
Suara terompet panjang terdengar di telinga, kedua kakiku melangkah sedikit maju ke depan saat pasukan musuh bergerak semakin mendekati. Senjata-senjata kayu raksasa yang mereka bawa juga ikut bergerak di tengah-tengah pasukan tersebut.
Aku beralih menatap Haruki yang masih berdiri tenang, sinar mentari yang sedikit jatuh di atas baju zirah yang ia kenakan semakin membuatnya terlihat gagah, "ada apa?" Tanyanya saat menoleh ke arahku.
"Kau terlihat tampan sekali nii-chan," ucapku membalas perkataannya, "benarkah? Apa kau baru menyadari pesona dari Kakakmu ini?" Dia balik bertanya sebelum mengalihkan pandangannya menatap pasukan musuh kembali.
"Sekarang aku baru memahaminya, mengapa banyak sekali perempuan yang jatuh hati padamu," ucapku ikut mengikuti pandangan matanya, "sejak kapan, kau jadi pandai menggoda seseorang?" Ungkap Haruki diikuti cubitan kuat yang ia lakukan di pipiku.
"Aku mengatakan kebenaran," balasku, kuangkat sebelah telapak tanganku saat Haruki melepaskan cubitan yang ia lakukan.
"Nii-chan, sebagai adik ... Aku ingin kau bahagia, karena itu," ucapku meletakkan telapak tangan di punggungnya, "jangan mencoba membohongi diri sendiri hanya karena memikirkan kebahagiaan kami. Karena sama sepertimu, kami juga pasti berpikiran yang sama," ucapku tersenyum menatapnya.
"Aku mengerti," ucapnya meletakkan telapak tangannya di samping kepalaku, kurasakan usapan pelan ikut menyentuh samping kepalaku tersebut.
Haruki menurunkan kembali telapak tangannya tadi saat suara riuh semakin terdengar, kugerakkan kepalaku berbalik ke belakang seperti yang ia lakukan, "aku akan mengeceknya," ucapku, kugerakkan tubuhku berbalik lalu berjalan mendekati dinding belakang benteng.
"Apa yang terjadi?!" Ungkapku dengan sedikit berteriak ke arah kerumunan para Kesatria yang ada di bawah, "tidak terjadi masalah yang serius Hime-sama, hanya saja," ungkap mereka terhenti, beberapa dari mereka mendongakkan kepalanya ke atas.
Aku ikut melakukan hal yang sama seperti mereka, saat melakukannya ... Aku baru tersadar, jika langit telah menggelap. Angin berembus pelan diikuti rintik-rintik air yang jatuh menyentuh wajahku. Semakin lama, rintik air yang terasa pelan menyentuh kulit, kini berangsur menguat menusuk-nusuk kulitku.
Pandanga mataku kembali teralihkan pada obor besar yang sengaja dipersiapkan untuk persediaan api selama peperangan, kini obor tersebut padam ketika air hujan yang jatuh semakin deras menyentuhnya. Kuangkat sebelah telapak tanganku ke depan, lama kutatap buliran-buliran air yang mengalir di telapak tanganku itu.
Tidak bisakah kau membiarkan semua rencana yang aku persiapkan berjalan mulus Tuhan?
__ADS_1
Aku kembali menurunkan kepalaku menatapi para Kesatria yang, "lupakan obor tersebut, hanya persiapkan rencana kedua!" Teriakku lantang kepada mereka yang membalasnya dengan anggukan pelan kepala mereka masing-masing.
Aku kembali berbalik, melangkahkan kaki mendekati Haruki yang masih menoleh ke arahku. Beberapa kali mataku sedikit terpejam saat suara gemuruh memenuhi telinga. "Apakah mereka berhenti bergerak?" Ungkapku, sebelah telapak tanganku bergerak mengusap wajahku yang dipenuhi air hujan.
"Aku pikir mereka akan menunda penyerangan hingga hujan berhenti," Gritav membuka suaranya, aku sedikit berbalik menatapnya yang telah berdiri di belakangku.
"Tapi kita tidak bisa lengah, bagaimana jika mereka menyerang kita saat kita sedang lengah seperti itu?" Suaraku kembali keluar menanggapi perkataannya.
"Perintahkan setengah Kesatria untuk berjaga, dan setengahnya lagi untuk beristirahat," ucap Haruki sedikit melirik ke arah Gritav.
"Sesuai perintah darimu, Tuan," ucapnya dengan sedikit membungkukkan tubuh.
"Kenapa, kau memerintahkannya untuk melakukan semua itu nii-chan?" Tanyaku dengan sedikit keheranan, "dengarkan baik-baik perkataanku ini, Sachi! Jika kita memaksakan semua Kesatria berjaga ketika cuaca tak mendukung seperti ini. Itu akan menurunkan seluruh stamina yang mereka miliki, akan tetapi ... Jika kita mengistirahatkan semuanya, kita tidak akan bisa mengelak saat pasukan musuh menyerang tiba-tiba," ucapnya melirik ke arahku.
____________________
Aku merangkak keluar dari dalam tenda mendekati api unggun yang dinyalakan oleh para Kesatria. Ketika aku berjalan, beberapa dari mereka langsung meminggirkan tubuh mereka untuk memberiku ruang berjalan.
Kedua kakiku melangkah mendekati Haruki yang tengah duduk di depan api unggun bersama dengan Gritav di sampingnya. "Haru-nii," ucapku berdiri di dekatnya dengan memberikan sebuah kain handuk ke arahnya.
"Kau akan sakit jika rambutmu basah seperti itu nii-chan," ucapku membuka lipatan handuk tersebut lalu meletakkannya pelan di atas kepalanya. "Terima kasih, aku bahkan tidak sadar jika rambutku basah," ucapnya menggerakkan handuk tersebut mengusap-usap kepalanya.
"Aku akan membantumu nii-chan," ucapku berdiri di belakangnya, kuarahkan kedua tanganku meraih handuk yang ada di kepalanya lalu mengusapkan handuk tersebut di rambutnya.
__ADS_1
"Besok, apakah kita akan menyerang terlebih dahulu ataukah menunggu mereka melakukannya?" Ungkap Gritav, dia mengangkat sebuah batu yang entah dia temukan di mana, lalu meletakkan batu tersebut di atas tanah yang ada di hadapan Haruki.
"Bagaimana menurutmu tentang hal ini, Jenderal?" Ungkap Haruki sedikit mendongakkan kepalanya, "Jenderal? Aku?" Tanyaku sedikit kebingungan menatapnya, Haruki menggerakkan kepalanya mengangguk pelan menjawab perkataanku.
"Jika kau bertanya padaku nii-chan, maka aku akan menyarankan untuk menyerang mereka sebelum memberikan kesempatan untuk mereka dapat menyerang kita," ucapku dengan menyandarkan kedua lenganku di kedua pundaknya.
"Berikan aku alasan, kenapa kita harus melakukannya," ucapnya sedikit menggerakkan kepalanya menoleh ke arahku.
"Karena hujan yang turun sepanjang hari, benar-benar membuat salah satu rencanaku tak bisa dilakukan," ucapku berjalan lalu duduk di samping Haruki.
"Kenapa kita tidak bisa melakukannya Hime-sama?" Suara laki-laki tiba-tiba terdengar, kuangkat kepalaku menatap salah satu Kesatria yang berbicara tadi, "aku, memerintahkan kalian untuk membakar senjata-senjata musuh dengan api yang telah kita siapkan bukan?" Aku balik bertanya padanya, Kesatria tadi menganggukkan kepalanya yang diikuti oleh anggukan dari Kesatria lainnya.
"Aku, akan mengambil dari kemungkinan terburuk, karena aku ... Tidak ingin menggantungkan nyawa kita semua hanya dari keberuntungan," ucapku kembali kepada mereka semua yang masih terpaku menatapku.
"Lalu? Apa kemungkinan terburuknya?" Haruki kembali bertanya dengan sedikit melirik ke arahku.
"Karena semua senjata perang berukuran besar tersebut terbuat dari kayu," ucapku membalas tatapan Haruki.
"Karena mereka terbuat dari kayu, hujan yang turun membuat kayu tersebut basah, sama seperti senjata yang kita miliki. Kayu yang basah, akan menyulitkan api untuk membakarnya," ucapku lagi dengan sedikit menggerakkan jari-jemariku ketika menjelaskannya.
"Karena itu, kita tidak bisa menargetkan serangan seperti panah api ke arah senjata-senjata tersebut. Serta, kita juga mengalami sedikit kerugian dari hal tersebut, karena senjata kita yang juga basah itu berpengaruh sekali dalam penggunaannya..."
"Aahh, seperti apa aku harus menjelaskannya," ucapku kembali, kepalaku tertunduk dengan sebelah tanganku memukul-mukul pelan kepalaku.
__ADS_1
"Intinya, jika senjata kayu yang akan kita gunakan basah. Hal itu akan menyulitkan kita sendiri dalam menggunakannya, karena itu ... Aku tidak peduli bagaimana cara yang akan kalian lakukan, hanya saja ... Aku ingin senjata-senjata tersebut kering sebelum pagi datang," sambungku kembali diikuti kedua mataku yang menatapi mereka bergantian.