Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXIX


__ADS_3

"Apa Kaisar benar-benar mengumpulkan semua Pangeran dan Putri di seluruh Kerajaan yang ada, nii-chan?" bisikku pelan pada Haruki


"Sepertinya tidak, aku pikir hanya para Pangeran dan juga Putri dari Kerajaan-kerajaan besar saja yang ia undang."


Kualihkan pandangan mataku ke sekitar, tampak beberapa orang menatap kearah kami. Pandangan mataku sendiri terjatuh ke arah Zeki yang tiba-tiba langsung membuang pandangannya ketika aku tak sengaja menatapnya.


"Si bodoh itu," ucapku pelan menatapnya


"Apa yang kau gumamkan?" ucap Haruki mengalihkan perhatiannya padaku


"Tidak ada nii-chan, aku tidak mengatakan apapun," balasku menatapnya


"Salam, Pangeran Haruki," ucap seorang anak perempuan yang tiba-tiba telah berdiri disamping Haruki


Bola matanya yang berwarna hitam senada dengan rambutnya yang juga berwarna hitam menatap Haruki, warna kulit sawo matang yang ia punya tampak selaras dengan gaun berwarna merah marun yang ia kenakan.


"Perkenalkan, saya Putri Luana Joselito, Putri kedua dari Kerajaan Robson, tunangan dari Pangeran Takaoka Haruki," ucap perempuan tadi seraya membungkuk ke arahku dan juga Izumi


"Putri Takaoka Sachi, Putri kedua dari Kerajaan Sora, salam kenal." ucapku balas menunduk kearahnya


"Nii-chan," ucapku pelan seraya meraih dan menarik lengan Izumi


"Takaoka Izumi, Pangeran kedua dari Kerajaan Sora. Salam kenal calon kakak ipar," ucapnya melakukan hal yang sama


"Kalau begitu, kami berdua permisi terlebih dahulu. Silakan menikmati waktu untuk kalian berdua," ungkapku, kulepaskan pegangan tanganku pada Haruki seraya berjalan menarik Izumi menjauh


"Takaoka Izumi, bukankah kau juga harus menemui tunanganmu?" kembali terdengar suara Haruki dari arah belakang


"Tunangan? tunanganmu juga berada disini, nii-chan?" ucapku menatap Izumi


"Apa itu penting?" ucapnya datar membuang pandangan


"Tentu saja. Aku ingin berkenalan dengannya,"


"Bukankah seharusnya kita menemuinya?" sambungku menatapnya


"Untuk apa? Kalau ia mau, seharusnya dia yang menemuiku."


"Apa kau tengah jual mahal sekarang, nii-chan?"


"Kau..." tukasnya berbalik mencubit pipiku

__ADS_1


"Semakin lama, kata-katamu terdengar licin sekali," sambungnya tersenyum dingin menatapku


"Aku minta maaf," ucapku berusaha berbicara, dilepaskannya cubitannya di pipiku seraya menghela nafas beberapa kali.


"Aku tetaplah seorang Pangeran kau tahu, menjaga nama baik Kerajaan kita itu merupakan salah satu kewajiban kita sebagai seorang Pangeran maupun Putri."


Berdiri terdiam kami lama di tempat, kualihkan pandangan ke sisi kanan. Tampak terlihat seorang anak perempuan berjalan mendekati kami, kulit putih langsat yang ia miliki tampak senada dengan gaun berwarna hijau yang ia kenakan.


Rambutnya yang hitam disertai hidung dan bibir yang kecil tampak menambah kecantikan yang ia punya. Berdiri ia dihadapan kami seraya membungkukkan tubuhnya,


"Salam, Pangeran Izumi," ucapnya, beranjak ia seraya menatapku


"Perkenalkan, saya Putri Sasithorn Sittichai, Putri ketiga dari Kerajaan Wattana, tunangan dari Pangeran Takaoka Izumi," ucapnya kembali menundukkan tubuhnya ke arahku


"Takaoka Sachi, Putri kedua dari Kerajaan Sora. Salam kenal," ucapku melakukan hal yang sama


"Kalau begitu, silakan menikmati waktu kalian berdua..."


"Nii-chan, aku pergi dulu," sambungku pelan pada Izumi


"Mau kemana kau?"


Berjalan menjauh aku meninggalkan Izumi, kulangkahkan kakiku menuju ke sebuah meja yang dipenuhi makanan. Kuambil sebuah piring yang ada disana seraya kuletakkan beberapa macam buah ke atas piring tersebut.


Berbalik aku menjauh dari kerumunan, melangkah aku mendekati sebuah pohon besar yang tumbuh tak terlalu jauh dari kerumunan. Duduk aku seraya bersandar dibawah pohon, kuletakkan piring yang aku bawa tadi disampingku.


Kutatap kerumunan manusia yang berada jauh di depanku, berbalik aku seraya memetik sebuah anggur dari tangkainya lalu menggigitnya sedikit demi sedikit.


Brukk!!


Sesuatu memukul tepat di atas kepalaku, sebuah pisau kecil bersarung kulit jatuh dihadapanku. Kuraih pisau tersebut seraya menolehkan pandanganku ke atas...


Tampak terlihat seorang laki-laki tengah tidur berbaring di dahan-dahan pohon, kedua lengannya sendiri dilipatkannya di dadanya. Laki-laki yang tak lain, tunanganku sendiri...


"Apa dia seekor Kera? Kemampuannya yang dapat tidur dimanapun membuatku takjub..."


"Ya walaupun aku juga suka seperti itu," sambungku berbalik dan duduk kembali, kuletakkan pisau yang jatuh tadi di sampingku.


Kubuka kedua mataku, kututup mulutku yang menguap lebar menggunakan telapak tanganku. Sebuah jas berwarna hitam menyelimuti tubuhku, kuarahkan pandangan mataku ke atas. Zeki telah menghilang, begitupun dengan pisau kecil yang ada disampingku.


Beranjak aku berdiri dengan menggenggam jas hitam yang menyelimuti tubuhku tadi, menunduk aku seraya meraih piring yang masih terisi buah. Melangkah aku kembali mendekati kerumunan...

__ADS_1


Kuletakkan kembali piring yang aku bawa di atas meja, kulangkahkan kakiku mencari kedua kakakku. Langkahku terhenti, wajahku menabrak sesuatu. Kuusap hidungku seraya menatap apa yang aku tabrak.


Seorang laki-laki berambut sedikit panjang berwarna hitam menatapku, lama ia menatapku diiringi senyum sumringah darinya...


"Naga... mata hijau..." ucapnya berulang kali seraya diangkat dan diarahkannya telapak tangannya hendak menyentuh kepalaku


Mundur aku beberapa langkah, laki-laki tersebut ikut maju beberapa langkah mendekati dengan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya...


Bagaimana? Bagaimana ia bisa tahu tentang Naga? Dan mata hijau?


Sebuah telapak tangan mencengkeram kuat lengan laki-laki tadi, meringis ia kesakitan seraya menepuk-nepuk telapak tangannya yang lain ke tangan yang mencengkeramnya itu.


"Apa yang ingin kau lakukan pada adikku?" terdengar suara Izumi dari samping tubuhku, diikuti semakin kuatnya cengkraman yang mencengkeram laki-laki tadi.


"Kami mencarimu kemana-mana," ikut terdengar suara Haruki disertai sebuah tepukan di kepalaku.


"Aku ulangi, apa yang ingin kau lakukan pada adikku?" ucap Izumi sekali lagi


"Tolong lepaskan adikku," ucap seorang laki-laki yang berlari ke arah kami


"Apa adikku membuat masalah kepada kalian? Kalau begitu, aku akan meminta maaf atas nama adikku."


"Perkenalkan, Adinata Pangestu, Pangeran pertama dari Kerajaan Balawijaya. Dan ini adikku, Danurdara Pangestu, Pangeran kedua," sambungnya menatap kami


"Aku tidak menanyakan identitas kalian, aku hanya menanyakan apa yang ingin ia lakukan pada adikku," ucap Izumi kembali


"Maaf, tapi sebenarnya... Adikku sedikit dapat merasakan sihir dan juga aku pastikan adikku tidak berniat jahat sedikitpun pada adikmu."


"Izumi lepaskan dia," ucap Haruki.


"Cih," tukas Izumi seraya melepaskan cengkraman tangannya


"Izumi? Apa kau Pangeran Takaoka Izumi..."


"Dan kau? kau pasti Pangeran Takaoka Haruki bukan?" sambungnya mengalihkan pandangannya pada Haruki


"Kami banyak sekali mendengar tentang kepintaran dan kehebatan kalian, terutama dengan banyaknya barang dan makanan-makanan baru yang kalian ciptakan."


Kulirik Haruki yang juga ikut melirik ke arahku, sesuai yang Ayah perintahkan, tidak ada yang tahu jika akulah yang membuat benda atau makanan tersebut. Hanya para petinggi atau bangsawan di Kerajaan saja yang tahu serta para Kesatria yang memperhatikan aku tumbuh selama ini...


"Perhatian semuanya, kami membawa kabar langsung dari Kaisar," terdengar suara teriakan laki-laki mengetuk telinga.

__ADS_1


__ADS_2