Fake Princess

Fake Princess
Aniela Zygmunt (Side Story') II


__ADS_3

Makan malam, dengan keluarga lengkap mereka … Bagaimana caranya aku menyapa mereka?


“Aniela?”


Pandangan mataku dengan cepat beralih ke samping ketika suara perempuan terdengar, tubuhku semakin kaku saat perempuan bermata hijau itu berjalan mendekat dengan seorang laki-laki di belakangnya. “Apa yang kau lakukan di sini? Semuanya mungkin telah menunggu di dalam,” ucapnya tersenyum menatapku.


“Baik, kak,” tukasku tanpa sadar yang dibalas oleh senyuman darinya lagi.


Perempuan itu menoleh ke arah laki-laki yang berdiri di belakangnya, “Tsubaru, masuklah ke dalam terlebih dahulu!” perintahnya, laki-laki yang berdiri di belakangnya itu membungkukkan tubuhnya sebelum langkah kakinya bergerak melewati pintu.


“Apa kau gugup?” pandangan mataku kembali beralih padanya.


“Apa keluargaku terlihat menakutkan?” tukasnya lagi dengan mengangkat wajahnya ke atas.


“Tidak … Tidak, bukan itu. Mereka malah memperlakukanku sangat baik, bahkan lebih baik dibanding apa yang aku dapatkan di Kerajaanku sendiri. Aku-”


“Syukurlah. Salah seorang mata-mata Kakakku memberitahukan kami kabar mengenaimu,” ucanya mengalihkan pandangan ke arah pintu, “saat Kakak kami menceritakan hal tersebut, Eneas yang tidak terlalu banyak berbicara selama perjalanan tiba-tiba menyanggupi untuk menikahimu. Dia memang terlihat seperti laki-laki yang acuh, namun Eneas sangatlah bertanggung jawab akan apa yang dipercayakan kepadanya. Mungkin sekarang, kau masih belum mengerti akan kata-kataku,” ungkapnya yang kembali menoleh menatapku.


“Namun, setelah kau sedikit lama mengenalnya … Aku beruntung memilih untuk menikah dengannya, kata-kata tersebut akan keluar dari bibirmu langsung,” sambungnya sembari tersenyum dengan menarik tanganku, “cepatlah, aku lapar. Hari ini, Ibu sengaja memasak masakan lezat untuk kita semua. Kau akan menyesal jika tidak mencicipinya,” tukasnya lagi, genggaman tangannya merenggang saat kami telah berjalan melewati pintu.


Aku menoleh ke arahnya, langkahku berjalan ketika dia menepuk punggungku sambil menganggukkan kepalanya. Aku duduk di samping Eneas yang menundukkan wajahnya, kubuang kembali pandanganku ke arah makanan yang menghampar di atas meja saat sebelumnya mataku terjatuh ke wajahnya yang bersemu merah. “Ayah, paman Izumi mengambil makananku,” rengekan Hikaru yang terdengar mengangkat kembali pandanganku.


Lirikan mataku beralih ke arah suara tawa Izumi yang kuat terdengar, dia berdiri dengan sebuah piring berisi penuh makanan di tangannya. “Izumi, berikan makanan itu kembali padanya!”


“Kenapa Hikaru? Kau mengadu kepada Ayahmu? Lemah se-” tawa Izumi terhenti ketika sebuah apel melayang ke wajahnya.


“Haruki, kau sia-”

__ADS_1


“Izumi!”


Seluruh ruangan terdiam ketika Raja mengeluarkan suaranya, “berhenti mengganggu keponakanmu. Jika kau memang ingin sekali memiliki anak, nikahi pasanganmu dan berikan aku lagi beberapa orang cucu. Apa kau paham perkataanku?!”


Izumi mendecakkan lidahnya lalu duduk kembali ke kursinya, “kami memang akan menikah, namun setelah ini selesai. Kami, telah berjanji akan hal itu,” ucapnya duduk bersandar di kursi dengan menyilangkan lengan di dadanya.


Haruki beranjak, mengambil piring penuh makanan yang ada di depan Izumi kepada Hikaru yang duduk di sampingnya. “Makanlah yang banyak, kau ingin ikut Ayah pergi berpetualang, bukan?” Hikaru menganggukkan kepalanya diikuti kedua tangannya yang bergerak meraih piring di hadapannya.


“Hikaru, apa kau masih marah kepada Paman? Paman berjanji akan membawamu berkeliling lautan menggunakan kuda laut.”


“Tapi kata bibi Sachi, kuda laut milik Ayah lebih indah,” jawabnya, dia meraih sebuah garpu, menusuk garpu tersebut ke potongan-potongan kecil daging di hadapannya sebelum memakannya.


“Aku hanya menceritakan kenyataan nii-chan. Aku tidak menyangka jika dia akan menanggapinya serius,” tukas Sachi ketika tatapan Izumi beralih kepadanya.


“Hikaru, jika kau berbaikan dengan Paman Izumi. Bibi akan mengajakmu terbang berkeliling, bagaimana?”


Sachi menganggukkan kepala sambil tersenyum menatapnya, “baiklah. Hikaru melakukannya karena bibi Sachi yang memintanya,” ucapnya yang kembali mengunyah potongan daging di garpu yang ia genggam.


“Ayah,” timpal Sachi yang membuat Raja menoleh ke arahnya, “bagaimana dengan Ryu sekarang?”


Raja kembali mengarahkan pandangannya ke depan, “Ayah telah memberikan kabar kepadanya, kemungkinan dia akan pulang dari suku Azayaka tepat beberapa hari sebelum pernikahan Eneas.”


“Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Aku tidak menyangka, jika dia tiba-tiba memutuskan untuk belajar bela diri setelah dia telah kembali dapat berjalan," tukasnya yang lagi-lagi mengarahkan pandangan pada Raja.


“Karena dia ingin berjuang bersama saudaranya. Sama seperti apa yang kau lakukan saat kecil.”


“Ayah benar. Sepertinya ini sudah mengalir di darah kita,” sambut Sachi, Raja tersenyum dengan mengusap pelan kepalanya.

__ADS_1


________________.


Aku berjalan dengan kepala tertunduk, makan malam bersama seluruh keluarga Takaoka benar-benar menguras tenagaku. Aku tidak tahu, jika makan malam sebuah keluarga akan ramai seperti yang mereka lakukan. “Itu,” langkah kakiku dengan cepat berhenti saat suaranya terdengar.


Aku menarik napas dalam sebelum berbalik menatapnya, “apa kau, ingin ikut denganku? Aku, ingin mengajakmu berbicara sejenak,” tukasnya, wajahnya tertunduk dengan jari telunjuk menggaruk samping keningnya.


Aku menganggukkan kapala ketika dia mengangkat kembali pandangannya, dia terlihat menghela napas sebelum membalikkan tubuhnya, “lewat sini,” ucapnya sembari melangkahkan kaki meninggalkan.


Aku memainkan jari-jemariku sendiri sebelum kakiku melangkah mengikutinya, “duduklah!” pintanya, dia menepuk bagian samping dari bangku yang ia duduki sekarang.


Aku mengikuti apa yang ia katakan, lama kami berdua terdiam, tak mengeluarkan suara sedikit pun di antara kami. “Aku, hanya seorang asing yang beruntung dipungut oleh keluarga menakjubkan ini,” kedua mataku membesar ketika dia membuka suara.


“Aku, menyadari statusku yang bukanlah siapa-siapa ini. Jadi, setelah menikah dan kau ingin melepaskan diri dariku, aku tidak akan melarangmu. Aku, memutuskan untuk menikah denganmu, bukan karena aku merasa kasihan-”


“Atau semata-mata, aku hanya ingin menyelamatkanmu. Namun aku percaya, setiap manusia memiliki kesempatan. Jika aku, dapat membantumu mendapatkan kesempatan yang lebih baik, maka aku akan dengan senang hati melakukannya.”


“Kenapa? Padahal, kita belum pernah bertemu-”


“Aku pernah melihatmu,” ucapnya yang dengan cepat memotong perkataanku, “aku tak sengaja bertemu denganmu saat aku tersesat mencari Kakakku di Istana kalian. Dan jujur, sejak saat itu aku tidak bisa membuang bayanganmu dari pikiranku. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan melakukan hal yang tidak pantas kepadamu,” ucapnya beranjak berdiri menatapku.


“Ini sudah larut, aku akan mengantarmu ke kamar. Silakan,” tukasnya lagi sambil menganggukkan pelan kepalanya.


Aku beranjak berdiri di sampingnya, dia mengangkat tangannya seakan mempersilakan aku untuk berjalan terlebih dahulu. Aku melangkah dengan melirik ke arah bayangannya yang mengikutiku dari belakang. Kami berjalan beriringan tanpa mengeluarkan kata-kata, hanya suara dari langkah kaki kami saja yang terdengar mengiringi.


Aku berjalan mendekati pintu kamar, kuangkat sebelah tanganku membuka pintu tersebut. “Putri Aniela, selamat malam, semoga tidurmu nyenyak malam ini,” ungkapnya tersenyum saat aku mengarahkan pandangan ke arahnya.


Aku menganggukkan kepala seraya berjalan masuk ke dalam kamar. Tubuhku bersandar pada pintu saat pintu tersebut telah kututup kembali. Kuangkat tanganku menekan kuat dada, “apa yang terjadi? Jantungku, tidak berhenti berdetak cepat,” gumamku dengan semakin menekan tanganku itu.

__ADS_1


__ADS_2