
Kubuka kedua kelopak mataku, kutatap bayang-bayang buram yang ada di hadapanku. Sesuatu menyentuh kedua pipiku, sentuhan tersebut bergerak keatas hingga menyentuh pelan kedua mataku.
"Sa-chan," suara yang dihasilkannya terdengar bergetar.
"Haru nii?" ucapku mencoba menoleh ke arah sumber suara.
"Apa kau baik-baik saja?" ucapnya kembali, pandangan buram pada mataku berangsur-angsur pulih.
"Aku baik-baik saja, bisakah aku mendapatkan sedikit air nii-chan?" ungkapku berusaha beranjak duduk.
Sesuatu menyentuh punggungku, diangkatnya tubuhku pelan hingga akupun dapat duduk dengan mudah. Disandarkannya tubuhku olehnya seraya kualihkan pandanganku kepada Izumi yang menatap cemas disampingku.
"Terima kasih, Izu nii-chan," ungkapku setelah ia menarik lengannya dari punggungku.
"Minumlah," ucap Haruki seraya menyerahkan gelas dari bambu yang berisi penuh dengan air.
"Terima kasih," sambungku, kuraih gelas bambu tersebut seraya meminumnya.
Kugenggam gelas tersebut dengan kuat seraya kuletakkan diatas pahaku, kuperhatikan keadaan disekitar. Semuanya dipenuhi oleh pohon-pohon tinggi nan lebat, kualihkan pandangan mataku ke arah mereka bersembilan yang duduk dihadapanku.
"Nii-chan, apa kita?" ucapku menatapnya.
"Kita berada didalam hutan. Sebenarnya kami ingin menunggumu hingga sadar terlebih dahulu..." ucap Haruki menatapku.
"Tapi mereka melarang kami dan memaksa kami untuk langsung membawamu bersama kami kedalam hutan," sambung Izumi, digenggamnya kuat telapak tangannya.
"Kita berada dalam bahaya nii-chan, hutan ini... bukan lagi berada di dunia manusia," ucapku menatapnya, balik mereka semua menatapku dengan tatapan bingung.
"Apa maksudmu?" lanjut Haruki.
"Kau merasakannya juga Danur?"
"Kenapa kau tidak melarang mereka, kau tahu bukan betapa berbahayanya ini," sambungku seraya menatap ke arah Danurdara.
"A-aku... te-telah mem... peringatkan me-mereka. Ta-tapi mereka ti-tidak ada yang mem-mempercayaiku," ucapnya terbata-bata.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau tidak mempercayai adikmu sendiri?!" ucapku mengalihkan pandangan ke arah Adinata.
"Dia sudah terlalu sering seperti itu, jadi aku pikir itu sama saja seperti yang ia biasa lakukan. Lagipula, apa maksudmu kita semua berada dalam bahaya," ucapnya balas menatapku.
"Nii-chan, bisakah aku menceritakan semuanya kepada mereka?" ucapku menatap ke arah Haruki.
"Apa kau tidak punya pilihan lain selain itu?"
"Aku punya, tapi aku pikir mereka tidak akan percaya," ucapku kembali menatapnya.
"Bisakah kalian semua menjaga baik-baik rahasia ini?" ucap Haruki menatap ke arah mereka satu persatu.
"Jika bisa, aku mohon kepada kalian. Simpan rahasia ini baik-baik kalau bisa bawa mereka bersama kalian kedalam kubur," sambung Haruki kembali.
"Apa itu sangat berharga?" ucap Zeki menatapku.
"Sangat, sangat berharga. Nyawa adikku lah yang akan menjadi taruhannya," ucap Izumi tertunduk.
"Rahasia ini hanya diketahui oleh kami bertiga, bahkan Ayah kamipun tidak mengetahuinya," sambung Izumi.
"Kau mempercayainya? Bukankah ia menyimpan rahasia darimu?" lanjut Adinata menatap Zeki.
"Aku memerlukan waktu beberapa tahun untuk dapat terbuka sepenuhnya padanya. Jadi aku pikir, ini saatnya untukku melakukan hal yang sama untuknya."
"Apa kau begitu mempercayainya?" sambung Adinata melirik ke arahku.
"Dia berjanji untuk memberikan warna di hidupku sebelumnya, dan dia sendiri juga telah menepatinya," balas Zeki seraya tersenyum ia menatapku.
"Akupun... Aku sangat mempercayaimu Sachi, hanya dirimu yang ingin menjadi temanku... Bagaimana mungkin, aku tidak mempercayai ucapan temanku sendiri..."
"Lagipula, aku sendiri yang meminta bergabung dengan kelompokmu bukan? Jadi aku akan mempercayai semua yang kau katakan," sambung Julissa ikut tersenyum menatapku.
"Baiklah, aku akan mendengarkan semuanya. Lagipun, adikku terlihat sangat menyetujui semua perkataan yang kau katakan tadi," ungkap Adinata ikut menatapku.
"Terima kasih telah mempercayaiku," ucapku menatap ke arah mereka satu persatu.
__ADS_1
"Aku mempunyai seekor teman," ucapku kembali menatapi mereka.
"Seekor?" ucap Luana menatapku.
"Karena dia bukanlah seorang manusia, saat aku tak sadarkan diri... Dia berkomunikasi padaku, memberitahukan semuanya."
"Bukanlah seorang manusia? Apa itu mungkin?" sambungnya menatap seakan tak percaya.
"Aku yang seorang perempuan, dapat memanah bahkan dapat bertarung menggunakan pedang. Apa itu terlihat mustahil untukmu?" ucapku balas menatapnya, terdiam ia seraya membuang pandangannya kesamping.
"Bisa dikatakan, jika kita sekarang berada di jurang kematian. Apa kalian pernah mendengar rumor jika Kaisar memiliki seekor Naga?" ucapku menatap ke arah mereka satu persatu, tampak terlihat bola mata mereka yang membesar.
"Hutan ini, wilayah kekuasaan dari Naga tersebut. Kau bisa mengatakan, jika Kaisar menjadikan kita semua sebagai tumbal santapan untuk hewan-hewan peliharaannya."
"Untuk apa Kaisar melakukan hal itu, terdengar sangat mustahil untuk dipercaya," ucap Luana kembali.
"Apa kau bisa menutup mulutmu! Apa kau ingin terlihat pandai di hadapan Kak Haruki, kakaknya Sachi, jadi kau tidak bisa diam sedikit saja dari tadi. Merepotkan sekali," ungkap Julissa menatap tajam ke arah Luana.
"Apa maksudmu? Dan lagipun, siapa yang kau panggil kakak?" ungkap Luana balas menatap Julissa.
"Kakaknya Sachi juga berarti kakakku, karena kami berdua berteman sejak kecil. Aku benar bukan Kak Haruki?" sambung Julissa tersenyum menatap ke arah Haruki, dibalasnya perkataannya tersebut dengan anggukan kepala dari Haruki.
"Kau bertanya padaku bukan, kenapa Kaisar sampai melakukan hal tersebut," ucapku menatapnya.
"Apa kau memiliki saudara?" ucapku lagi padanya.
"Aku punya," jawabnya balas menatapku.
"Apa antara kau dan saudara-saudaramu memiliki pemikiran yang sama? Apa kau juga memiliki pemikiran yang sama dengan Ayahmu?" ucapku padanya, dibalasnya perkataanku tersebut dengan sebuah gelengan dari kepalanya.
"Musuh utama Kaisar, bukanlah Ayah-ayah kita. Karena Ayah kita sendiri sudah terlalu lama takluk padanya..."
"Musuh yang ingin sekali dihindari Kaisar adalah para pewaris tahta dari semua Kerajaan yang berada dibawah kekuasaannya, karena ia tidak akan tahu... Pewaris tahta tersebut akan tunduk atau bahkan membangkang padanya..."
"Jadi satu-satunya cara..."
__ADS_1
"Memusnahkan seluruh pewaris tahta yang berpotensi menjadi musuh besar baginya di masa depan, aku benar bukan?" sambung Adinata memotong perkataanku.