Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXVI


__ADS_3

Kugenggam dua pedang kayu tersebut di tangan sebelah kanan dan kiriku, kuayunkan pedang yang ada di tangan kananku ke arah Tsubaru yang juga memegang pedang di kedua tangannya...


Pergerakan pedangku terhenti, ditangkisnya pedang kayu tadi menggunakan pedang kayu yang ia genggam menggunakan tangan kirinya...


Dengan cepat diarahkannya pedang kayu yang ia genggam dengan tangan kanannya hingga menyentuh leherku. Terdiam aku tak berkutik...


"Kau kehilangan fokusmu, Putri." ucapnya, dipukulnya kepalaku menggunakan pedang yang menangkis pedangku sebelumnya


"Sakit sekali, Tsu nii-chan. Teganya," tukasku tertunduk seraya mengusap-usap kepalaku


"Itu karena kau kehilangan fokusmu, Putri. Kehilangan fokus disaat pertarungan, itu kesalahan yang sangat fatal."


"Tapi itu... bagaimana bisa seorang manusia punya kecepatan tangan seperti itu." ungkapku balas menatapnya


"Jangan melimpahkan kekesalan pada orang lain hanya karena kau lemah," terdengar suara Haruki dari sebelah kananku diikuti sebuah jeweran di telingaku


"Sakit, nii-chan." ungkapku, kutepuk-tepuk lengan kirinya yang menjewer telingaku itu


"Aku menyarankan untukmu berlatih hanya menggunakan satu pedang bukan? Siapa yang mengatakan ingin mencoba menggunakan dua pedang sekaligus." ucapnya seraya tersenyum dingin menatapku


"Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru," balasku seraya mengalihkan pandangan darinya


"Sesuatu yang baru kah? Siapa yang membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk belajar memanah?" ucapnya lagi padaku


"Aku, aku mengakuinya. Jadi nii-chan, bisakah kau melepaskannya... Kau tahu, kupikir telingaku akan putus jika kau sering melakukannya." balasku, tersenyum kecil aku menatapnya.


"Kau tahu?" balas ia menatapku disertai helaan nafas yang ia keluarkan


"Jika kau ingin menggunakan dua senjata secara bersamaan seperti Tsubaru, fisikmu haruslah lebih kuat dua kali lipat dari sekarang..." ungkapnya lagi, dilepaskannya jeweran yang ia lakukan di telingaku


"Orang yang sudah sulit bernafas di putaran kelima ketika lari ingin menggunakan dua senjata sekaligus? Dinginkan kepalamu dan berlarilah sepuluh putaran!" ungkapnya seraya menyilangkan kedua lengannya di dada


"Izu nii-chan!" teriakku seraya menoleh kearah Izumi yang tengah fokus berlatih memanah


"Jangan memanggil namaku, aku tidak mengenalmu." ucapnya, ditembakkannya anak panah yang ada di tangannya menembus target panahan yang ada dihadapannya

__ADS_1


"Sa-chan." ucap Haruki, menoleh kembali aku kearahnya yang masih tetap tersenyum dingin


"Cih, iblis bertopeng malaikat," gumamku pelan seraya kualihkan pandangan mataku darinya


"Katakan sekali lagi, aku ingin sekali mendengarnya." ucapnya, diarahkannya telinga kirinya mendekati bibirku


"Aku akan melakukannya nii-chan, aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan padaku. Sepuluh putaran bukan?" ungkapku berbalik dan berlari menjauh darinya


Nafasku semakin lama semakin terasa berat, kulirik Haruki dan Izumi yang duduk di tengah lapangan seraya memperhatikan aku yang tengah sibuk berlari.


"Tiga putaran lagi, lambat sekali!" teriak Izumi seraya tersenyum menatapku


Kubuang pandangan mataku dari mereka berdua, keringat mengalir di seluruh tubuhku hingga membuat pakaian yang aku kenakan basah. Kakiku terasa mati rasa selama melangkah bergerak...


Rasanya, aku ingin sekali memanggil Kou dan membekukan mereka berdua.


Kubaringkan tubuhku langsung di tanah, tubuhku masih belum terbiasa jika diajak berlari. Jantungku seakan ditumbuk, nafasku seakan tercekik. Kuangkat lengan kananku menutupi kedua mata...


"Yang Mulia." terdengar suara seorang laki-laki muncul


"Ada apa?" ikut juga terdengar suara Haruki


"Baiklah, aku mengerti. Kau boleh pergi." sambung Haruki kembali menjawab perkataan laki-laki tadi


"Tsubaru, bersihkan semuanya!" ucap Haruki lagi


"Laksanakan Yang Mulia."


"Izumi, Sachi. Ikuti aku!" kali ini Haruki sedikit meninggikan suaranya


"Tidak bisakah aku menyusul saja?" kuturunkan lengan kanan yang menutupi mataku seraya berbalik menatap mereka


"Kau baik-baik saja?" ucap Haruki berjalan mendekati


"Aku butuh sedikit waktu untuk mengatur nafas, nii-chan."

__ADS_1


Berjalan Haruki semakin mendekati, membungkuk ia kearahku yang masih berbaring. Diraihnya tubuhku seraya digendongnya.


Berbalik ia berjalan menjauhi lapangan latihan diikuti Izumi yang juga ikut berjalan di belakangnya...


Langkah kaki Haruki terhenti di depan pintu kayu berwarna cokelat, diturunkannya tubuhku olehnya. Dua orang Kesatria yang berjaga di depan pintu bergerak membuka pintu tersebut untuk kami bertiga.


Masuk kami bertiga ke dalam ruangan, tampak terlihat Ayah tengah duduk di meja kerjanya dengan Satoru dan juga Kazuya di sebelah kanan dan kirinya, serta seorang laki-laki asing yang tengah duduk di hadapannya.


Melangkah dan berdiri kami bertiga mendekatinya, sebuah gulungan surat berwarna cokelat tampak tergeletak di atas mejanya.


Diberikannya surat tersebut oleh Ayah pada Haruki, dibukanya oleh Haruki surat yang telah rusak segelnya itu. Dibacanya surat tersebut dengan seksama oleh Haruki...


"Kaisar mengundang kami untuk datang ke Istananya?" tukas Haruki seraya menyerahkan surat yang ada di tangannya pada Izumi, berjinjit aku mendekati Izumi yang tengah fokus membaca surat tersebut.


"Kaisar mengundang seluruh Pangeran dan juga Putri di seluruh Kerajaan untuk merayakan hari kelahirannya." sambung laki-laki asing tadi yang berjalan mendekati kami


"Siapa kau?" tanya Haruki menatapinya


"Pembawa pesan pribadi dari Kekaisaran, kami telah menyiapkan kereta untuk kalian berangkat kesana." ucap laki-laki tersebut


"Kereta?"


"Kaisar melarang siapapun untuk ikut kecuali para Pangeran dan juga Putri. Keselamatan kalian, kami sendiri yang akan menjaminnya." ucapnya lagi disertai senyum tipis


Kulirik Ayah yang tampak duduk dengan menggenggam kedua telapak tangannya, genggaman tersebut terlihat sangat kuat hingga aku sendiri seperti merasakannya langsung.


"Kami mengerti, berikan waktu untuk kami bersiap-siap." Tukas Haruki kembali menatap laki-laki tadi


"Kami akan menunggu." balasnya seraya membungkukkan tubuhnya ke arah kami


Berbalik Haruki seraya meraih dan menarik tanganku mengikutinya, kulirik laki-laki tersebut. Tampak terlihat tatapan matanya memandang menatapku, kusembunyikan tubuhku dengan cepat ke samping Haruki...


Dibukanya pintu oleh Izumi, berjalan kami bertiga menyusuri Istana. Kutatap Izumi yang sedari tadi tertunduk diam, balik aku menatap Haruki yang juga melakukan hal yang sama...


Kuangkat dan kugigit ujung jempol tangan kananku, kulangkahkan kakiku mengikuti tarikan tangan oleh Haruki dengan posisi tertunduk...

__ADS_1


Aku tahu ada yang salah disini, apa yang harus aku lakukan? Berpikirlah otak, berpikirlah.


"Sa-chan," ucap Haruki seraya menghentikan langkahnya.


__ADS_2