Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXLV


__ADS_3

Aku berdiri dengan melirik ke arah Haruki yang tengah berbicara dengan seorang laki-laki. Aku menoleh ke samping saat Izumi meletakkan lengannya di pundakku, ikut kulirik beberapa laki-laki yang mengarahkan pandangan mata mereka padaku dari kejauhan. Aku mengangkat lenganku merangkul pinggang Izumi diikuti kepalaku yang bersandar di tubuhnya, beberapa laki-laki yang menatapku itu perlahan berpaling sebelum mereka beranjak pergi.


Mereka benar-benar menjijikan.


Aku melepaskan rangkulan tanganku di pinggang Izumi ketika suara Haruki yang meminta kami untuk mengikutinya terdengar. Aku berjalan mengikuti langkah Haruki dengan Eneas yang berjalan di sampingku dan Izumi yang menjaga kami dari belakang.


Aku ikut menghentikan langkah kaki saat Haruki yang berjalan memimpin kami juga telah menghentikan langkahnya, “Haruki, jangan katakan jika kau ditipu oleh laki-laki tadi,” tukas Izumi dari belakang saat beberapa bayangan hitam berjalan mendekati kami.


Mereka keluar bergantian dari sebuah lorong gelap yang ada di tengah-tengah bangunan batu, ada sekitar sepuluh orang laki-laki yang mengelilingi kami, bahkan tiga laki-laki yang menatapku dari kejauhan sebelumnya ikut bersama mereka.


“Berikan semua barang bawaan kalian berserta perempuan itu, kalian bertiga dapat melenggang pergi jika melakukannya,” tukas salah satu laki-laki yang berjalan maju mendekati kami.


“Apa yang ingin kalian lakukan pada perempuan sepertinya?” Aku segera berbalik menatap Haruki yang mengatakannya.


“Kami akan menjualnya pada Ba-”


“Kau bodoh!” Timpal salah seorang laki-laki menutup mulut temannya yang berbicara sebelumnya.


“Kami hanya membutuhkan tempat istirahat. Bawa kami ke sebuah penginapan jika tidak ingin terjadi sesuatu kepada kalian,” sambung Haruki sambil menundukkan pandangannya.


Salah satu laki-laki lainnya tertawa keras dengan menunjuk ke arah kami, “apa mereka bodoh? Bukannya memohon ampun, malah dia dengan bodohnya berusaha mengancam kita,” ucap laki-laki itu yang dibalas gelak tawa dari yang lain.


Laki-laki yang berbicara tadi berjalan melewati Haruki. Aku melirik ke arah tangannya yang ingin mengarah padaku itu, kutatap tangan Haruki yang telah mencengkeram kuat lengan laki-laki tadi hingga tangannya berhenti sebelum sempat menyentuh tubuhku.

__ADS_1


Laki-laki itu menoleh ke arah Haruki, “apa yang ka-”


Perkataannya terhenti, berubah menjadi erangan kesakitan saat tangan Haruki yang lain meninju lengannya hingga suara keras terdengar dari lengan laki-laki tadi. Dengan cepat, Haruki mencengkeram kuat belakang leher laki-laki itu saat dia tertunduk menahan sakit, Haruki melepaskan genggaman tangannya di lengan laki-laki tadi lalu mengarahkan tangannya tadi mencengkeram kuat dagu laki-laki itu.


Kratak!


Sebuah suara keras kembali terdengar saat Haruki mematahkan leher laki-laki itu. Tubuh laki-laki tersebut segera jatuh ke tanah saat Haruki melepaskan cengkeraman tangannya di leher laki-laki tersebut, “aku tidak memberikanmu izin untuk menyentuh adikku,” ucapnya dengan menginjak wajah laki-laki tadi.


Aku mengangkat wajah, melirik ke arah beberapa laki-laki yang sedikit melangkah mundur setelah melihat apa yang terjadi pada teman mereka. Mereka semakin terlihat ketakutan ketika Izumi melangkah ke sampingku lalu melempar tas yang ia bawa ke tanah. “Di dalam tas tersebut terdapat banyak sekali uang, kalian dapat mengambilnya,” ucap Izumi yang tiba-tiba membuka suaranya.


Kedua mataku membesar ketika menoleh ke arahnya, Izumi yang berdiri di sampingku masih menundukkan pandangannya, dia masih tak bergerak … Menatap tas yang tergeletak begitu saja di tanah.


Aku melirik ke salah seorang laki-laki yang berjalan mendekat, dia membungkukkan tubuhnya meraih tas yang Izumi lempar sebelumnya. Izumi berlari dengan cepat ke arah laki-laki yang hendak beranjak dengan menarik tas tersebut. Izumi melompat, tubuhnya memutar menerjang laki-laki yang tak sempat menghindarkan diri itu.


“Itu, kan … Tekhnik bertarung penduduk desa bertopeng,” aku melirik ke arah Eneas yang tiba-tiba telah berdiri di sampingku.


“Katakan, di mana kami bisa menemukan penginapan. Jika tidak, aku akan menghabisi kalian semua,” ucap Izumi yang telah kembali beranjak berdiri.


Dia berjalan mendekati tas yang masih tergeletak di tanah, Izumi membungkuk meraih tas tersebut lalu mengenakannya. “Kami, akan memberikan kalian uang tanpa melukai kalian, jika kalian menunjukkan di mana kami bisa menemukan penginapan,” kali ini Haruki menimpali perkataan Izumi.


“Ke-kenapa, kami harus mempercayaimu?!”


Haruki melirik tajam ke arah mereka, “kami bisa membunuh kalian dengan mudah. Berhubung kami membutuhkan bantuan kalian untuk sebuah tempat tinggal, karena itu … Bersyukurlah, kalian masih aku beri kesempatan untuk hidup,” sambung Haruki menimpali perkataan laki-laki tersebut.

__ADS_1


“Kalian pendatang bukan? Bagaimana bisa kalian masuk ke sini?” Tanya salah seorang laki-laki yang berjalan maju mendekati.


“Memangnya, kenapa?” Haruki balik bertanya kepadanya dengan menyilangkan kedua lengannya di dada.


“Apa kalian tidak tahu, di mana kalian sekarang tengah berada?” Tukas laki-laki itu kembali yang dijawab oleh keheningan di antara kami.


“Ini kota yang dipimpin langsung oleh Baron Slava, Baron yang melayani Kekaisaran. Tidak ada seorang asing pun yang dapat masuk dan keluar dari tempat ini, bahkan penduduk asli pun tidak diperkenankan untuk keluar dari sini,” jawab laki-laki itu lagi yang melirik ke arah kami bergantian.


“Baron, sebutan untuk seorang Kesatria yang diangkat menjadi seorang bangsawan karena dedikasinya,” aku melirik ke arah Haruki yang mendongakkan pandangannya ke atas.


“Nii-chan, apakah kita sekarang berada di perbatasan Kekaisaran?”


“Dari rumah, jika kita terus menuju ke Utara, kita akan bertemu dengan Kekaisaran,” ucap Haruki menjawab perkataanku.


“Kenapa kau tidak mengatakannya, maksudku … Kita tidak harus menggunakannya untuk sampai ke sini,” tukasku lagi sambil berjalan mendekatinya.


“Jika dia merasakan ada sesuatu yang salah di sini, dia tidak akan membawa kita semua ke sini, dia akan membawa kita ke tempat lain.” Aku terdiam sejenak saat Haruki mengatakannya.


Itu benar, tapi itu bukan salah satu hal yang mengganggu pikiranku. Jika kami secepat itu sampai di perbatasan Kekaisaran, itu berarti … Suku Azayaka juga berada di tempat yang tidak terlalu jauh dari Kekaisaran, jika Ayah ingin melindungi mereka … Kenapa dia malah membiarkan para penduduk suku untuk tinggal di sana?


Ya Tuhan, bahkan di Keluargaku pun. Masih banyak misteri yang harus dipecahkan.


“Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan, tapi jika benar kalian ingin memberikan kami uang. Maka, ikuti aku,” pandangan mataku beralih kepada laki-laki itu yang telah berbalik melangkahkan kakinya menjauhi kami.

__ADS_1


“Bagaimana dengannya?” Haruki melirik ke arah seorang laki-laki yang lehernya ia patahkan.


“Dia sudah mati, tidak ada yang bisa kami lakukan. Di tempat ini, meratapi seseorang yang sudah mati, sama saja dengan membunuh dirimu sendiri,” timpal laki-laki itu kembali dengan tetap melanjutkan langkahnya.


__ADS_2