Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXXXII


__ADS_3

Kuda yang kami tunggangi terus berjalan menembus jalanan yang masih sepi. Sesekali, aku mendongakkan kepala … Menatap, langit yang perlahan mulai terang. Dari kejauhan, tampak beberapa buah perahu yang berjejer di sebuah gubuk, laki-laki bernama Fabian itu turun dari atas kuda miliknya, diikuti kedua kakinya yang berjalan mendekati gubuk yang aku maksudkan.


Izumi turut turun dari atas kuda miliknya ketika Haruki sendiri telah berjalan mengikuti Fabian mendekati gubuk tersebut. Lama kami menunggu mereka yang berjalan masuk, sebelum akhirnya mereka keluar dengan membawa sebuah kotak kayu besar yang mereka angkat bersamaan. Aku beranjak turun, ketika kotak yang mereka angkat itu mereka letakkan di tengah-tengah kami.


“Apa itu nii-chan?” tanyaku yang melangkahkan kaki mendekati mereka.


Haruki mengangkat kepalanya menoleh ke arahku, “ini perlengkapan kita selama di sana,” jawab Haruki, kepalanya tertunduk menatap Izumi dan juga Fabian yang menggerakkan tangannya membuka kotak kayu tersebut.


Aku berbalik lalu berjalan mendekati kuda milik Haruki dan juga Izumi, kutarik tali kekang kuda mereka sembari kubawa mendekati gubuk lalu kuikatkan tali kekang tersebut ke pasak kayu yang ada di sekitar gubuk. Aku kembali berbalik, meraih tali kekang kuda milikku yang sudah digenggam erat Eneas, lalu kembali melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan sebelumnya.


“Lakukan hal yang sama untuk kuda-kuda kami!”


Aku beranjak lalu menoleh ke belakang ketika suara laki-laki itu kembali terdengar, “kau siapa yang memerintahkan kami?!” suara Eneas yang terdengar di sampingku membuat tatapan mataku teralihkan.


“Kami Bangsawan di sini, lagi pun … Aku memerintahkan perempuan ini! Apa bersembunyi di balik jubah bisa menyembunyikan tubuh perempuannya itu,” tukas laki-laki itu kembali dengan melirik ke arahku.


“Sayang sekali, walau aku perempuan. Kau, sama sekali tidak memiliki hak untuk memerintahku. Setidaknya, jadilah seorang Raja yang memiliki banyak sekali harta, mungkin aku baru akan memikirkannya, Pa-nge-ran,” ucapku sambil menepuk dadanya sebelum melangkah pergi melewati mereka berempat.


Matahari semakin meninggi, keadaan di sekitar sudah tak lagi gelap seperti sebelumnya. Beberapa keperluan sudah dipindahkan oleh Haruki, Izumi, Eneas dan juga Fabian ke masing-masing perahu. “Naiklah!” tatapan mataku beralih ke arah Haruki yang tengah melambaikan tangannya ke arahku.


Aku berjalan meraih tangan Haruki sambil kakiku bergerak perlahan menaiki perahu. Aku duduk di sana dengan melirik ke arah Izumi yang berdiri dengan sebuah kayu panjang yang menjadi dayung di tangannya. Aku, Haruki, Izumi, Eneas, naik ke dalam satu perahu. Sedangkan, mereka berlima, termasuk perempuan yang mirip dengan Luana, naik ke perahu lainnya.

__ADS_1


Perahu kami mulai berjalan perlahan menyusuri sungai, biasanya aku akan memainkan tanganku ke dalam air sesekali ketika menaiki perahu. Namun kali ini, aku tidak memiliki keberanian untuk melakukannya. Kata-kata yang menjelaskan betapa berbahayanya tempat ini, seakan menjadi momok sekaligus tantangan untukku.


“Apa yang mereka lakukan di depan?”


Suara Izumi membuatku mengalihkan pandangan ke arah yang ia maksudkan. Lama kutatap mereka yang tengah duduk dengan mengarahkan anak panah mereka ke atas. “Izumi, pelankan perahu! Jangan terlalu dekat dengan mereka,” tukas Haruki setengah berbisik, aku melirik ke arahnya yang masih membuang pandangan ke mereka berempat.


Tatapan mataku kembali teralihkan ketika suara cipratan air terdengar tak terlalu jauh di depan kami. Masih kutatap mereka yang terlihat tertawa di atas perahu dengan kembali mengarahkan anak panah mereka ke udara, “aku benar-benar tidak menyukai manusia yang tak memiliki pikiran seperti mereka,” gumaman Haruki di sampingku terdengar pelan mengusik.


Aku masih menatapi mereka yang kembali memanah hingga beberapa burung yang sebelumnya terbang di atas kepala mereka, terjatuh ke sungai oleh anak panah yang mereka tembakkan itu. “Nii-chan, kenapa kita tidak meninggalkan mereka saja? Maksudku, dengan jarak sejauh ini, kita bisa melarikan diri dari mereka.”


“Sayangnya, mereka menahan Fabian untuk menahan kita, lebih tepatnya aku, supaya tidak melarikan diri. Maafkan aku, tapi dia sudah seperti adikku sendiri.”


“Tidak apa-apa nii-chan. Aku paham perasaanmu,” jawabku sebelum kembali menatap sinis ke arah perahu yang ada di depan kami.


Perahu milik kami terus berjalan perlahan di belakang mereka, “Izu-nii, apa kau kelelahan?” tanyaku dengan tetap menjatuhkan pandangan ke arah Fabian dan juga saudari kembar Luana yang terlihat kelelahan mendayung perahu yang mereka tumpangi.


“Jangan menyamakanku dengan mereka. Aku tidaklah selemah itu,” jawab Izumi terdengar dari belakang.


“Kalau kau ingin gantian, hanya katakan saja. Kau mengerti, Izumi!”


“Aku tahu, tidak perlu khawatir seperti itu,” kali ini Izumi menjawab perkataan Haruki kepadanya.

__ADS_1


Aku kembali membuang pandangan ke arah permukaan air sungai yang mengalir tenang. Kedua mataku membesar, dengan cepat aku menggenggam erat lengan Haruki yang ada di sampingku … Ketika mataku tersebut, terjatuh ke arah sepasang mata yang kembali menenggelamkan tubuhnya lagi ke dalam sungai.


“Ada apa, Sa-chan?”


Aku mengalihkan pandangan ke arah Haruki, “ada sepasang mata yang mengintai kita di dalam sungai,” bisikku, kepala Haruki sedikit bergerak ke arah yang aku maksudkan setelah aku mengatakan hal tersebut kepadanya.


“Eneas, kau mengerti, bukan?”


Aku turut menoleh ke arah Eneas yang duduk di belakang kami. Eneas menganggukkan kepalanya sebelum dia tertunduk dengan tangannya merogoh ke dalam tas yang ia bawa. “Persiapkan anak panahmu, lalu lumuri mereka dengan racun yang Eneas buat. Kita tidak tahu, apa yang akan kita lawan … Jadi-”


“Panah beracun satu-satunya senjata yang sangat aman kita gunakan untuk berburu. Aku tahu hal itu, nii-chan. Tapi sebelum itu,” ucapku memotong perkataan Haruki.


Aku beranjak dengan menjatuhkan penutup kepala di jubah yang aku pakai. Aku menggerakkan tangan meraih busur panah milikku dengan mengambil sebuah anak panah yang juga ada di punggungku. Mataku memicing sebelum anak panahku itu melesat melewati samping kepala salah satu di antara mereka yang berperahu di depan kami.


“Tutup mulut kalian, sialan! Jika ingin mati, mati saja sendiri!” bentakku saat perahu milik mereka berhenti diikuti semua tatapan dari mereka yang mengarah padaku.


“Apa yang ka-”


“Apa yang aku lakukan? Kau ingin bertanya apa yang aku lakukan?!” Aku kembali memotong ucapan salah satu di antara mereka dengan membentaknya.


“Bangsawan manja seperti kalian sangatlah mengganggu penglihatanku. Aku sudah katakan, jika ingin mati, maka mati saja sendiri! Dengarkan aku, kalian para bangsawan sialan! Kalau perbuatan kalian membahayakan keluargaku, aku sendiri yang akan mencabut nyawa kalian secara bersamaan!”

__ADS_1


Aku melirik ke belakang ketika suara tawa Izumi menimpali perkataanku, “dengarkan dia, sialan! Kakak kami memang memperbolehkan kalian ikut, tapi itu bukan berarti … Kami tidak diperbolehkan membunuh kalian semua. Kalau apa yang kalian lakukan, menghambat jalan kami,” aku tersenyum kecil menatapi mereka ketika Izumi menghentikan kata-katanya.


__ADS_2