Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXXXIV


__ADS_3

Aku menyentuh punggung Cia yang berjalan di depanku, kedua kaki kami melangkah ke luar rumah. Pandangan mataku beralih ke arah Haruki, Izumi, dan juga Eneas yang telah memakai pakaian yang biasa kami kenakan, entahlah … Mungkinkah ini ada hubungannya dengan lamanya kami tinggal di sini, yang sedikit membuatku merasa aneh melihat mereka telah kembali mengenakan pakaian pada umumnya.


Haruki dan Izumi mengarahkan kepalanya menoleh ke arahku, “cepatlah,” ucap Izumi saat aku dan Cia berjalan menuruni anak tangga, “kenapa mendadak sekali seperti ini? Aku bahkan belum berpamitan dengan Irin dan juga yang lain,” ungkapku saat mereka bertiga telah melangkahkan kaki berjalan.


“Haruki, apa kau mengetahui sesuatu?” Izumi kembali menanyakan hal yang sama, kali ini kepada Haruki, “aku tidak tahu. Tapi yang pasti, jika dia meminta pergi … Maka sudah seharusnya kita menuruti perintahnya itu,” jawab Haruki tanpa menoleh ke arah Izumi.


“Sebenarnya, ada apa dengan desa ini? Dari awal aku memanglah ingin menanyakannya, kenapa kau bisa sangat tertarik pada desa ini?” Haruki menghentikan langkah kakinya, “apa aku harus menjawabnya sekarang?” Sambung Haruki sebelum dia kembali melanjutkan langkah kakinya berjalan.


Izumi menatap lama Haruki sebelum dia kembali berjalan mengikuti langkah kakinya. Aku mengalihkan pandangan ke sekitar, kutatap para penduduk desa yang telah berkumpul mengarahkan pandangan ke arah kami yang tengah berjalan semakin mendekati mereka.


“Kalian telah datang, kemarilah!” Nenek Sabra yang duduk di tengah-tengah mereka melambaikan tangannya ke arah kami.


Aku duduk berlutut di hadapannya saat Haruki, Izumi maupun Eneas telah melakukan hal yang sama, “kalian telah menjadi bagian dari kami,” ucap nenek Sabra menatap kami saat satu per satu dari kami mengangkat kembali wajah menatapnya.


“Aku, akan selalu mengawasi kalian. Berhati-hatilah, cucu-cucuku,” ucap nenek Sabra kembali kepada kami.


Mengawasi? Selalu mengawasi?


“Terima kasih, atas semua bantuanmu selama ini nek. Kami merasa terhormat menjadi bagian dari kalian,” Haruki menganggukkan kepalanya sebelum dia kembali beranjak berdiri.


Kugerakkan tubuhku kembali beranjak berdiri, kutatap para penduduk yang berdiri mengelilingi kami, “nii-chan, di mana kuda kita?” Tanyaku kepada Haruki saat dia telah berdiri di sampingku, “jangan gunakan kuda! Kembalilah secepatnya!” Suara nenek Sabra yang meninggi terdengar mengagetkan.


Aku berbalik menatapnya, “gunakan dia. Pulanglah secepatnya! Kalian akan membuang banyak waktu jika menggunakan kuda,” nenek Sabra kembali berbicara dengan kedua matanya menatap tajam ke arahku.

__ADS_1


Kenapa? Sebenarnya apa yang terjadi?


Kepalaku sedikit tertunduk, berusaha mencerna semua yang terjadi di sini, “Sa-chan,” suara Haruki kembali terdengar, lama aku menatapnya sebelum kubalas tatapannya itu dengan anggukan kepala dariku.


“Kou, datanglah! Aku membutuhkan bantuanmu,” ucapku pelan dengan sedikit mengadahkan kepalaku ke atas.


Para penduduk desa tiba-tiba bergerak mundur saat Kou terbang mengitari mereka, bahkan di antara mereka ada yang duduk meringkuk menjauhi kerumunan, “My Lord,” ucap Kou saat dia telah menapakkan kakinya di tanah.


“Kou, bawa kami semua pulang ke rumah,” ucap Haruki yang telah berdiri di sampingku, “rumah? Sora?” Tanyaku menoleh ke arahnya, Haruki menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke arahku.


___________________


Kepakan sayap Kou membawa kami menyusuri langit, “Haruki! Setidaknya beritahukan kepada kami apa yang terjadi?!” Izumi bersuara keras dari arah belakang.


“Apa yang kau maksudkan?!” Izumi kembali meninggikan suaranya, kugerakkan kepalaku berusaha menoleh ke arah mereka.


“Nenek Sabra, dia bisa meramal apa yang akan terjadi ke depannya. Jika dia meminta kita pulang, itu berarti akan terjadi sesuatu pada Kerajaan kita,” jawab Haruki diikuti semakin bisingnya suara angin yang terdengar di sekitar.


“Kita tinggal lama bersama mereka, itu bukan hanya sekedar tinggal. Tapi nenek Sabra ingin membangun ikatan emosional dengan kita semua, karena semakin kuat ikatan itu … Ramalannya akan semakin benar,” sambung Haruki kembali terdengar.


Ramalan? Apakah akan terjadi sesuatu di antara kedua kakakku?


“Nii-chan, apa kau yakin?” Aku berusaha menepis semua kekhawatiran yang memenuhi tubuhku, “Ratu Alelah sendiri yang memberitahukan semuanya padaku. Nenek Sabra melarikan diri dari Kerajaannya, karena dia telah mengetahui jika Ibunya akan tetap memerhatikan adiknya dan bukan dia,” ucapan Haruki kembali mengingatkan aku tentang kisah yang diceritakan nenek Sabra terdahulu.

__ADS_1


“Kou, lebih cepat Kou. Bawa kami lebih cepat pulang ke rumah,” Haruki kembali bersuara di belakangku.


"Kou, kau dengar apa yang dikatakan Kakakku bukan? Bawa kami lebih cepat Kou,” ucapku menimpali perkataan yang diucapkan Haruki sebelumnya.


Kou menggerakkan sayapnya semakin cepat dibanding sebelumnya, kutatap hamparan air laut yang ada di bawah kami, sinar matahari yang jatuh di atas permukaannya membuat laut tersebut terlihat berkilau dari kejauhan.


Kepakan sayap Kou semakin kuat terasa saat asap hitam membumbung tinggi jauh di hadapan kami, “apa yang terjadi? Kebakaran?” Suara Izumi terdengar bergetar dari arah belakang.


Kepalaku bergerak sedikit ke pinggir, menatap beberapa bangunan yang ada di Kerajaan kami hangus terbakar. Puing-puing kayu bercampur batu memenuhi jalanan, “a-apa yang terjadi di sini?” Suaraku ikut terdengar bergetar keluar.


Aku menoleh ke arah Haruki dan juga Izumi yang telah melompat dari atas tubuh Kou saat Kou telah kembali mendarat di tanah, tubuhku gemetar saat kudengar suara tangis pilu yang terdengar hampir di segala arah, “nee-chan,” aku sedikit terhentak lalu menoleh ke arah Eneas yang telah meraih tanganku.


“E-Eneas, bantu aku me-menurunkan Cia,” ucapku terbata menatapnya, “tentu,” jawab Eneas mengarahkan tangannya ke arah Cia yang duduk di depanku.


Aku bergerak turun dari atas punggung Kou saat Cia telah berdiri di samping Eneas, kugerakkan telapak tanganku ke atas hingga penutup kepala dari jubah yang aku kenakan itu terjatuh. Kakiku gemetar, terasa berat untuk melangkah, aku melirik ke arah jejak kaki kedua kakakku yang tercetak pada abu yang memenuhi jalan.


Kedua kakiku berlari cepat mendekati seorang perempuan yang terjatuh dengan seorang anak di gendongannya, “kalian, baik-baik saja?” Ungkapku menggunakan bahasa Jepang, kugerakkan kedua tanganku menyentuh pundak perempuan itu.


Perempun paruh baya itu mengangkat wajahnya ke arahku, “rambut cokelat bergelombang, mata hijau,” ucapnya diikuti kedua matanya yang sedikit membesar menatapku, “Hi-Hime-sama,” ucapnya lagi dengan suara bergetar terdengar.


“Putri,” tangis perempuan itu diikuti tubuhnya yang duduk membungkuk di hadapanku, “angkat kepalamu,” ucapku memegang kedua pundak perempuan tadi.


“Apa Putri hidup kembali? Atau kami...” Ucap perempuan tadi dengan sedikit terbata-bata, “tenanglah, aku masih hidup,” ucapku dengan mengangkat sebelah tanganku menyentuh dada.

__ADS_1


“Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanyaku pelan seraya kugenggam erat tangan kirinya yang gemetar ketika kusentuh sebelumnya.


__ADS_2