
Seorang laki-laki tua, berpakaian putih dipenuhi sulaman benang berwarna emas masuk diikuti beberapa laki-laki berjubah putih di belakangnya.
Berjalan laki-laki tua tadi menuju ke arah mimbar yang berdiri kokoh di tengah-tengah bangunan, berdiri ia di hadapan mimbar itu diikuti oleh para laki-laki lainnya yang berjubah putih mengelilingi nya
"Zeki, bangun.." tukasku berbisik seraya menyentuh pipinya berulang kali
Matanya terbuka pelan, beranjak ia duduk di sampingku. Diusapkannya kedua matanya, menoleh ia ke arahku.
Beranjak aku turun dari kursi, kulangkahkan kakiku mendekati anak-anak lain yang telah berbaris rapi di hadapan laki-laki tua tadi. Zeki sendiri mengikuti langkahku dari belakang...
"Hari ini, aku sendiri lah yang akan memimpin upacara pertunangan. Kalian telah dipilih berpasangan sebagai satu takdir, entah baik maupun buruk takdir tersebut . Apa kalian telah mencoba mengenal pasangan kalian satu sama lain?" ucap laki-laki tua tadi seraya menatap ke arah kami satu persatu yang dibalas dengan anggukan kepala dari beberapa anak
"Baiklah, upacaranya akan segera kita mulai. Ikuti aku!" ungkap laki-laki tua tadi berbalik seraya berjalan menuju ke sebuah pintu berwarna hitam yang terletak tepat di belakang mangkok besar yang berisi penuh bara api
Semua laki-laki berjubah putih yang ada didalam ruangan tampak mengikuti laki-laki tua tadi dari belakang. Dua laki-laki berjubah putih yang memiliki tubuh paling besar dibandingkan laki-laki berjubah putih lainnya, tampak maju ke depan seraya membukakan pintu besar berwarna hitam tersebut menggunakan tubuh mereka.
Masuk laki-laki tadi ke dalam ruangan di balik pintu diikuti oleh laki-laki berjubah putih dan anak-anak lainnya dari belakang. Kupandangi Zeki yang masih diam terpaku menatap bara api yang menyala merah di dalam mangkok besi yang terletak di samping kami.
Kugenggam tangannya yang gemetaran, menoleh ia ke arahku. Berjalan aku menyusul anak-anak lain yang telah masuk ke dalam ruangan seraya kutarik pelan tangan Zeki untuk mengikutiku.
Masuk kami berdua ke dalam ruangan, tampak laki-laki tua tadi telah berdiri di sebuah Altar lengkap dengan sebuah buku kecil bersampul putih di tangan kirinya. Sedangkan laki-laki berjubah putih tampak berdiri di depan masing-masing meja kecil yang telah di bariskan rapi lengkap dengan sebuah pisau kecil dan mangkok kecil berisi bara api dengan sebuah gagang besi di benamkan di dalamnya.
Laki-laki berjubah putih yang berdiri di pojok sebelah kanan memanggil nama seorang anak laki-laki. Anak laki-laki yang dipanggilkan namanya oleh laki-laki berjubah putih tadi, berjalan menuju ke arahnya seraya diikuti oleh anak perempuan yang menjadi tunangannya. Hal itu dilakukan berulang-ulang hingga kami semua telah berdiri di depan meja kecil yang telah dipersiapkan dengan seorang laki-laki berjubah putih di hadapan kami sebagai pembimbing.
"Kalian para perempuan, ikuti perkataanku seraya tatap mata pasangan kalian masing-masing." Ungkap laki-laki tua tadi
Kutatap mata Zeki seperti yang diarahkan oleh laki-laki tua tadi, bola matanya yang berwarna biru terang menatap balik kedua mataku..
"Aku bersumpah..."
__ADS_1
"Aku bersumpah..." tukas kami mengikuti perkataan laki-laki tua tersebut
"Atas hidup dan matiku. Atas semua yang ada di dalam hidupku. Aku akan.... Kalian dapat mengatakan apapun yang ingin kalian katakan." ucapnya lagi
"Atas hidup dan matiku. Atas semua yang ada di dalam hidupku. Aku akan selalu bersamamu, selalu mendukungmu untuk menghapus semua rasa sakitmu, untuk menghapus semua keresahanmu dan membuatmu tersenyum tanpa perlu mengkhawatirkan apapun." ungkapku seraya menatap Zeki
"Jika telah selesai. Kalian para laki-laki, silakan ambil pisau kecil yang tergeletak di atas meja lalu lukai telapak tangan kalian menggunakan pisau tersebut. Luka kecil pun tidak masalah, asalkan darahnya keluar."
Menoleh Zeki ke atas meja, diambilnya pisau kecil yang tergeletak. Ditancapkannya ujung pisau tersebut ke telapak tangannya, ditariknya pisau kecil yang ditancapkannya tadi hingga membentuk satu garis lurus yang panjang. Darah mengalir pelan keluar dari luka yang dibuatnya...
"Kalian para perempuan, diperintahkan untuk meminum darah yang keluar dari pasangan kalian." ucap laki-laki tua itu kembali
Menoleh aku ke sekitar, tampak anak-anak perempuan yang lain telah melakukan seperti yang di perintahkan, ikut terdengar juga suara tangisan riuh dari bayi-bayi yang juga ikut dalam upacara. Ku jatuhkan pandanganku kembali ke telapak tangan Zeki yang telah dipenuhi darah, kuraih tangannya dengan kedua tanganku...
"Apa aku harus melakukannya?" ucapku dalam hati seraya menatap darah yang mengalir di tangan Zeki
"Kau bodoh, bukankah laki-laki tua tadi mengatakan kalau luka kecil tidak masalah. Kenapa juga kau harus membuat luka sebesar ini.." gumamku pelan sembari kulepaskan pita biru yang melilit pinggangku seraya ku lilitkan pita itu kembali menutupi luka yang ada di telapak tangan Zeki
"Jika telah selesai, para Pendeta kami akan melakukan pengukuhan sumpah. Mereka akan meletakkan besi panas yang berbentuk nama laki-laki pada bagian samping leher perempuan." ucap laki-laki tua tadi kembali
"Tunggu dulu. Aku tidak salah dengar bukan?" bathinku seraya mencoba menepis rasa takut yang tiba-tiba muncul
"Apa kami harus melakukannya?" tukas Zeki yang tiba-tiba bersuara
"Kalian harus melakukannya, jika tidak? pertunangan ini akan dianggap tidak sah. Dan perempuan nya sendiri akan langsung mendapatkan hukuman." Ucap laki-laki berjubah putih yang menjadi pembimbing kami
"Cih!! kau bisa menggigit lenganku, jika kau merasa itu terlalu sakit untuk ditahan" ucap Zeki seraya mengarahkan lengan kirinya ke arahku
"Apa kau seorang maso...kis?" ungkapku seraya menatapnya yang membuang pandangan matanya ke samping
__ADS_1
"Apa itu maso...kis?" tanyanya seraya menatapku
"Kau tahu, seseorang yang akan bersemangat ketika ia mendapatkan siksaan fisik."
"Ulangi sekali lagi apa yang kau katakan sebelumnya!!" ucapnya seraya mencengkeram kepalaku menggunakan tangan kanannya
"Aku melakukannya karena jika kau nanti tak sengaja menggigit lidahmu sendiri, kau akan kehilangan nyawamu. Apa kau mengerti?" ucapnya lagi seraya memperkuat cengkraman tangannya di kepalaku
"Aku bercanda. Itu karena kau terlihat mengkhawatirkan ku padahal kau sendiri yang terlihat mengkhawatirkan..."
"Aku akan menggigitnya dengan kuat, pastikan kau tidak akan menyimpan dendam padaku kedepannya dikarenakan hal ini." ungkapku seraya meraih dan memegang lengannya
Kulirik keadaan sekitar menggunakan ujung mataku, tampak para anak perempuan meringis kesakitan ketika besi panas yang baru saja dikeluarkan dari dalam bara menempel di kulit mereka.
"Ya Tuhan, aku takut sekali.." ucapku dalam hati seraya menatap mereka yang tengah kesakitan dengan tubuh gemetar
Pandangan di depan mataku terlihat gelap seketika, aku sama sekali tidak dapat melihat apapun yang ada di hadapanku..
"Kau tidak perlu melihat ke arah mereka." terdengar suara Zeki yang menembus telingaku
"Sakit.. ini sakit sekali, Tuhan..." ucapku dalam hati, meringis kesakitan.
Kulit leherku terasa panas sekali, rasa sakit yang dihasilkan seakan mematikan saraf yang ada di otakku. Air mataku keluar tanpa sadar, kugigit kuat lengan Zeki yang kupegang erat sebelumnya. Kugenggam lengan Zeki lebih kuat dari sebelumnya, tubuhku sendiri gemetar hebat menahan sakit...
Pandanganku mulai kembali walaupun terlihat samar-samar akibat air mata yang memenuhi mataku. Kutatap Zeki yang terlihat kabur, tampak raut wajah lelah terukir di seluruh wajahnya...
Kuhapus air mataku menggunakan telapak tanganku, kupandangi lengan baju Zeki yang basah bercampur bercak darah akibat gigitanku tadi. Dilepaskannya pita biru yang melilit lengannya, diambilnya rambutku seraya diletakkannya di bahu ku yang berseberangan dengan arah leherku yang ditempelkan oleh besi panas sebelumnya.
"Dengan begitu, rambutmu tidak akan menyentuh luka bakar yang ada di lehermu" ucapnya menatapku seraya mengikatkan pita biru miliknya ke rambutku
__ADS_1