Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLIII


__ADS_3

Kedua kakiku melangkah menyusuri lorong Istana, kuangkat kedua tanganku mengikat rambut dengan pita kain berwarna merah yang diberikan Sasithorn tadi sore. Langkah kakiku terhenti sejenak saat kutatap Sanjiv yang tiba-tiba muncul dari arah kanan, Sanjiv menghentikan langkah kakinya lalu membungkukkan tubuhnya ke arahku.


"Bagaimana? Apa kau telah berhasil menemukan adikmu?" Tanyaku sembari kembali melangkahkan kaki melewatinya.


"Aku berhasil menemukannya," ucapnya, langkah kakiku terhenti lalu berbalik menatapnya, "benarkah?" Tanyaku kepadanya dengan sedikit antusias.


"Tapi dia ditemukan sudah tak bernyawa," ucapnya kembali dengan sedikit mendongakkan kepalanya. "Maafkan aku," ucapku saat dia kembali menurunkan pandangannya.


"Tidak perlu meminta maaf Hime-sama. Setidaknya aku sempat bertemu kembali dengan adikku, terima kasih," ucapnya kembali membungkukkan tubuhnya ke arahku.


"Tidak perlu berterima kasih, aku hanya melakukan semua tugas yang diberikan kepadaku," ungkapku, tubuhku kembali berbalik lalu melangkah meninggalkannya.


"Bagaimana dengan keadaan di luar?" Aku kembali membuka suara diikuti kedua mataku yang masih menatap sedikit kosong ke depan.


"Aku telah memerintahkan pasukanku untuk berjaga di atas benteng. Jika ada pasukan musuh yang menyerang, mereka akan langsung memberikan kabar," ucap Sanjiv diikuti langkah kaki yang mengikuti dari arah belakang.


"Baguslah jika seperti itu."


Kami melangkah beriringan tanpa mengeluarkan suara selain suara langkah kaki yang memang tak terelakkan. Kedua kakiku melangkah memasuki suatu ruangan yang ada di pojok kiri Istana, kutatap mereka semua yang telah duduk menunggu di kursi masing-masing dengan berbagai hidangan yang memenuhi meja di hadapan mereka.


"Kalian datang beriringan?" Tukas Izumi menoleh ke arah kami, "kami tidak sengaja bertemu di lorong," ucapku melangkah mendekati kursi yang ada di sampingnya lalu menarik kursi tersebut sebelum mendudukinya.


"Kak Sasithorn, terima kasih karena telah menjaganya," ucapku menatap ke arahnya, "aku senang bisa membantu kalian," ucapnya diikuti sebelah tangannya menyentuh kepala Cia yang duduk di tengah-tengah antara dia dan juga Luana.

__ADS_1


"Ini sudah hari ketiga sejak kita mengambil alih ibukota Kerajaan Tao. Bagaimana? Apa ada sesuatu yang ingin kalian laporkan padaku?" Tanya Haruki, pandangan matanya melirik ke arah kami bergantian.


"Persediaan makanan kita semakin menipis, jika seperti ini terus ... Kita akan mengalami nasib yang sama seperti mereka yang kita buat kelaparan," ucap Arata, dia mengambil gulungan kertas yang diberikan oleh seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya, lalu memberikan gulungan tersebut kepada Haruki.


"Apa ini?" Tanya Haruki saat membuka gulungan kertas yang diberikan Arata sebelumnya. "Sisa bahan makanan yang tersimpan di gudang, berserta perhitungan kapan habisnya bahan makanan tersebut," ucap Arata kembali kepada Haruki.


"Aku mengerti, bagaimana dengan yang lainnya?" Ungkap Haruki kembali menggulung kertas tadi lalu meletakkannya di samping piring miliknya.


"Aku mendapatkan laporan dari anak buahku yang menyamar menjadi warga desa di perbatasan. Mereka mengatakan, jika banyak sekali pasukan yang bergerak ke arah kita," ucap Gritav menjawabnya.


"Jadi mereka sudah mulai bergerak, lebih cepat dari yang aku pikir," sambung Haruki, dia duduk bersandar di kursinya dengan kedua lengannya menyilang di dada.


"Apakah ada yang ingin kalian laporkan lagi?"


"Aku telah mengumpulkan senjata yang musuh miliki, kita bisa memakai semua senjata tersebut untuk menghalau serangan yang akan datang," ucap Izumi, kedua tangannya meletakkan cangkir yang ada di genggamannya kembali ke atas meja.


"Kita hanya harus mempertahankan benteng sampai bala bantuan datang," ucap Haruki kembali terdengar, kuangkat kembali kepalaku menatapnya, "bala bantuan?" Aku berbalik bertanya padanya.


"Sebelum kita memulai penyerangan, aku telah meminta bantuan untuk berjaga-jaga jika rencana yang kita buat gagal," ucap Haruki, tubuhnya sedikit bergerak maju diikuti tangan kanannya meraih cangkir yang ada di dekatnya.


"Jadi aku pikir, mereka akan sampai beberapa hari lagi ke sini," sambung Haruki, digerakkannya cangkir yang ia genggam tadi mendekati bibirnya lalu meminum air yang ada di dalamnya, "karena itulah," sambungnya, Haruki kembali meletakkan cangkir yang ia genggam tadi ke atas meja.


"Kita hanya harus mempertahankan benteng ini sampai pasukan bantuan tersebut datang," ucap Haruki, kali ini pandangan matanya kembali melirik ke arah kami satu per satu.

__ADS_1


"Baiklah, bisakah pembicaraan ini kita hentikan sejenak?" Izumi kembali bersuara, pandangan matanya sedikit melirik ke arah kiri.


"Aku mengerti. Isi tenaga kalian terlebih dahulu," ucap Haruki, dia mengangkat sepiring penuh daging lalu meletakkan piring tersebut di depan Luana yang tengah duduk di sampingnya.


Luana meraih piring yang diberikan Haruki, lalu meletakkan beberapa potong daging di atas piring Cia yang ada di sampingnya. Luana mengambil sedikit daging lalu meletakkannya ke atas piring miliknya sebelum menyerahkan piring berisi daging tadi ke arah Sasithorn.


"Eneas, bisakah kau mengambilkan nasi untukku?!" Tanyaku menatapnya, kuangkat piring kosong milikku ke arahnya. "Tentu, apa kau juga ingin aku ambilkan sayur nee-chan?" Eneas balik bertanya yang aku balas dengan sedikit anggukan pelan kepalaku.


"Ini hanya perasaanku atau setiap hari, porsi makananmu semakin bertambah," bisik Izumi di samping telingaku, kugerakkan kepalaku dengan cepat menoleh ke arahnya, "karena aku berperang di garis depan. Jadi, tenagaku benar-benar terkuras lebih banyak dibandingkan biasanya. Terima kasih, engkau sangat memperhatikan hidupku, Kakak," ucapku berusaha tersenyum menatapnya.


"Kau tahu Sachi," ucap Izumi kembali dengan setengah berbisik, "saat aku dan Haruki berjalan pulang kembali ke Istana, kami tidak sengaja melewati sebuah bangunan yang menjual pakaian perempuan," sambungnya yang sempat terhenti.


Kenapa? Kenapa aku merasakan jika akan ada sesuatu yang buruk yang akan datang.


"Lalu, apa ada hubungannya denganku?" Aku membalasnya dengan sedikit berbisik, "Jadi, aku dan Haruki memutuskan untuk membawa salah satu korset yang ada di sana untukmu. Kami pikir, kau mungkin akan memerlukannya nanti," ucapnya kembali berbisik dengan sedikit menahan tawa.


"Eneas, tolong tambahkan porsi nasinya. Entah kenapa, malam ini aku merasa sangat lapar," ucapku kepadanya dengan nada sedikit meninggi, "apa kau yakin, nee-chan?" Tanyanya yang sedikit melongo menatapku.


"To ... Tolong tambahkan saja, tanpa harus banyak bertanya," ucapku saat semua pandangan di sekitar mengarah kepadaku.


"Sa-Sachi, apa kau juga ingin daging?" Tanya Sasithorn dengan suara pelan, kedua tangannya bergerak mengangkat piring berisi daging yang ada di hadapannya.


"Kau harus menjaga penampilanmu sebagai perempuan," ucap Luana, sebelah tangannya meraih piring yang ada di tangan Sasithorn.

__ADS_1


"Walaupun Zeki mengatakan dia akan menerimamu apa adanya. Hal itu bukan berarti, kau dapat bebas bersikap semaumu," ucapnya kembali menatapku.


"Laki-laki, tetaplah seorang laki-laki," sambung Luana terdengar pelan, diletakkannya kembali piring yang ia pegang ke hadapannya.


__ADS_2