Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXLVII


__ADS_3

Kutatap Cia yang tertidur pulas, kuangkat telapak tanganku yang mengusap keningnya sembari tubuhku bergerak perlahan merangkak meninggalkan tenda.


Aku beranjak berdiri lalu berbalik dengan kedua tanganku menuruni kain yang digunakan sebagai pintu tenda. Aku kembali berbalik lalu melangkahkan kaki mendekati Eneas yang tengah duduk di depan api unggun dengan Arata dan juga Gritav yang juga duduk di dekatnya.


"Bagaimana keadaan? Apakah aman?" Tanyaku kepada mereka, kugerakkan tubuhku bergerak duduk di samping Eneas.


"Ini sudah hari ketiga, seperti dugaan yang nee-chan katakan. Mereka tidak melakukan apapun," ucap Eneas, tubuhnya sedikit beranjak meraih potongan daging yang dibakar di dekat api unggun.


"Apa yang harus kita lakukan? Persediaan makanan kita sudah hampir habis, jika seperti ini terus kita akan kembali dengan tangan kosong, Hime-sama," kali ini Gritav bersuara, kubalas perkataannya tersebut dengan sedikit senyuman yang aku lakukan.


"Hongli, bagaimana menurutmu? Perintah dariku, kapan aku akan merasakan hasilnya?" Tanyaku, kepalaku beralih menatap Arata yang tampak sibuk menambah beberapa ranting kayu ke arah api unggun.


"Kerajaan Tao sangatlah luas. Menurut perhitungan yang aku lakukan, kemungkinan kekacauan itu akan memuncak setelah lebih kurang tujuh hari," ucapnya dengan pandangan masih menatap api unggun yang ada di depannya.


"Kekacauan?"


"Benar, kekacauan. Aku memerintahkan anak buah Hongli untuk membuat kekacauan di dalam Kerajaan," ucapku menjawab pertanyaan Gritav yang terlontar.


"Aku, tidak mengerti Hime-sama," sambungnya kepadaku.


"Apa kau pikir, aku meminta kalian semua menunggu di luar Kerajaan hanya dengan berharap pada keberuntungan itu?" Aku balik bertanya kepada Gritav, kubalas tatapannya yang sedikit mengerutkan keningnya.


"Aku benar-benar tidak mengerti," sambungnya setelah sedikit lama menatapku.


Aku menghela napas sembari mataku masih menatapi Gritav, "menurutmu? Apa yang paling berbahaya untuk sebuah Kerajaan?"


"Serangan musuh?" Gritav balik bertanya, kepalaku menggeleng menanggapi perkataannya.


"Pemberontakan?" Eneas ikut menjawab, aku sedikit menoleh ke arahnya lalu mengangguk pelan sebelum kembali menatap ke arah api unggun.

__ADS_1


"Pemberontakan yang dilakukan rakyatnya pada suatu Kerajaan sangatlah berbahaya untuk Kerajaan itu sendiri. Aku, hanya memerintahkan anak buah Hongli untuk memicu pemberontakan tersebut."


_____________________


"Hime-sama, Hime-sama," suara laki-laki terdengar, diikuti bayangan hitam yang berdiri di luar tenda yang aku naungi.


"Ada apa?" Tanyaku sembari kedua tanganku bergerak mengikat rambut Cia yang mulai sedikit memanjang, "kakak memanggilmu, ini sangatlah penting," ucap suara itu kembali, kuhentikan kedua tanganku tadi seraya tubuhku merangkak mendekati tirai kain.


"Penting?" Tanyaku kembali saat sebelah tanganku menyingkap tirai tersebut, "cepatlah, mereka menunggumu," sambung laki-laki itu kembali diikuti kepalanya yang sedikit mengangguk menatapku.


"Aku mengerti, tolong bantu jaga dia. Jika dia terluka, aku akan membunuhmu," ungkapku saat aku telah berdiri di sampingnya, laki-laki itu kembali mengangguk cepat menatapku.


Kedua kakiku berjalan mendekati Eneas, Arata dan juga Gritav yang tengah berdiri dengan pandangan mata mereka menatap ke arah Benteng Kerajaan Tao. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku, Arata berbalik diikuti Eneas yang juga berbalik menatapku.


"Hime-sama, coba dengar," ucap Arata saat aku menghentikan langkah di sampingnya. "Dengar? Apa yang harus didengar?" Aku balik bertanya kepadanya.


"Suara kegelisahan, suara ketakutan," ucapnya, Arata kembali membalikkan tubuhnya dengan kedua tangannya yang berkacak di pinggang.


"Gritav!"


Aku sedikit berteriak memanggil namanya, kutatap Gritav yang telah mengangkat busur panah miliknya. Anak panah yang ia genggam, melesat cepat ... Menembus tubuh seekor burung yang terbang dari arah benteng tersebut.


Kutatap burung malang itu yang langsung jatuh tersungkur ke tanah, tubuhku kembali berbalik membelakangi mereka, "pastikan, tidak ada satu kehidupan pun yang keluar dari benteng itu. Burung atau semut, bunuh mereka semua! Aku tidak ingin, jika kabar tentang pengepungan yang kita lakukan ini, menyebar ke wilayah lain yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tao," ucapku sembari melangkahkan kaki meninggalkan mereka.


____________________


Sepuluh hari berlalu, kutatap beberapa Kesatria yang duduk tertunduk dengan senjata-senjata milik mereka yang tergeletak di samping tubuh mereka. Aku melangkahkan kaki dengan menggenggam tangan Cia di sampingku.


"Apa yang terjadi?" Tanyaku saat kami melangkah semakin mendekati Arata berserta gerombolannya.

__ADS_1


"Pasokan makanan kita habis, ini buruk Hime-sama, bagaimana kita bertarung dengan kondisi kelaparan seperti ini?" Tanya salah seorang laki-laki, dia berbaring di atas tanah dengan sebelah tangannya bergerak menutupi matanya.


"Jika itu masalahnya, kalian dapat mengambil beberapa kuda yang membawa pasokan makanan lalu memasaknya," ucapku, beberapa orang laki-laki tersebut segera beranjak dengan pandangan mata yang mengarah padaku.


"Apa, kami boleh melakukannya?" Tanya salah seorang laki-laki dengan sangat antusias.


"Tentu. Akan tetapi, kalian harus melakukannya sesuai perintahku," ucapku kembali kepada mereka.


"Dengarkan aku semua pasukan!" Ucapku lantang dengan kepala bergerak menatapi sekitar.


"Aku, memerintahkan kalian untuk memotong beberapa ekor kuda. Kalian dapat memakan daging kuda tersebut untuk memulihkan kembali semua tenaga kalian," ucapku kembali, kutatap beberapa Kesatria yang tampak beranjak berdiri dengan mata penuh harap padaku.


"Benarkah itu?"


"Apa kami boleh melakukannya?" Tanya beberapa Kesatria yang mulai berjalan mendekat ke arah kami.


"Akan tetapi, kalian harus memasaknya dengan jarak yang hampir dekat dengan benteng tersebut. Aku ingin, aroma daging yang kalian masak itu memenuhi udara hingga dapat menembus ke dalam benteng tersebut," ucapku, masih kutatap mereka yang sedikit mengernyitkan dahi menatapku.


"Kenapa kami harus melakukannya?"


"Itu sama saja seperti bunuh diri untuk kita."


Perkataan beberapa Kesatria terdengar, beberapa dari mereka ada yang hanya diam dengan menundukkan kepala. "Aku ingin kalian melakukannya, walaupun kalian merasa enggan. Tapi tetap, ini perintah dariku!" Ungkapku, dengan kedua tangan menyilang ke dada.


"Kalian, ingin ini cepat berakhir bukan? Kalian, ingin mendapatkan tempat tidur yang empuk dan layak bukan?!" Teriakku kepada mereka, kulirik beberapa Kesatria yang tertunduk dengan kedua mata mereka yang sedikit membesar.


"Di dalam sana, kalian akan mendapatkan semuanya! Tempat tinggal baru yang sangat layak, jauh berbeda dari tempat tinggal kalian sebelumnya. Apa kalian, tidak ingin mendapatkannya?!"


"Apa kalian, tidak ingin memperbaiki hidup keluarga kalian?!'

__ADS_1


"Apa kalian, ingin selalu berada di bawah bayang-bayang dan selalu diolok-olok oleh Kerajaan yang bahkan lebih kecil dibandingkan kalian?!" Teriakku kembali kepada mereka, satu per satu para Kesatria itu mengangkat kepalanya menatapku.


"Jika kalian ingin mendapatkannya, jangan membantah perintahku! Aku, Hime-sama ... Akan membawa kalian meraih semua kemenangan, Tao ... Tidak lebih seperti debu untukku!" Sambungku kembali meninggikan suara kepada mereka.


__ADS_2