangeran dan Putri yang berkata tak masuk akal, dikarenakan mereka tak sengaja mengonsumsi jamur beracun ketika mereka semua dipinta berburu di hutan," ucap salah seorang laki-laki yang berdiri di barisan.
"Bagaimana kami bisa mengonsumsi jamur beracun, jika saat itu kami dipinta membawa apapun untuk semua keperluan," ucap Izumi, ia beranjak berdiri meraih tumpukan daging bakar yang ada di hadapan Haruki.
"Kalau diingat-ingat benar adanya, soalnya saat itu... Aku sendiri ikut mengantar para Pangeran dan Putri ke hutan," ucap salah seorang laki-laki yang berdiri di ujung barisan.
"Beritahukan padaku! Kenapa kalian semua berakhir di sini? Maksudku, membangkang pada Kekaisaran? Apa kalian yakin?"
"Mungkin bukan membangkang pada Kekaisaran, tapi kami lebih menghormati keputusan Kapten," ucap Jabari menjawab perkataan Haruki.
"Kekaisaran memiliki banyak sekali Kapten pasukan, dan diantara semua Kapten itu... Mereka saling bersaing untuk berada di tingkat yang tinggi, karena semakin tinggi tingkat pasukan itu... Penghasilan atau bahkan pangkat kekuasaan akan mudah di dapatkan. Kapten berserta pasukannya bahkan diizinkan untuk menghancurkan sebuah desa lalu mendudukinya..."
"Pertama kali, aku dan Adikku menjadi Kesatria. Aku tak bisa berkata apa-apa, para pemimpin pasukan sangatlah brutal... Mereka suka menyiksa para tahanan, mereka bahkan selalu meminum darah musuh yang mereka kalahkan. Saking mereka membenci perempuan, beberapa diantara mereka menjalin hubungan asmara satu sama lainnya..."
"Dari semua Kapten Pasukan, hanya Kapten Hanbal yang sedikit berbeda. Jika berperang, ia tidak akan menyerang mereka yang tidak ikut berperang. Jika dia memimpin peperangan, tahanan akan diperlakukan sewajarnya. Karena itu, kami menghormatinya," ucap Jabari menatap lurus ke depan dengan pandangan yang terlihat kosong.
"Kalian berkata seperti itu, tapi kalian... Tak pernah mencoba melawan peraturan Kaisar. Apa kalian pernah memikirkan perasaan kami? Apa kalian tidak pernah merasakan ketakutan kami? Apa kalian tidak pernah merasakan, putus asa yang kami rasakan," ucapku melirik ke arah mereka.
__ADS_1
"Awalnya, kami memang berpikir demikian..."
"Tapi hal itu berubah, saat kami menemukan Nona saat di perjalanan," ucap dua laki-laki bergantian.
"Saat Nona menceritakan semuanya, dan saat Kapten menceritakan apa yang dulu pernah terjadi pada Anaknya yang dieksekusi... Kami baru tersadar, jika dunia ini memanglah keterlaluan. Tapi, apa yang dapat dilakukan oleh Kesatria rendahan seperti kami," ucap Jabari dengan kepala tertunduk.
"Kalau benar seperti itu, jadilah para perompak," ungkap Haruki memangku wajahnya di meja.
"Perompak?"
"Benar perompak, tinggalkan tempat ini... Dan hiduplah sebagai perompak," ucap Haruki kembali pada mereka.
"Tapi, Kekaisaran tidak pernah akur pada perompak."
"Bukankah itu malah bagus. Aku akan meminta pemimpinnya menerima kalian semua untuk menjadi pasukan mereka, kehidupan kalian juga akan lebih baik dibandingkan menghabiskan hidup di sini," sambung Haruki kembali menjawab pertanyaan dari salah satu mereka.
"Serahkan semuanya padaku," sambung Haruki menjawab tatapan yang Izumi berikan padanya.
"Lagipun, cepat atau lambat... Tempat ini akan hancur, jika yang dikatakan... Namamu Yoona bukan?" Ucap Haruki menoleh menatapnya, Yoona mengangguk membalas perkataan Haruki padanya.
"Jika yang dikatakan Yoona itu benar, tinggalkan saja para penduduk egois itu. Mereka, tidak akan paham kesengsaraan seseorang kecuali jika mereka merasakannya secara langsung," ucap Haruki kembali, diletakkannya apel yang bersisa di tangannya ke atas meja.
"Lalu, bagaimana dengan Yoona?"
"Kau, juga sepemikiran denganku bukan?" Ucap Haruki menjawab perkataanku, kepalanya bergerak menatapi Yoona yang balas menatapnya.
__ADS_1
"Aku, ingin segera meninggalkan tempat ini," ucap Yoona tertunduk.
"Baiklah, semuanya sudah selesai, tak ada yang perlu didiskusikan kembali," ungkap Haruki beranjak berdiri.
"Tunggu dulu nii-chan. Aku tahu jika Aydin tidaklah jahat, tapi... Kau pasti paham benar bagaimana Aydin suka sekali menggoda perempuan, aku mengkhawatirkan keselamatan Yoona," ucapku melirik ke arah Yoona.
"Aku tidak mengatakan akan memberikan dia kepada Aydin," sambung Haruki menatap padaku.
"Lalu? Kau berniat meninggalkannya begitu saja?" Kali ini Izumi yang bertanya padanya.
"Tidak, aku akan bertanggung jawab. Karena perbuatan yang aku lakukan, dia kehilangan sosok Ayah yang melindunginya," ucap Haruki melirik ke arah Yoona.
"Tunggu dulu, bertanggung jawab?" Sambung Izumi kembali.
"Aku akan mengirimkan dia ke Kerajaan, dan meminta Ayah untuk mengawasinya."
"Apa kau kehilangan akal? Bagaimana jika ada yang mengetahui keberadaan kita?"
"Aku akan mengirimkannya ke yayasan, di sana akan ada banyak perempuan yang bisa berteman dengannya. Lagipun, bagaimana aku mengatakannya," ucap Haruki dengan menghela napas panjang.
"Bukan itu yang aku maksudkan," tukas Izumi, dia tertunduk menggaruk-garuk kuat kepalanya, helaan napas kuat juga keluar dari sela bibirnya.
"Maksudku, alasan apa yang ingin kau berikan kepada Ayah? Apa kau ingin mengatakan pada Ayah, Ayah aku membunuh mantan Kapten Kekaisaran dalam duel, aku ingin Ayah merawat Anaknya karena aku merasa bersalah. Seperti itu?!"
"Izu nii-chan," ucapku menatapnya saat dia beranjak berdiri.
__ADS_1
"Ada apa denganmu Izumi?"
"Apa kau pikir kita dapat mempercayai mereka? Sudah berapa kali kita diperdaya selama ini?!" Tukas Izumi dengan nada meninggi, dipukulnya meja dengan kuat hingga Cia berbalik memelukku.