
Aku membalikkan tubuh saat perempuan tersebut melangkahkan kakinya mendekat, "saya Laila, Putri dari Duke Kerajaan Yadgar," ungkap perempuan tersebut ketika langkah kakinya berhenti di hadapanku.
"Saya merasa takjub dengan kemampuan bela diri yang kamu lakukan. Saya akan membayarmu, berapa pun itu agar kamu mau menjadi pengawalku," sambungnya kembali dengan mengarahkan pandangannya ke bawah.
Aku mengikuti arah tatapan matanya, pandangan mataku tertuju kepada koin-koin yang bercecer jatuh ke tanah, "ini karena kalian, karena kalian ... Semua uangku terjatuh," gerutuku kesal dengan melirik tajam ke arah dua pemuda tadi.
Aku duduk berjongkok dengan meraih satu per satu uangku itu, aku melirik ke arah Eneas yang juga telah berjongkok, membantuku memunguti koin-koin tersebut. "Bagaimana? Apa kamu mau menerimanya? Penawaran yang saya ajukan tadi."
Aku mengangkat wajahku menatapnya, "Laila atau siapa pun kau, bisakah untuk jangan menggangguku? Aku sedang kelaparan saat ini, jadi jangan menguji kesabaranku di saat-saat seperti ini," ungkapku beranjak sembari menghitung koin yang ada di tanganku.
"Lancang sekali!"
Aku membuka mulutku saat sebuah telapak tangan memukul telapak tanganku tadi hingga semua koin yang ada kembali jatuh ke tanah. Aku mendongakkan kepalaku dengan menghela napas berulang-ulang, berusaha mengusir rasa panas yang mendera di batinku.
"Saya memintamu dengan sangat baik-baik. Walaupun kita sama-sama perempuan, sebuah status, pendidikan dan gelar, benar-benar sangat berpengaruh besar pada seorang manusia. Rendahan," cibirnya dengan melirik tajam ke arahku sebelum dia melangkahkan kakinya menjauh bersama beberapa perempuan yang berjalan di belakangnya.
"Sebenarnya apa masalah dia? Apa seperti itu caranya seorang putri dari Duke memperlakukan seseorang?!"
"Nee-chan," suara Eneas berserta tarikan di tanganku membuat langkahku terhenti, "Haru dan Izu nii-san, pasti telah menunggu kita," sambung Eneas kembali saat aku berbalik menatapnya.
Aku melirik tajam ke arah para perempuan tadi sesaat sebelum kembali berjongkok memungut koin-koin uangku yang terjatuh, "astaga, kenapa akhir-akhir ini aku selalu diuji oleh sesuatu yang memanaskan hati," gerutuku sambil kembali beranjak berdiri dengan tumpukan koin yang telah berada di genggaman.
Aku berjalan mengikuti Eneas, membeli beberapa buah-buahan sebelum melangkah kembali kepada Haruki dan juga Izumi yang menunggu. "Kalian lama sekali! Sebenarnya, apa yang kalian beli?" teriak Izumi saat dia berbalik menatap ke arah kami yang berjalan mendekat.
"Kalian pergi lama sekali hanya untuk membeli buah?"
__ADS_1
"Terjadi banyak sekali hal di perjalanan. Aku tak ingin mengingatnya," ungkapku dengan meraih sebutir apel yang ada di Eneas lalu melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Ceritanya sangat panjang," Eneas membalas bisikan Izumi yang terdengar di belakang.
"Sa-chan, lewat sini!"
Aku menghentikan langkah lalu berbalik menatap Haruki yang telah membelokkan tubuhnya ke kanan, "nii-chan, apa kau mengetahui sesuatu tentang Putri Duke Kerajaan Yadgar?" Aku berlari menyusulnya sembari menggerakkan lenganku merangkul lengannya.
"Aku tidak ingin menghabiskan waktu untuk mencari tahu seseorang yang tidak berkepentingan untukku," imbas Haruki dengan melirik ke arahku.
"Benarkah?"
"Memang ada apa dengannya?" Haruki balik bertanya kepadaku. Aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya, "bukan masalah yang begitu penting," ungkapku sambil mendekatkan apel ke mulut lalu menggigitnya.
"Kami ingin menemui Raja Zeki Bechir," ungkap Haruki menjawab pertanyaan Kesatria barusan.
"Pergilah! Kalian tidak diperbolehkan menemui Yang Mulia," ungkap Kesatria tadi, dia menurunkan tombak yang ada di tangannya sembari telapak tangannya melambai seakan mengusir ke arah kami.
"Biarkan kami bertemu dengan Akash atau Kabhir," ucapku menimpali perkataan mereka.
Dua Kesatria yang berdiri di hadapan kami saling pandang antara satu dan yang lainnya. "Jika aku mengetahui nama mereka berdua, berarti kami mengenal baik mereka berdua, bukan? Jadi cepat, panggil mereka sekarang juga. Katakan, teman dari Putri Julissa ingin mengunjungi mereka," ancamku kepada mereka berdua.
Salah satu Kesatria mengernyitkan keningnya sebelum Kesatria yang lain membalas tatapannya dengan anggukan kepala. Salah satu Kesatria itu berteriak, meneriakkan kata-kata yang aku ucapkan terakhir hingga suara laki-laki membalas teriakan Kesatria tadi dari balik tembok tinggi itu.
__ADS_1
Lama kami berdiri menunggu diikuti lirikan mata yang dilakukan dua Kesatria tadi ke arah kami. Izumi mengangkat lengannya yang ia sandarkan di pundakku saat gerbang yang ada di hadapan kami itu perlahan terbuka.
Dua bayangan seseorang berjalan keluar dari balik gerbang, mereka menghentikan langkah kaki lalu membungkukkan tubuh mereka ke arahku. Aku berjalan maju dengan melirik ke arah dua Kesatria tadi, "apa dia sudah kembali?" tanyaku saat kedua kaki melangkah melewati mereka berdua.
"Yang Mulia masih belum kembali dari kunjungan ke Il," aku melirik ke arah Kabhir yang berjalan di belakangku.
Aku berbalik menatap mereka berdua bergantian, "bisakah kami menginap di sini?" tanyaku saat kembali tersadar jika sekarang aku berada di Yadgar bukan di Sora.
"Yang Mulia, pasti akan langsung mengeksekusi kami jika dia tahu, kalau kami menolak permintaanmu, Putri," ungkap Kabhir kembali berbicara.
Aku menutup mulutku menggunakan telapak tangan dengan sedikit mengalihkan pandanganku ke samping, "baiklah. Akash, bisakah kau membantu Kakak dan Adikku? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya," ucapku melirik ke arah Akash sembari jari telunjukku bergerak ke arah Kabhir.
"Aku mengerti. Ikuti aku, para Pangeran," ungkap Akash dengan mengangkat telapak tangannya ke samping.
Aku melirik ke arah mereka yang berjalan menjauh. "Kabhir," ungkapku berjalan mendekatinya.
"Apa kau pernah mendengar cerita, bagaimana aku ketika marah?" tanyaku saat kedua kakiku berhenti di hadapannya.
Kabhir tertegun, dia terdiam diikuti jakun di lehernya bergerak seakan tengah menelan sesuatu. "Katakan padaku, apa maksud dari Raja mencari calon isteri," ungkapku dengan menepuk-nepuk pundak Kabhir yang ada di hadapanku itu.
"Aku mendengar kabar itu sepanjang perjalanan ke sini. Banyak perempuan dari kalangan bangsawan menceritakannya. Apa aku, tertinggal sesuatu yang menarik?" tanyaku kembali dengan mengusap pundak Kabhir menggunakan telapak tanganku tadi.
"Yang Mulia, sebentar lagi menginjak usia du-dua puluh satu. Seorang Raja, seharusnya telah memiliki pendamping saat usia seperti itu, bahkan memiliki anak," ungkapnya dengan sedikit membuang pandangannya ke samping.
"Ja-jadi," ungkapnya sedikit terbata diikuti pandangan matanya yang tak kunjung mengarah kepadaku lagi.
__ADS_1
Aku mencengkeram kuat pundaknya, "jadi? Ceritakan semuanya kepadaku! Aku memiliki banyak sekali waktu untuk mendengarkan semuanya," ungkapku tersenyum menatapnya.