
"Apa ada yang tertinggal?" Ucap Haruki dari arah belakangku.
"Semuanya sudah aku bawa dan aku simpan di tas-tas milik kalian," ungkapku menjawab perkataan Haruki, kugerakkan tangan kananku meraih rambut yang terbang lalu menyelipkannya kembali ke telinga.
Suara angin yang bercampur dengan kepakan sayap Kou memecah kesunyian. Mataku terjatuh pada bulan sabit yang ada di kanan kami, cahaya yang keluar darinya benar-benar menyejukkan mata di malam ini. Hamburan bintang yang bersusun acak di dekatnya, semakin menerangi langit malam.
Aku tidak tahu, kemana kami akan pergi selanjutnya. Aku tidak tahu, apa yang akan kami hadapi selanjutnya. Akupun tidak tahu, keputusan yang kami ambil ini... Benar atau salah.
Maafkan aku Tsu nii-chan, aku mengecewakanmu lagi hari ini.
Maaf, tapi kedua kakakku benar. Jika kami terlalu lama menunda, apa yang akan terjadi pada semuanya? Apa yang akan terjadi, saat aku tak bisa menepati janjiku pada Lux. Robur spei atau yang dulu disebut Lux dengan bunga harapan... Kami harus segera mendapatkannya kembali.
Padahal niat awalku hanya ingin bertahan hidup selama mungkin dari Dunia ini. Padahal, jika aku menikah dengan Zeki... Hidupku sudah dipastikan akan baik-baik saja. Aku sudah dipastikan tidak akan dieksekusi saat usiaku menginjak tujuh belas tahun.
Harusnya aku hanya memikirkan diri sendiri saja. Kenapa juga aku harus repot-repot melakukan pemberontakan seperti ini? Semua kehidupanku terjamin, aku hanya tinggal menunjuk barang apa saja yang aku inginkan.
Desa Kuma, pembantaian di hutan terlarang, bahkan yang terakhir ini... Mereka bahkan mempermainkan sifat naif Egil untuk keuntungan mereka. Berkali-kali aku hampir mati, jika mengingatnya... Aku benar-benar dibuat merinding.
Aku lelah... Tapi saat, aku membantu dan mereka tersenyum akan bantuan yang aku lakukan, rasa lelahku seakan sirna. Hidup di Panti asuhan, membuatku paham benar... Arti kata tak diinginkan. Sekarang aku mengerti, kenapa aku dikirim ke Dunia ini. Aku tidak perduli jika ini dikatakan berlebihan atau aku hanya memandang tinggi diri sendiri.
__ADS_1
Ini seperti permainan untukku, bertarung dengan Kekaisaran membuatku... Entahlah, bisa dikatakan bergairah. Aku benar-benar ingin mengalahkan Kaisar, aku benar-benar ingin... Membuat nama Takaoka, nama keluarga kami... Diingat sampai kapanpun.
"Apa kalian berdua baik-baik saja, Sa-chan, Eneas?" Ucap Haruki kembali diikuti tepukan pelan pada pundakku.
"Aku baik-baik saja nii-chan. Kau sendiri bagaimana Eneas?" Ungkapku, kugerakkan telapak tanganku menepuk pelan pundaknya yang ada di hadapan.
"Aku baik-baik saja nee-chan. Jika kau mengantuk, kau bisa bersandar di punggungku," ucapnya menggerakkan kepalanya berusaha menoleh ke arahku.
"Terima kasih, aku akan melakukannya nanti," ucapku kembali menepuk-nepuk pelan punggungnya.
"Kita menuju ke Selatan, apa ada sesuatu di sana?" Ikut terdengar suara Izumi yang juga muncul dari arah belakang.
"Lalu, apa ada hubungannya dengan kita menuju ke Selatan sekarang?" Sambung Izumi kembali.
"Aku mendengar, di arah Selatan ada sebuah wilayah yang pasarnya sangat terkenal hingga kemanapun. Pasar paling lengkap yang ada di dunia, kau bisa mendapatkan apapun di sana, termasuk anggota tubuh manusia," ucap Haruki, kugerakkan kepalaku ke belakang berusaha menoleh saat dia mengutarakan hal tersebut.
"Apa maksudmu? Bagaimana mungkin..."
"Bagaimana mungkin? Semua yang ada di Dunia ini... Tidak ada yang mustahil, bahkan sekarang pun kita sedang menunggangi seekor Naga yang dianggap mustahil untuk banyak orang," ungkap Haruki memotong perkataan Izumi padanya.
__ADS_1
"Di dunia ini... Banyak sekali suku-suku yang menyembunyikan dirinya, bisa dikatakan seperti suku yang memiliki mata sepertimu Izumi. Beberapa dari mereka sangat menyukai daging manusia terutama perempuan, bahkan ada yang mengonsumsi daging laki-laki untuk menambah stamina," ucap Haruki kembali.
"Apakah salah satu mata-mata milikmu yang memberitahukannya?" Sambung Izumi padanya.
"Aku hanya membaca dari buku. Apa kau ingat? Saat Sachi tiba-tiba tidak bisa melihat dulu. Para Kesatria membawakan aku banyak sekali buku, dan beberapa buku tersebut berisikan tentang hal tersebut."
"Jadi, kau pikir? Kita akan mendapatkan banyak informasi tentang suku tersebut karena di Pasar itu menjual potongan tubuh manusia?" Ungkap Izumi kembali terdengar.
"Entahlah, aku tidak terlalu perduli dengan suku tersebut."
"Lalu kenapa kau membahasnya?" Sambung Izumi padanya.
"Aku hanya sangat penasaran tentang Pasar itu. Bisa saja, kita akan menemukan sesuatu yang berharga dan berguna di sana," ungkapnya kembali.
"Lalu, bagaimana denganku? Bagaimana dengan Sachi, dan bagaimana dengan Lux?"
"Apa kami terlihat seperti manusia biasa? Mataku dan mata Sachi, apa kau pernah melihat beberapa orang manusia yang mempunyai mata yang sama seperti yang kami miliki? Dan Lux, dia peri... Apa yang akan terjadi jika secara tak sengaja mereka menemukannya?" Ungkap Izumi dengan nada sedikit meninggi.
"Jika kita selalu mundur dan mundur saat berhadapan dengan masalah. Mau sampai kapan kita akan terus berada di bawah kekuasaan Kekaisaran. Apa kau pikir, aku mengajak kalian kesana karena aku ingin membunuh keluargaku sendiri?!" Ungkap Haruki membalas perkataan Izumi dengan nada yang sama tingginya.
__ADS_1
"Jika kau ingin mengalahkan musuh, mengetahui kebiasaan mereka atau mempelajari semua yang mereka kuasai harus kau lakukan. Jika kalian, tidak ingin mengambil risiko apapun... Aku akan meminta Kou mengantarkan kita semua pulang kembali ke Kerajaan. Dan lupakan semua tentang mengumpulkan sekutu, aku tak keberatan jika kalian pun menginginkannya," ucap Haruki, kutundukkan kepalaku menghindari angin yang berembus pelan menampar wajah.