Fake Princess

Fake Princess
Chapter DV


__ADS_3

Ryuzaki menghentikan langkah kakinya, wajahnya sedikit termangu dengan menatap kami bergantian, “kenapa kalian jadi menghening seperti ini? Apa aku, mengganggu kalian?” tanyanya dengan kembali menatapi kami.


Aku melirik ke arah Lux yang masih diam tertunduk. “Ryu, duduklah! Apa kau ingin memakan sesuatu?” tanya Izumi ketika dia berbalik menatapi Ryuzaki.


Ryuzaki berjalan maju tanpa menanggapi perkataan yang Izumi ucapkan, “Sachi, aku ingin meminum sesuatu yang hangat. Dan aku, tidak menemukan Arata,” ucap Ryuzaki saat dia menghentikan langkahnya di hadapanku.


“Apa kau tahu, dapur ada di mana?” Aku balik bertanya yang langsung dibalas dengan anggukan pelan darinya.


Aku beranjak berdiri, “baiklah. Aku akan membuatkanmu sesuatu.”


Ryuzaki berbalik, dia melangkah maju … Kuikuti langkah kakinya itu yang bergerak menjauhi mereka semua. Dia masih berjalan dengan kepala tertunduk, “Ryu, kau ingin aku membuatkanmu minuman apa?”


Ryuzaki masih terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan yang aku lontarkan. Langkah kakiku terhenti saat dia yang berjalan di depanku telah menghentikan langkahnya terlebih dahulu. Aku berjalan melewatinya memasuki ruangan yang ada di hadapannya, “Ryu, apa yang ingin kau mi-” ucapanku terhenti, kedua mataku membesar saat pandanganku itu tertuju kepadanya yang duduk berjongkok dengan meringkukkan tubuhnya.


Dengan cepat, aku segera berlari mendekatinya … Kakiku kutekuk hingga aku pun telah duduk berjongkok di hadapannya, “Ryu, apa yang terjadi?” tukasku sembari mengangkat kedua tangan, berusaha untuk meraih wajahnya yang ia sembunyikan di balik kedua lengannya yang terlipat.


“Apa yang terjadi padanya?”


Aku mengangkat wajahku saat suara laki-laki terdengar, “nii-chan, aku tidak tahu … Ryu, kau kenapa?” tanyaku kembali menatap Ryuzaki setelah sebelumnya pandanganku mengarah kepada Haruki yang berdiri di belakangnya.


“Ryu, apa kau merasa tidak sehat?” tanya Haruki, aku melirik ke arahnya yang juga telah duduk berjongkok di sampingnya.


Aku tertegun saat suara sesenggukan terdengar darinya, “Ryu, jangan membuatku khawatir seperti ini!” bentakku sambil beranjak berdiri kembali.

__ADS_1


“Sebenarnya apa yang terjadi? Jika kau sakit atau terluka, katakan! Jangan hanya diam yang membuat pikiranku malah jadi kacau menduga-duga apa yang terjadi!” Aku menggigit kuat bibirku ketika aku telah selesai membentaknya.


“Apa yang terjadi?”


“Nee-chan.”


Aku mengangkat wajahku saat suara Izumi dan juga Eneas terdengar bergantian, “Haruki, Sachi, apa yang terjadi?” tanya Izumi kembali saat dia melangkah mendekati.


“Aku pun tidak tahu, dia tiba-tiba saja sudah seperti ini,” ucap Haruki, dia mendongakkan kepalanya … Menatap Izumi yang berdiri di sampingnya.


Izumi berjongkok di samping Haruki setelah dia melirik ke arahku, “Ryu, apa kau baik-baik saja? Jika tidak, Kakak akan memapahmu ke kamar,” tukas Izumi, dia mengangkat tangannya mengusap punggung Ryuzaki.


“Maafkan aku … Maafkan aku … Maafkan aku,” ucapnya berulang yang sedikit terputus oleh sesenggukan yang ia keluarkan.


Kami bertiga lama bertatap satu sama lain, “Ryu, apa ada yang ingin kau makan? Kakakmu ini, akan memasakkan makanan lezat untukmu,” tukas Izumi yang masih berusaha untuk menenangkannya.


Aku menggigit kuat bibirku lalu membungkuk mendekatinya, kutarik lengannya hingga wajahnya terangkat menatapku sebelum sebelah tanganku yang lain menampar kuat wajahnya, “apa kau bodoh? Jangan menangisi sesuatu yang belum terjadi!” bentakku sambil mencengkeram kuat pakaiannya.


Aku melirik ke arah Haruki yang telah beranjak berdiri, dia berjalan mundur … Semuanya terdiam saat Haruki memukul kuat dinding kayu yang ada di belakangnya hingga hancur, “Sachi, jelaskan padaku apa yang terjadi, semuanya. Izumi, Eneas, bawa Ryuzaki ke kamarnya!” Eneas menganggukkan kepalanya saat Haruki melirik ke arahnya.


“Sachi, ikuti aku!” tukas Haruki, dia mengangkat kembali tangannya dari lubang di dinding yang ia buat sebelum dia melangkahkan kakinya pergi.


Aku berjalan mengikuti Haruki yang membawa kami ke dalam sebuah kamar, Haruki berjalan mendekati ranjang yang ada di dalam ruangan lalu mendudukinya, “ceritakan padaku apa yang kau sembunyikan, Sa-chan,” ucap Haruki, dia masih menundukkan pandangannya dengan menggenggam kuat kedua tangannya.

__ADS_1


“Apa aku boleh masuk?”


Aku berbalik saat suara pintu bergerak terdengar. “Aku memintamu untuk mengurusnya, bukan?” tukas Haruki saat Izumi berjalan masuk lalu menutup kembali pintu tersebut.


Izumi berjalan melewatiku, “aku meminta Eneas dan juga Lux untuk menjaganya. Lagi pun, aku sama penasarannya sepertimu, kakak,” tukas Izumi sambil membaringkan tubuhnya di ranjang yang sama dengan yang Haruki duduki.


Aku kembali menggigit kuat bibirku saat pandangan mereka berdua mengarah kepadaku, aku membuang pandangan diikuti helaan napas kuat sebelum kedua kakiku berjalan mendekati ranjang lalu duduk di samping Haruki, “aku tidak tahu, kalian akan mempercayai hal ini atau-”


“Kami percaya.”


“Kami akan percaya,” ucap Izumi dan juga Haruki bergantian yang memotong perkataanku.


“Bisa dikatakan, ini kehidupan kedua untuk kita semua.”


Aku menggaruk keningku sendiri saat kedua mataku melirik ke arah mereka yang saling tatap terdiam, “Ryu, bisa memutar kembali waktu. Apa kalian ingat, sihir waktu yang berlambangkan bunga mawar? Saat Ryu menggunakannya, bunga mawar akan tumbuh di sekitarnya. Seperti apa aku menjelaskannya, mimpi buruk yang aku ceritakan sebelumnya … Tidak lain, adalah masa lalu kita semua sebelum Ryu menggunakan sihir terlarang itu.”


“Dia mengatakan kepadaku, tidak ada lagi kesempatan untuk kali ini … Dia tidak bisa menyelamatkan kita lagi, jika akhirnya kita gagal kembali kali ini,” tukasku terhenti, aku menarik napas panjang sebelum mengembuskannya kembali, “aku, melihat kematianku sendiri saat melawan Kaisar. Aku, melihat saat kepala Kou terbang lalu jatuh ke tanah. Aku, melihat kepalaku sendiri ditembus oleh kuku naga milik Kaisar sebelum tubuhku itu ditelannya.”


“Karena itulah, aku takut,” tukasku hampir seperti berbisik dengan menundukkan pandangan.


“Aku mengerti.”


Kepalaku terangkat, menatap Haruki yang mengatakannya, “nii-chan, apa kau … Sama sekali tidak khawatir?” tanyaku menatapnya yang telah beranjak berdiri melangkah mendekati jendela.

__ADS_1


“Aku khawatir. Tapi itu bukan berarti, aku akan berdiam diri saja seperti itu,” ucapnya sambil duduk di jendela itu, “lagi pun, aku tidak mengingat apa yang sebelumnya terjadi … Itu berarti, akan ada jalan lain yang membuat kita bisa menghindari itu semua. Dan juga, bukankah bagus jika Ryu mengingat semua kejadian yang lalu … Dengan begitu, kita akan belajar dari semua kesalahan, lalu menyusun rencana yang berbanding terbalik dari semua rencana yang membuat kita gagal.”


“Hidup baru, rencana baru, dan hasil yang baru. Kegagalan ada untuk dapat membuat kita belajar, bukan untuk membuat kita menyerah,” sambung Haruki kembali sambil tersenyum menatapku.


__ADS_2