Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLII


__ADS_3

"Nii-chan," ucapku memanggil Haruki dan juga Izumi yang tengah berdiri di depan pintu Istana, "kau sudah siap?" Haruki berbalik menatapku yang tengah berjalan mendekatinya.


"Apa aku membuat kalian menunggu terlalu lama?" Aku balik bertanya, "kau memang melakukannya," jawab Izumi melangkah berbalik meninggalkan kami.


"Bagaimana dengan pundakmu?" Haruki kembali bertanya, digerakkannya kedua kakinya menyusul Izumi, "sudah membaik, semuanya berkat Kou," ucapku ikut melangkahkan kaki bersama mereka.


"Di mana Uki? Kau tak membawanya?" Tanya Izumi, kepalanya menoleh ke arah Haruki yang berjalan di sampingnya. "Aku menitipkannya kepada Luana, aku tidak bisa melakukan hal yang berbahaya dengan membawanya bersamaku," ucap Haruki, pandangan matanya kembali menatap lurus ke depan.


"Heh," ucap Izumi pelan, Haruki kembali berbalik menatapnya, "ada apa?" Tanyanya kepada Izumi. "Tidak ada, hanya abaikan saja sikapku ini wahai Kakakku," ucap Izumi sedikit tersenyum sebelum kembali menatap lurus ke depan.


"Nii-chan, kalian ingin membawaku ke mana?" Tanyaku, mereka berdua masih melangkahkan kaki tanpa bergeming sedikit pun.


"Kau akan segera mengetahuinya Sa-chan. Mereka semua telah menunggu kita," ucap Haruki, dia semakin mempercepat langkah kakinya berjalan pergi.


____________________


Kuda yang aku tunggangi berjalan perlahan menyusul kuda milik Haruki dan juga Izumi yang telah terlebih dahulu berjalan di depanku. Kutatap beberapa orang Kesatria kami yang tengah menarik mayat-mayat yang bergelimpangan di tengah jalan.


Bau anyir khas darah benar-benar memenuhi udara sekitar, bahkan tembok-tembok di beberapa bangunan tak luput terkena percikan darah tersebut. "Bagaimana keadaan?" Haruki membuka suara, pandangan mataku kembali beralih ke padanya yang tengah berbicara dengan Eneas, Gritav dan juga Arata.


"Aku telah kembali memurnikan air yang ada di sini dari racun, jadi pasukan kita dapat meminumnya, nii-san," ucap Eneas menatapnya, "bagaimana denganmu Arata?" Haruki kembali bertanya.

__ADS_1


"Aku telah memerintahkan anak buahku untuk mengeluarkan pasokan makanan yang berhasil mereka curi. Tapi itu," ucap Arata sedikit terhenti, "aku mengerti yang kau maksudkan," ucap Haruki kembali padanya.


"Bagaimana denganmu?" Kali ini pandangan matanya beralih ke arah Gritav, " aku telah memerintahkan anak buahku untuk mengawasi para tahanan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuan," sambung Gritav kembali padanya.


"Bagus, sekarang bawa kami ke tempat eksekusi," ucap Haruki kembali, Gritav sedikit mengangguk sebelum kuda yang ia tunggangi berbalik lalu berjalan meninggalkan kami.


Ikut kugerakkan kuda milikku menyusul mereka, kedua mataku sedikit membesar tatkala kedua mataku terjatuh ke arah tumpukan mayat yang menjulang tinggi. Pandangan mataku kembali teralihkan, ke arah para Kesatria kami yang masih bergerak bahu-membahu mengumpulkan mayat-mayat musuh yang tersisa.


"Hime-sama," suara laki-laki ikut terdengar di telingaku, "ada apa Arata?" tanyaku pelan, hampir setengah berbisik.


"Apa kau yakin ingin ikut bersama kami? Maksudku," tanya Arata kembali padaku.


"Kau memang yang terbaik, Hime-sama," ucapnya, kugerakkan kepalaku menoleh ke arahnya, "terima kasih. Kalian pun sama terbaiknya," ucapku kembali menatap lurus ke depan.


Kuda milik Gritav yang memandu kami terhenti, Gritav turun dari atas kudanya lalu berjalan melangkah mendekati Sanjiv yang telah berdiri membelakangi barisan para Kesatria di belakangnya.


Sanjiv menoleh ke arah para Kesatria tersebut, beberapa dari Kesatria itu berbalik melangkah pergi. Berselang, para Kesatria tadi kembali lagi dengan menarik barisan laki-laki yang tangannya dipasung borgol kayu.


Para Kesatria kami ada yang bergerak mencambuk laki-laki yang dipasung tadi saat salah satu dari mereka menghentikan langkah kaki. Suara cambukan yang dilakukan Kesatria-kesatria tersebut semakin jelas terdengar saat satu per satu para tahanan itu berlutut di hadapan kami.


"Apa yang harus kami lakukan kepada mereka?" Tanya Sanjiv menoleh ke arah Haruki, Haruki masih diam tak bergeming menanggapinya. "Eksekusi mereka semua, jangan sisakan satu pun!" Haruki memberikan perintah diikuti kedua matanya yang sedikit melirik ke arah para tahanan itu.

__ADS_1


"Sialan! Manusia rendahan seperti kalian, tidak pantas hidup di Kerajaan kami!" Teriak salah satu tahanan, kutatap darah yang mengalir di ujung bibirnya.


Tubuhku tertegun saat kulirik bayangan hitam besar melintas di sampingku. Seorang laki-laki berkulit hitam, bertubuh tinggi besar berjalan melewati kami. Laki-laki tersebut membawa sebuah pentungan kayu dengan besi berduri besar di ujungnya, "dia salah satu anak buahku," ucap Arata, dia sedikit tersenyum saat aku melirik kembali ke arahnya.


Laki-laki tersebut menghentikan langkah kakinya di samping tahanan yang berbicara sebelumnya, kedua tangannya mengangkat pentungan besar tersebut ke atas lalu mengayunkannya dengan sangat kuat ke arah laki-laki tadi.


Kepala laki-laki yang menjadi tahanan tadi, hancur seketika saat senjata milik anak buah Arata tadi memukul kuat kepalanya. Genggaman tanganku di tali kekang yang mengikat kudaku semakin kuat saat bola mata dari laki-laki tersebut melompat ke luar.


Kualihkan pandanganku ke arah para tahanan yang lain, mereka semakin meringkuk dengan kepala yang tertunduk menatapi borgol kayu yang memasung lengan mereka masing-masing.


Kutatap beberapa Kesatria kami yang telah berdiri di samping tubuh para tahanan, Kesatria pasukan kami mengangkat pedang mereka masing-masing ke atas lalu mengayunkan pedang mereka tersebut ke arah leher para tahanan yang berlutut di samping mereka.


Satu per satu para tahanan tersebut jatuh ke samping saat para Kesatria kami menarik pedang mereka dari leher para tahanan tersebut. Tubuh para tahanan tersebut sesekali menggelepar, di antaranya bahkan ada yang memukul-mukul borgol kayu yang memasung lengan mereka ke tanah hingga borgol kayu tersebut sedikit hancur karenanya.


Aku melirik ke arah beberapa warga yang bersembunyi menatapi kami, beberapa anak kecil yang ikut bersembunyi ada yang menangis histeris diikuti teriakan ayah yang mengiringi tangisan mereka. "Nii-chan," ucapku pelan dengan suara bergetar.


"Inilah perang yang sebenarnya Hime-sama," suara Arata kembali terdengar, kugerakkan kembali kepalaku menoleh ke arahnya, "Pangeran masih berbaik hati untuk hanya membunuh para Kesatria musuh yang tersisa. Kerajaan lain, bahkan membantai habis semua orang yang hidup di Kerajaan yang ia serang."


"Anak kecil, atau bahkan para perempuan tak luput dari kekejian mereka, dan begitulah dunia yang kita tinggali sekarang. Bersikap naif, hanya akan membunuh pasukan kita sendiri nantinya, jadi jangan lakukan itu Hime-sama," ucapnya kembali, kali ini ia membalas tatapanku.


Arata kembali mengalihkan pandangannya dariku, tampak terdengar helaan napas yang ia keluarkan, "setidaknya, kita telah bersikap sedikit baik kepada mereka. Dan tanamkan itu, di dalam dirimu, Hime-sama," sambung Arata sebelum dia menggerakkan kuda miliknya berjalan maju ke depan.

__ADS_1


__ADS_2