
Kuda putih milikku melangkah perlahan menuruni tebing tak terlalu curam yang ada di hutan, kualihkan pandanganku menembus pepohonan menatap gunung tinggi yang masih sedikit jauh di pandangan...
Kugerakkan kuda milikku tadi bergerak mengikuti kuda milik Izumi, masih kutatap Kakek tua tersebut yang menggerakkan jarinya ke arah kanan... Kembali kualihkan pandanganku padanya yang sedikit tertunduk menatap Izumi yang berdiri di sampingnya.
Izumi kembali menggerakkan kepalanya menatap lurus ke depan, kembali kuikuti langkahnya yang telah berjalan menjauh menarik bersamaan kuda miliknya. Tanah di jalan setapak di bawah tebing terlihat basah...
Kuda milikku melangkah teramat sangat pelan menyusuri jalan tersebut, sesekali kugerakkan kepalaku yang tertunduk menatap tanah ke arah Izumi yang juga berjalan dengan sangat pelan di samping kuda miliknya.
Bau daging terbakar menusuk hidungku, kepalaku bergerak tanpa sadar mengikuti aroma tersebut. Kuarahkan kudaku bergerak mengikuti Izumi yang juga telah menarik kuda miliknya ke arah terciumnya bau daging bakar tadi.
Bau daging bakar tersebut menyeruak memenuhi udara sekitar, kembali kugerakkan kudaku mendekati dan semakin mendekati kepulan asap hitam membumbung di depan kami...
Kepalaku bergerak tanpa sadar menoleh pada si Kakek yang telah menepuk-nepuk tangannya berulang-ulang dengan nada tepukan yang terdengar tak seperti biasanya.
"Kalian jangan khawatir, itu adalah sebuah isyarat untuk semua penduduk desa yang kembali. Kalau aku tidak melakukannya, kita akan diserang oleh para penjaga yang berjaga melindungi desa," ucap si Kakek, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah mengalihkan tatapannya menatapi kami bergantian.
Tubuhku terhentak pelan saat terdengar suara dedaunan bergesekan satu sama lainnya, kuarahkan pandanganku menatap semak-semak dedaunan di hadapan kami yang terbelah menjadi dua...
Seorang laki-laki bertubuh besar dengan hanya mengenakan secarik kain menutupi tubuh bagian bawahnya keluar dari semak-semak tersebut. Kualihkan pandanganku sesegera mungkin menatap tombak runcing yang ia genggam.
"Siapa mereka?" ucap laki-laki tersebut, kugerakkan kepalaku menatapnya yang telah balas menatap kami.
"Tamu, mereka ingin bertemu dengan kepala suku," ucap si Kakek membalas perkataan laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Untuk apa kalian bertemu dengan kepala suku kami?" balas laki-laki bertubuh tinggi besar itu kepada kami.
"Kamipun tidak tahu untuk apa kami kesini, kami pergi kesini hanya karena sebuah perintah," ungkap Haruki, digerakkannya kuda cokelat miliknya itu berjalan mendekati laki-laki tadi.
"Perintah? Perintah sia..."
"Ada apa? Kenapa kau lama sekali membuka jalannya," terdengar kembali suara laki-laki yang memotong perkataan si penjaga bertubuh besar tersebut, kualihkan pandanganku pada seseorang laki-laki yang juga bertubuh tinggi besar seperti penjaga tadi tengah berdiri di belakangnya menatap kami.
"Mereka ingin menemui ketua suku," ucap penjaga sebelumnya seraya mengarahkan tombak miliknya ke arah kami.
"Apa yang ingin kalian lakukan datang menemui kepala suku kami?" ungkap penjaga yang baru datang tersebut.
"Kami tidak bisa menjawab pertanyaan darimu, hanya saja... Izinkan kami untuk menemuinya," ungkap Haruki membalas perkataannya.
"Tapi apapun yang terjadi, kami harus menemuinya," ucap Haruki kembali padanya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian melakukannya," ucap laki-laki tersebut seraya maju berjalan mendekat dengan tombak yang diarahkannya pada Izumi.
Kualihkan pandanganku pada Izumi yang telah melepaskan genggaman tangannya pada tali kekang kuda miliknya, kutatap dia yang telah menarik pedang yang ada di pinggangnya seraya diarahkannya pedang tadi ke penjaga tersebut.
Penjaga tadi mengangkat tinggi-tinggi tombak miliknya lalu diarahkannya dengan cepat tombak tadi ke arah Izumi. Izumi mengangkat pedangnya menahan ayunan tombak dari penjaga tadi...
Pandanganku teralihkan pada penjaga satunya yang juga hendak mengangkat tombak miliknya mendekati Izumi. Kuarahkan tanganku meraih busur panah yang ada di punggungku...
__ADS_1
Kugenggam busur panah berserta anak panah milikku itu seraya kuarahkan anak panah tadi melesat tertancap di batang tombak yang penjaga itu genggam...
Penjaga tadi menghentikan gerakannya, ditatapnya aku olehnya dengan kedua matanya yang membelalak. Kutatap dia yang berlari mendekat ke arahku...
Tombak yang ada di tangannya ikut berlari semakin mendekat ke arahku. Pandangan mataku tertutup, kutatap punggung Haruki yang telah duduk di atas kuda miliknya membelakangiku...
Pedang yang ada di tangannya tampak mengkilap terpantul sedikit cahaya yang menembus dedaunan pohon. Hariku menggerakkan kuda miliknya semakin mendekati penjaga tadi...
"Ada apa ini?! Apa yang terjadi?!" terdengar suara laki-laki kembali, kugerakkan tubuhku memiring ke samping seraya kutatap penjaga tadi yang telah diam tak bergeming.
"Siapa kalian? Apa yang ingin kalian lakukan di sini?!" ungkap laki-laki paruh baya itu lagi, tetap kutatap dia yang berdiri di depan sepuluh laki-laki di belakangnya.
"Kami hanya ingin bertemu dengan kepala suku," ucap Haruki menimpali perkataannya.
"Kepala suku? Apa yang ingin kalian lakukan? Kenapa kalian ingin menemuinya," ucap laki-laki paruh baya itu lagi.
"Ayah kami memerintahkan kami untuk datang ke sini," ungkap Haruki lagi padanya, kualihkan pandanganku menatapnya yang masih menatap laki-laki paruh baya tadi.
"Ayah? Siapa ayah kalian?!" teriaknya kembali, kugerakkan jari telunjukku menekan-nekan pelan telingaku yang sedikit terhentak mendengar teriakannya.
"Apa kami harus memberi tahukan kalian semua itu?" lanjut Haruki kembali.
"Tentu, kami tidak membiarkan ketua suku kami bertemu dengan orang asing seperti kali..."
__ADS_1
"Takaoka Kudou. Raja dari Kerajaan Sora, Takaoka Kudou langsung yang meminta kami untuk datang ke sini," ucap Haruki memotong perkataannya.