
"Kau ingin kembali ke tempat itu?" Ucap Zeki melangkahkan kakinya mendekati.
"Bukan, aku hanya merasakan sesuatu di sana," ucapku mengalihkan pandangan ke arah Aydin.
"Katakan Aydin, di sana... Di sana, terdapat sesuatu bukan?" Ucapku kembali menunjuk ke belakang.
"Bawa aku ke sana, apapun yang terjadi... Bawa aku ke sana," sambungku kembali padanya.
"Aku, tidak bisa membawa kalian ke sana," ucapnya berbalik membelakangi.
"Ada apa, apa yang kalian ributkan," terdengar suara Haruki diikuti suara langkah kaki yang mendekat.
"Nii-chan, aku merasakan sesuatu," ucapku berbalik menatapnya yang tengah berjalan dengan Izumi di belakangnya.
Haruki menghentikan langkah kakinya, dia menggerakkan jari telunjuknya menempel pada bibirnya seakan memintaku untuk berhenti berbicara. Haruki membalikkan tubuhnya dengan menggerakkan kepalanya berbalik menatapi kami...
"Kalian semua, ikuti aku!" Ucap Haruki kembali menatap lurus ke depan seraya kakinya melangkah meninggalkan kami.
Aku berjalan mengikuti langkahnya dengan Zeki berserta Aydin yang juga telah melangkahkan kakinya di belakangku. Kami berempat melangkah menyusuri lorong kapal dengan sesekali kurasakan lantai yang kami pijak bergoyang-goyang pelan.
"Bawa kami ke tempat yang aman untuk mendiskusikan masalah ini, Aydin," ucap Haruki menghentikan langkah kakinya, dia berbalik ke belakang menatapi kami dengan kedua lengannya bersilang di dada.
__ADS_1
"Lewat sini," ucap Aydin melangkahkan kakinya melewati kami, dia terus melangkah tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
"Emre, pastikan tidak ada yang mendekati tempat ini," ucap Aydin saat membuka sebuah pintu ruangan dengan Emre yang berdiri di hadapan pintu tersebut.
Emre mengangguk membalas perkataan Aydin ke padanya, aku berjalan memasuki ruangan tersebut. Ku tatap sekeliling ruangan itu yang penuh dengan buku-buku tersusun rapi di rak dan juga sehelai kertas kulit besar yang tergeletak di atas meja.
Aku berbalik menatap pintu ruangan yang telah tertutup kembali. Aydin berdiri di samping meja dengan kertas terbuat dari kulit yang ada di atasnya tadi. Aku ikut menggerakkan kaki mendekatinya saat Aydin menggerakkan jari telunjuknya pada kertas tersebut.
"Apa kau ingin, kita mengunjungi tempat ini, Putri?" Ucapnya menatap padaku dengan jari telunjuknya tadi bergerak menunjuk ke sebuah gambar yang hanya terlukiskan hamparan berwarna kuning kecokelatan tanpa apapun lagi.
"Bukankah ini seperti hamparan pasir yang kita lalui saat itu," ucap Izumi yang telah berdiri di samping Zeki.
"Kau salah Izumi," ungkap Aydin menggerakkan jari telunjuknya ke arah sebaliknya dari tempat yang ia tunjukkan.
"Sedangkan, tempat yang dimaksud oleh Putri. Jika aku tidak salah menebak dari arah mata angin yang ia tuju, adalah tempat ini," sambung Aydin dengan menggerakkan kembali jari telunjuknya pada gambar sebelumnya
"Salah satu tempat, paling berbahaya di lautan. Aku tidak tahu, apa maksud dari Putri merasakan sesuatu, akan tetapi, aku tidak akan membiarkan kalian mendekati tempat itu," ucapnya menatapi kami bergantian dengan tubuh bersandar pada dinding kapal.
"Apa Kou memberitahukan mu apa yang ada di sana?" Ucap Izumi ikut mengarahkan tatapan matanya padaku.
"Kau tahu nii-chan, anehnya... Sampai saat ini, aku tidak bisa berbicara apapun pada Kou. Semenjak kita meninggalkan tempat itu, aku... tidak bisa berbicara pada Kou sama sekali sampai saat ini," ucapku melangkah mendekati jendela yang ada di samping Aydin.
__ADS_1
"Ini mengingatkanku, Lux dan Uki tiba-tiba tertidur pulas, saat aku coba membangunkan mereka... Lux menjawab, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku, dan Lux mengatakannya dengan mata yang masih terpejam," ucap Izumi mengangkat kedua tangannya bersilang satu sama lain.
"Menurutmu, apa yang ada di sana, nii-chan?" Ucapku beralih menatap Haruki yang masih menatapi peta yang ada di atas meja.
"Aku tidak tahu. Kita hanya harus ke sana untuk memastikannya," ucap Haruki mengarahkan pandangannya menatapku.
"Apa kalian sudah kehilangan akal?! Aku sudah katakan, di sana sangat berbahaya!" Aydin mengucapkannya dengan nada meninggi, dipukulnya dengan kuat dinding kayu yang ada di sampingnya.
"Jika Sachi merasakan sesuatu, itu berarti ada sesuatu yang sangat menarik di sana. Hal itu, bisa menguntungkan kita ke depannya atau bahkan merugikan," ucap Haruki berbalik menatapi Aydin.
"Katakan Sa-chan, apa kau ingin pergi ke sana atau tidak?" Sambung Haruki kembali padaku.
"Aku ingin pergi ke sana, tapi aku juga tidak ingin jika mereka yang tidak tahu apa-apa di kapal ini berada dalam bahaya," ucapku membalas tatapan Haruki, aku kembali berjalan mendekati peta tersebut.
"Dari awal aku sudah tahu ada yang tidak benar dari kepala kalian," ucap Aydin melirik ke arah jendela yang ada di sampingnya.
"Akan tetapi, Kakek buyut ku juga tidak pernah menceritakan kenapa tempat itu berbahaya. Dan jujur, aku ingin sekali pergi ke tempat tersebut untuk membuktikan semua perkataan dari Kakek buyut ku itu. Putri, apa kau benar-benar merasakannya?" Ucap Aydin menoleh menatapku, aku mengangguk membalas perkataannya.
"Baiklah, aku akan membawa kalian ke sana. Dan yang pasti, ajak aku pergi bersama kalian ke tempat itu," ucapnya tersenyum menatapi kami dengan kedua tangannya bersilang di dada.
"Aku, akan ikut bersama kalian ke sana," ucap Zeki ikut melirik ke arahku.
__ADS_1
"Katakan Raja, kapan terakhir kali kau bertarung. Aku takut, jika perjalanan ini akan membebani mu," ucap Izumi ikut mengangkat kedua tangannya bersilang di dada menatapi Zeki.
"Jangan meremehkan kemampuan bertarung ku, kakak ipar. Apa kau lupa, siapa yang telah banyak membantumu saat di hutan dulu," ucapnya tersenyum membalas perkataan Izumi.