Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXXXIX


__ADS_3

Haruki beranjak berdiri, “apa kalian akan terus bersembunyi di sini?” Tanya Haruki diikuti wajahnya yang tertunduk menatapi kami.


Aku turut beranjak saat aku melirik ke arah Izumi yang telah berdiri di samping Haruki, “apa kau masih ingin bertanya sesuatu?” Tukas Haruki melirik ke arahku ketika langkah kakinya mulai berjalan maju.


Aku mengikuti langkahnya, “aku tidak habis pikir, kenapa dia melakukannya? Maksudku, membahayakan dirinya sendiri,” ungkapku dengan mengarahkan pandangan ke arah kedua kakinya yang melangkah.


“Lalu, bagaimana denganmu?” Aku mengangkat wajahku saat Haruki balik bertanya, “kenapa kau membahayakan nyawamu sendiri untuk menyelamatkan Eneas?”


Aku menarik napas dalam, ketika telingaku menangkap apa yang Haruki katakan, “Eneas hampir kehilangan nyawanya saat itu. Lagi pun, keduanya jelas-jelas merupakan suatu hal yang berbeda,” tukasku menatapinya yang berjalan membelakangi.


“Hal yang sama, yang dilakukan oleh Zeki ataupun aku. Karena Kerajaan kita bertetangga dengan Il, jadi kabar apa pun akan tersebar cepat padanya. Bagaimana jika dia mengetahui, kabar mengenai Putri Kerajaan Sora yang masih hidup? Kau, akan berada dalam bahaya, Sa-chan."


“Sejak kecil saja, banyak yang ingin menculikmu karena kabar kepintaranmu yang entah bagaimana bisa terdengar ke beberapa Kerajaan lain … Menurutmu, apa yang akan mereka lakukan, jika Putri kecil yang dulu ingin sekali mereka culik, sekarang sudah mulai dewasa. Dan juga, akan menyusahkan mengajakmu berpergian jika saja berita tentangmu tersebar.”


“Kami sama sepertimu ketika kau menolong Eneas, hanya saja … Kami melakukannya sebelum semua hal itu terjadi,” Haruki menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arahku, “Yadgar itu kuat, lagi pun Leta ada di belakangnya. Jangan terlalu mengkhawatirkan apa pun,” ungkapnya lagi dengan mengangkat tangan kananya ke arahku.


Aku maju beberapa langkah mendekatinya, Haruki merangkul pundakku ketika langkah kaki kami berdua kembali bergerak, “apa kau tidak mempercayaiku?”


Aku menoleh ke arahnya yang berjalan di samping, “apa maksudmu, nii-chan?”


Haruki melirik ke arahku, “aku, akan berusaha memberikan keamanan untuk Adik-adikku. Percayai saja siapa pun, urusan mereka berkhianat atau pun tidak … Biar aku yang mengurusnya. Lagi pun, jika dia benar-benar berkhianat seperti yang kau khawatirkan, dia pasti sudah mati di tanganku sejak lama,” sambungnya diikuti usapan pelan yang menyentuh kepala.


“Izumi,” Haruki mengangkat kepalanya, lalu mengarahkannya menoleh ke belakang, “apa kau ingin tinggal di sini, lebih lama?” Tanya Haruki, aku melirik ke arah kiri saat bayangan Izumi juga ikut berjalan di samping.


“Apa maksudmu?”


“Aku ingin melanjutkan perjalanan, ada tempat yang harus aku kunjungi. Akan tetapi, jika kau ingin berlama di sini … Maka aku, akan mengizinkanmu. Dan kami, akan menunggumu di tempat itu hingga kau datang,” tukas Haruki menimpali perkataan Izumi.


“Yang aku tanyakan … Apa maksudmu, Haruki nii-san?” Sahut Izumi lagi kepadanya.

__ADS_1


“Kau, terlihat bahagia bertemu dengan mereka. Karena itu, aku tidak ingin memaksamu. Tapi aku, tidak bisa menunda untuk pergi ke sana terlalu lama,” ucap Haruki kembali menoleh ke arahnya.


“Hanya katakan padaku, ada apa di tempat yang ingin kau kunjungi itu?”


“Alvaro, apa kalian masih mengingatnya?” Haruki melepaskan rangkulannya di pundakku, “Danur, membawa kabar dari Adinata untukku kemarin,” sambung Haruki dengan mengangkat kepalanya menatap lurus ke depan.


“Lalu? Kabar apa itu?”


Haruki menoleh ke arah kami, “dia meminta kita untuk mengunjungi Kerajaannya, ada sesuatu yang ingin sekali dia berikan sebagai ucapan terima kasih,” ungkap Haruki kepada kami.


“Ucapan terima kasih?” Haruki menganggukkan kepalanya ketika aku mengatakannya, “salah satu penduduknya tidak sengaja menemukan bongkahan es berisi seekor hewan di dalamnya, ketika penduduk itu tengah memancing di sebuah sungai pada musim dingin."


“Apa kau ingin mengatakan, jika kita akan ke sana hanya untuk bertemu dengan seekor hewan yang kemungkinannya mati membeku di dalam sungai?”


“Bongkahan es berisi hewan itu,” lanjut Haruki yang terhenti sejenak, “tidak pernah meleleh, saat dipukul pun tidak bisa hancur.”


“Seperti kotak kayu yang melindungi Uki,” timpal Haruki dengan melirik ke arahku.


Haruki melanjutkan langkah kakinya, “karena itulah. Sebelum Kaisar mengetahui kabar ini, kita harus terlebih dahulu ke sana.”


“Tentu saja, kita membutuhkan Kou untuk menghancurkan sihir itu,” sambung Haruki lagi dengan menoleh ke arahku yang berjalan di belakangnya.


“Maka aku akan ikut pergi bersama kalian.”


“Apa kalian ingin bersenang-senang tanpaku?” Lanjut Izumi, dia berjalan melewatiku dengan kedua tangannya yang bersilang di dada.


“Jadi kau ingin ikut?”


“Tentu saja. Semakin banyak hewan baru yang aku temui, semakin itu juga aku penasaran akan hewan apa yang nantinya bakal kita temui selanjutnya. Aku tidak ingin, menjadi salah satu orang yang tertinggal di antara kalian berdua,” ungkap Izumi menjawab pertanyaan Haruki.

__ADS_1


“Baiklah, sekarang … Kita hanya perlu mencari Eneas. Menurut kalian, ke arah mana dia,” Haruki berbalik dengan menatapi kami berdua bergantian.


“Sachi,” Izumi ikut menimpali perkataan Haruki.


Aku berjalan maju dengan menghela napas, “satu-satunya jalan, jika benar mereka meletakkan kita di empat tempat yang berbeda. Kita harus ke Barat,” ungkapku membalas tatapan mereka.


Haruki membungkukkan tubuhnya dengan mengangkat sebelah tangannya ke samping, “Izumi, silakan memimpin perjalanan. Harap, lindungi kami bertiga dengan tombak yang kau bawa,” ungkap Haruki tersenyum saat dia kembali beranjak berdiri.


“Katakan saja, kau ingin membuatku menjadi perisai untukmu,” ucap Izumi berjalan membelakangi kami semua.


Kaki-kaki kami terus melangkah menyusuri tanah berumput yang menghampar di sekitar. Jujur, sebenarnya tempat ini sangatlah menakjubkan. Bagaimana tidak? Dalam satu wilayah kecil seperti ini, kita bisa mendapatkan tempat dengan pemandangan yang berbeda antara satu tempat dan tempat lainnya. Aku akan mengutuk Kaisar, jika dia menghancurkan tempat bagus ini.


“Apa yang kau lakukan padaku?!” Teriakan seorang laki-laki menghentikan langkah kami.


Haruki dan Izumi berbalik dengan melirik satu sama lain, mereka membungkuk lalu berbaring menelungkup, merangkak dengan mengendap-endap mendekati teriakan laki-laki yang tak kunjung berhenti terdengar, “bukankah, itu laki-laki yang dipinta untuk melatih Eneas,” bisikku, ketika aku juga telah merangkak di tengah-tengah mereka.


Aku melirik ke arah rerumputan yang menyembunyikan tubuh kami, rumput-rumput itu itu sesekali bergoyang tatkala angin meniupnya. “Apa yang Eneas lakukan padanya?” Haruki beranjak diikuti Izumi yang juga telah beranjak berdiri di kanan dan kiriku.


Aku turut beranjak berdiri lalu berjalan mengikuti mereka. “Eneas!” Suara Haruki membuat Eneas sedikit terperanjat sebelum dia berbalik menatapi kami.


“Tolong aku! Jika tidak, aku akan memberitahukan apa yang kalian lakukan pada Kakek!” Laki-laki itu berbaring menelungkup di tanah berlumpur menatap kami dengan wajahnya yang juga penuh akan lumpur.


“Eneas, apa yang terjadi?” Tukas Haruki melirik ke arahnya.


“Aku sekarang adalah Pangeran Sora, jadi setiap apa yang aku lakukan … Akan mempengaruhi Sora kedepannya. Itu kata-kata yang sering kau ucapkan padaku bukan, Haru nii-san?”


Haruki berjalan lalu duduk di sampingnya, “lalu, apa yang kau lakukan padanya?” Haruki balik bertanya dengan ikut mengarahkan pandangan pada laki-laki itu.


“Dia memintaku untuk berguling-guling di lumpur seharian penuh. Jadi, aku meracuni tubuhnya hingga dia tidak bisa bergerak hingga besok pagi, lalu aku gulingkan tubuhnya di lumpur seperti yang ia perintahkan padaku.”

__ADS_1


__ADS_2