
"Apa kau baik-baik saja Julissa?" ucapku, kuarahkan pandanganku pada Julissa yang duduk berselimut tikar dan kain mengelilingi tubuhnya.
"Bagaimana denganmu sendiri? Udara di sini sudah sedikit panas, ini seperti tubuhku direbus dua kali," ungkap Julissa balas menatapku.
"Aku pun merasakan hal yang sama sepertimu, tapi mau bagaimana? Jika aku menggunakan Kou, aku akan kehilangan kesempatan untuk merasakan kebudayaan Kerajaan lain," ungkapku, kualihkan pandanganku dari Julissa, sesekali mataku berkedip-kedip berusaha menahan keringat yang mengalir dari dahi.
Kugerakkan kepalaku ke atas menatap langit-langit, beberapa kali helaan napas dariku keluar. Seluruh tubuhku diselimuti udara hangat, keringat yang mengalir keluar tak menghilangkan rasa hangat tersebut...
Kualihkan pandanganku kembali pada Ajeng yang berjalan mendekati dengan perempuan-perempuan sebelumnya yang juga ikut berjalan di belakangnya. Beberapa perempuan tadi berjalan mendekati kami...
Kualihkan pandanganku pada seorang perempuan yang mengangkat kain-kain yang sengaja dibentangkan oleh mereka di atas tikar yang mengelilingi tubuhku, diletakkannya kain-kain tadi di samping kakinya seraya kembali beranjak berdiri ia meraih tikar yang membungkus tubuhku itu...
Kualihkan pandanganku pada kedua lengan yang basah mengkilap oleh keringat, kuangkat kedua telapak tanganku menyapu keringat yang memenuhi leher. Kain kecokelatan yang aku kenakan terasa ikut basah menyentuh tubuhku.
Beranjak berdiri aku dari kursi, kutatap air rebusan yang ada di bawah kursi bambu tersebut masih sedikit mengepulkan asapnya. Kuarahkan kembali pandanganku ke depan sembari kugerakkan kedua kakiku melangkah mendekati Ajeng yang telah berdiri menatapi kami...
"Ritual hari ini sampai disini dulu, kalian berdua bisa kembali ke kamar masing-masing kecuali calon pengantin perempuan. Besok aku menunggu kalian kembali untuk berlatih menari di sini," ucapnya, kutatap dia yang juga telah mengalihkan pandangannya kembali padaku.
_________________
Kugerakkan leherku ke kiri dan ke kanan seraya ikut kugerakkan telapak tanganku menepuk-nepuk pelan leherku. Kakiku melangkah menyusuri lorong Istana sesekali kuangkat kepalaku ke atas...
"Apa kalian telah selesai?"
"Kau menungguku?" ucapku, kugerakkan kepalaku menatap padanya yang telah berdiri bersandar di dinding lorong.
"Kalian lama sekali, apa yang sebenarnya kalian lakukan di sana?" ungkapnya berjalan ke arahku, digerakkannya kedua tangannya ke belakang kepalanya.
__ADS_1
"Mereka melulur seluruh tubuhku, dan juga betangas... Seperti mandi uap," ucapku ikut berjalan mendekatinya.
"Ini hanya perasaanku saja, atau memang wangi tubuhmu sedikit berubah?" ungkapnya seraya mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Lulur nya menggunakan rempah-rempah, dan uap yang digunakan berasal dari rebusan rempah-rempah juga. Jadi tentu saja tubuhku ikut mengikuti wangi dari rempah-rempah itu," sambungku, ikut kuangkat lengan kananku mendekati hidung lalu menciuminya.
"Begitukah?"
"Kenapa?" ucapku, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya.
"Tidak ada apa-apa," sambungnya seraya mengalihkan pandangannya dariku.
"Kau aneh sekali? Apa kau yakin baik-baik saja?" ungkapku, kugerakkan kedua kakiku berjalan melewatinya.
"Entahlah, Ayahmu menghujaniku dengan beribu-ribu pertanyaan. Benar-benar membuatku bergidik," sambungnya, ikut terdengar suara langkah kaki mengikuti.
"Apa kau membuat masalah lagi padanya?"
"Sachi..."
"Ada apa?" balasku seraya tetap kuarahkan pandanganku menatap lurus ke depan.
"Seperti yang Ayahmu katakan..."
"Ayahku? Apa yang ia katakan?" ungkapku kembali, kuarahkan pandanganku menatap padanya yang juga berjalan di sampingku.
"Dia hanya bertanya, apa yang harus aku lakukan ke depannya... Aku bahkan meninggalkan Akash dan Kabir untuk memantau Kerajaan," ucapnya seraya tetap kupandangi dia yang berjalan lalu duduk bersandar di dinding lorong.
__ADS_1
"Apa ada masalah?" ucapku, ikut kulangkahkan kakiku duduk di sampingnya.
"Bukan masalah besar, hanya saja... Aku pikir, aku akan kesulitan mengendalikan diri saat melakukan pemberontakan... Kau tahu sekali bukan, bagaimana aku membenci mereka semua," ucapnya menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Kau takut aku membencimu jika kau sampai membunuh Ayahmu?"
"Zeki," ucapku, ikut kusandarkan kepalaku di kepalanya.
"Aku tidak ingin kau kehilangan dirimu sendiri, aku mungkin akan kecewa... Tapi aku tidak akan membencimu, tidak akan," sambungku lagi padanya.
"Apa kau masih ingat? Aku ingin bahagia, apakah aku tidak bisa mendapatkannya dengan mudah? Aku merasakan kata-kata itu juga berlaku untukku..."
"Kau bisa mendapatkannya mungkin jika dari awal kau..."
"Kau bodoh, kau pikir apa yang aku lakukan sekarang? Tentu saja aku mati-matian memperjuangkan kebahagiaan untuk kita berdua," ucapnya memotong perkataanku yang menyela kata-katanya sebelumnya.
"Aku sudah katakan bukan, aku akan mendukungmu... Aku akan selalu mendukungmu," ucapku, kugerakkan wajahku mencium kepalanya.
"Aku tahu," ucapnya, beranjak kembali ia duduk di sampingku.
Kualihkan pandanganku pada telapak kirinya yang telah menyentuh leherku, kembali kugerakkan kepalaku menatapnya yang juga telah menatapku. Lama ia melakukannya tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku...
"Maaf," ucapnya pelan menatapku.
Kutatap wajahnya yang mendekat ke arahku, ditariknya ke depan tangannya yang menyentuh leherku sebelumnya. Kualihkan pandanganku pada Zeki yang telah memiringkan kepalanya semakin mendekati...
Kurasakan sebelah tangannya yang lain bergerak menyingkap rambut yang menutupi leherku, tubuhku terhentak pelan saat bibirnya menyentuh leherku... Semakin kuat genggaman tanganku pada pakaian yang ia kenakan saat tarikan napas yang ia lakukan di sana semakin dalam...
__ADS_1
Ciuman itu terhenti, rasa lembab di leherku masih sedikit kurasakan. Kualihkan pandanganku yang sedikit mengabur menatapnya, jari-jemarinya bergerak menyingkap sedikit rambutku yang menutupi wajah...
"Cepatlah berusia tujuh belas tahun Takaoka Sachi, jangan membuatku menunggu terlalu lama," ucapnya seraya ikut kurasakan bibirnya kembali menyentuh dahiku.