
“Nii-chan, apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan?” Tukasku dengan mempercepat kuda milikku berjalan mendekatinya.
Haruki menghentikan langkah kaki kuda yang ia tunggangi, “aku mendengarnya. Tapi itu bukan berarti kita harus mundur, aku benar bukan?” Dia mengatakannya tanpa menoleh sedikit pun.
“Apa kalian berdua tidak bisa berhenti berbicara! Ada yang mendekat!” Aku sedikit menutup kedua mataku saat suara Lux terdengar kuat di samping telinga.
Izumi menarik pedang yang ada di pinggangnya, disusul Haruki yang juga melakukan hal yang sama. Aku meraih busur berserta anak panah yang ada di punggungku, aku meletakkan anak panah tersebut hingga menempel di busur yang aku pegang saat bayangan hitam semakin banyak bermunculan dari tumpukan batu menyerupai bukit yang ada di hadapan kami itu.
Aku kembali menurunkan busur yang sebelumnya sempat aku angkat saat pandangan mataku terjatuh pada seorang laki-laki paruh baya yang menunggangi kuda hitam muncul dari sela-sela barisan laki-laki berkuda yang ada di hadapan kami.
Haruki menunggangi kudanya mendekati laki-laki yang aku maksudkan sebelumnya, “Duke Masashi, apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Haruki yang juga telah menurunkan kembali pedangnya.
“Aku ditugaskan oleh Kudou untuk mengantar Putri Sasithorn dan juga Cia ke sini,” ucapnya dengan melirik ke arah Izumi.
“Ke sini? Apa yang kau maksudkan? Ayah memintamu untuk mengantarnya ke Leta, bukan?” Kali ini Izumi menunggangi kudanya maju semakin mendekati mereka berdua.
“Apa mata-mata Kaisar akan melepaskan Putri Sasithorn begitu saja setelah apa yang terjadi-” Duke Masashi menghentikan perkataannya dengan sedikit melirik ke arah Haruki, “saat itu,” ucapnya kembali dengan sangat pelan terdengar.
“Leta, Yadgar, Balawijaya, atau Kerajaan yang dahulu pernah berurusan dengan Kekaisaran … Bukanlah tempat yang aman untuk kalian bertiga. Kaisar, tidak akan berhenti sebelum Kudou dan anak-anaknya kehilangan nyawa,” tukas Duke Masashi melirik ke samping, berusaha untuk menghindari tatapan kami kepadanya.
__ADS_1
“Apa yang kau maksudkan? Lagi pun Sasithorn, bukanlah Putri Kerajaan Sora.”
“Dia memang bukan Putri Kerajaan Sora untuk sekarang, tapi kelak … Dia akan menjadi ibu dari anak-anakmu, Pangeran Izumi. Apa kau ingin, apa yang terjadi kepada Putri Luana, juga terjadi kepadanya?”
Duke Masashi menggerakkan kudanya berbalik membelakangi kami, “aku, tidak memiliki banyak waktu untuk menjawab semua pertanyaan kalian. Dibandingkan itu, ikuti aku! Mereka semua telah menunggu,” ungkapnya, kuda yang ia tunggangi berjalan maju disusul dengan kuda yang ditunggangi oleh para Kesatria yang berada langsung dibawah perintahnya.
Kuda milik Duke terus berjalan menyusuri hutan, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari salah satu bibir kami, yang jelas terdengar di telinga hanya suara derap langkah kaki kuda diikuti suara kambing bercampur sapi yang kian terdengar dari kejauhan.
Aku mengangkat kepalaku ke atas saat kepulan asap semakin jelas membumbung di kejauhan, “dingin sekali,” bisikan Lux di telingaku membuat pandangan mataku melirik ke kiri.
Kutatap Eneas yang bergantian mengangkat telapak tangan mendekati mulut lalu meniupkan udara ke telapak tangannya itu. Pandangan mataku sedikit beralih ke telapak tangan Haruki dan juga Izumi yang terlihat memucat menggenggam tali kekang kuda mereka.
“Tentu saja, kau beruntung karena saat ini Kou menyelimuti sihir yang kuat di seluruh tubuhmu. Aku hampir membeku, maaf jika aku menarik keras rambutmu,” dia balas berbisik di telinga dengan suara yang bergetar terdengar.
Suara derap langkah kuda yang ada di hadapanku tiba-tiba terhenti. Aku mengangkat kembali wajahku menatap lurus ke depan, pandangan mataku terpaku pada hamparan pasir hitam dengan gunung besar yang jauh di hadapan kami.
“Apa cucuku telah sampai?”
Kepalaku dengan sigap menoleh ke kanan saat terdengar suara laki-laki di dekatku. Kedua mataku membesar tatkala seorang laki-laki tua memakai pakaian penuh bulu, tengah duduk di samping kuda berwarna cokelat bercampur putih. Laki-laki itu membawa seekor burung besar di pundaknya, matanya yang berwarna abu-abu terlihat memandangi kami yang ada di bawahnya bergantian.
__ADS_1
“Ayah, apa yang kau lakukan di atas sana! Turun sekarang juga!”
Aku kembali mengalihkan pandangan mataku ke depan saat suara bentakan laki-laki sedikit mengejutkan jantungku. “Apa yang kau lakukan? Aku hanya sedang memberikan kejutan pada cucuku!” Laki-laki tua yang berada di atas batu datar itu balas berteriak hingga burung yang ada di pundaknya itu membuka lebar sayapnya.
Dia menggerakkan kudanya berbalik menuruni batu datar yang tinggi di samping kami itu. Kudanya dengan perlahan berjalan melewati batu tadi lalu berhenti di hadapan kami, “kami, sudah lama menunggu kedatangan kalian. Kudou mengatakan, jika cucu-cucuku akan datang mengunjungi kakek mereka,” ungkapnya menatapi kami bergantian dengan mata abu-abunya yang terlihat sedikit bersembunyi di kelopak matanya yang sedikit berkeriput.
“Izumi,” dia beralih menatap Izumi, “kau terlihat mirip sekali dengan Putriku. Isshin pasti bahagia melihat anaknya telah tumbuh menjadi laki-laki tampan yang kuat,” sambungnya dengan tersenyum menatapi Izumi.
“Dan kau, Haruki, bukan?” Kali ini, pandangan matanya beralih kepada Haruki, “sebelum Isshin meninggal, surat yang ia kirimkan padaku, selalu menceritakan betapa mengagumkannya Haruki. Aku seperti telah mengenalmu sebelum kita bertemu, cucuku,” ungkapnya lagi dengan tetap menatap ke arah Haruki.
“Apa kau, Sachi?” Tatapan matanya beralih ke arahku, “Masashi seringkali menceritakan tentangmu tiap kali dia berkunjung ke sini. Dia mengatakan, Putri bungsu Kudou, sangatlah mengagumkan. Kau akan melihat sosok Isshin yang pemberani ketika mengenalnya,” lanjutnya dengan tersenyum menatapku.
Laki-laki tua itu menoleh ke belakang, “kalian, mendekatlah!” Dia berteriak dengan melambaikan tangannya ke arah enam orang, dua di antaranya perempuan yang menunggangi kuda jauh di belakangnya.
Keenam orang tersebut menunggangi kudanya mendekat lalu berhenti tepat di belakang laki-laki tua itu, “yang ada di sebelah ujung kanan,” ucapnya dengan menunjuk ke arah laki-laki bertubuh besar yang melirik ke arah kami dengan mata abu-abunya, “adalah, kakak dari Isshin, yang berarti jika dia adalah paman kalian,” lanjut laki-laki tua itu kembali.
“Yang ada di sebelahnya lagi, dia adik laki-laki Isshin, yang berarti dia juga adalah paman kalian. Sedangkan, empat lainnya … Mereka anak dari Paman kalian, bisa dikatakan mereka adalah saudara sepupu kalian,” ungkapnya kembali menatap kami bergantian.
“Kudou mengatakan jika anak-anaknya masihlah lemah dan mudah terluka. Jadi, dia memintaku langsung untuk membuat cucu-cucu kesayanganku menjadi sangat kuat dengan hidup sebagai pemburu bersama kami.”
__ADS_1
“Para wakil kapten yang kalian banggakan itu,” ucap kakek itu dengan menyilangkan kedua lengannya di depan dada, “selalu datang ke sini untuk memperkuat tubuh mereka. Karena itu, selamat datang di suku Azayaka, cucu-cucuku. Lepaskan seluruh senjata yang kalian bawa, turun dari atas kuda yang kalian tunggangi, lalu ikuti aku … Untuk mengikuti upacara penyambutan,” ungkapnya tersenyum dengan melirikkan matanya ke arah kami.