
Laki-laki paruh baya itu berjalan ke samping diikuti dua laki-laki bertubuh besar yang membawa sehelai kain putih tadi. Mereka bertiga berjalan memasuki lubang yang ada di dinding lapangan itu.
Suara terompet kuat terdengar di telinga. Barisan laki-laki tersebut lari berbondong-bondong mendekati tumpukan senjata yang ada di tengah lapangan. Beberapa laki-laki itu ada yang jatuh terjungkal ke samping karena sesaknya jarak di antara mereka.
Beberapa orang laki-laki meraih pedang, tombak atau bahkan kapak yang tergeletak di tengah lapangan. Masing-masing mereka langsung menyerang beberapa orang yang berlari di belakang mereka.
Darah memercik ke udara tanpa henti diikuti suara sorak-sorai yang semakin kuat dari bangku penonton. Mereka yang ada di lapangan saling menyerang...
Ada yang menancapkan pedang mereka ke mata lawannya. Ada yang menghancurkan kepala lawannya dengan kapak yang ia genggam. Dan bahkan, seorang laki-laki jatuh tersungkur dengan anak panah menancap kuat di punggungnya.
Aku menggigit kuat ibu jariku, kugerakkan kedua mataku melirik ke kanan dan ke kiri menembus kerumunan itu. Aku tidak menemukan Haruki, di mana dia?!
"Haruki sialan, ke mana dia?" Ucap Izumi kembali dengan sebelah tangannya menggenggam kuat celana yang ia kenakan.
Satu-persatu dari laki-laki itu tumbang jatuh ke tanah, darah kembali tak berhenti membasahi udara di sekitar mereka. Tanah yang mereka pijak, dipenuhi warna merah diikuti bau khas anyir dari darah.
Aku menutup kuat hidungku, padahal... Kami memilih tempat duduk yang jauh dari lapangan pertarungan. Tapi tetap saja, angin yang berembus membawa aroma darah yang menusuk hidung.
Suara tawa dan sorak-sorai semakin riuh terdengar, tepukan tangan yang dilakukan banyak orang bergantian semakin membuat bulu kuduk ku merinding.
Teriakan riuh penonton semakin memekakkan telinga saat seorang laki-laki bertubuh besar, berkulit putih dengan rambut hitam berjalan dengan sebuah kapak besar di tangannya, laki-laki itu hanya mengenakan secarik kain cokelat yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.
Tubuhnya yang tinggi tampak terlihat menonjol dibandingkan yang lainnya. Laki-laki itu mengayunkan kapak besar yang ia genggam ke kanan dan ke kiri. Percikan-percikan darah saat kapak itu melayang mengaburkan wajahnya untuk dilihat...
Beberapa lelaki yang berusaha menyerangnya malah berakhir mengenaskan dengan sebagian kepala mereka yang hampir terlepas dari leher. Laki-laki tersebut berteriak kencang yang disambut oleh teriakan penonton yang tak kalah riuhnya.
"Sa-Sachi," tangis Cia redam terdengar di keramaian, kugerakkan kepalaku menatapnya saat kurasakan tarikan pelan pada lengan pakaian yang aku kenakan.
"Ada apa Cia? Wajahmu pucat sekali," ucapku mengusap tangisannya sesekali kutepuk-tepuk pelan kepalanya saat matanya yang memerah menatapku.
__ADS_1
"Sepertinya dia takut, biar aku yang membawa Uki. Kau lebih baik memangku dan menenangkannya," ucap Izumi juga balas menatapku.
Kedua tanganku bergerak mengangkat tas milik Haruki yang ada Uki di dalamnya dari pundakku. Kuarahkan tas tersebut kepada Izumi sembari kuraih Cia saat telapak tangan Izumi meraih tas tersebut dariku.
"Semuanya baik-baik saja, tidak ada yang perlu kau takutkan," ucapku menepuk-nepuk pelan kepalanya saat tubuhnya berbalik memelukku kuat ketika aku memangkunya.
Aku kembali teringat, saat Izumi menutup mataku ketika Haruki mengeksekusi Duke berserta Kesatria nya di Paloma dulu.
"Ada apa? Apa kau butuh sesuatu? Kenapa kau dari tadi menatapku?" Ucap Izumi yang membalas lirikan ku padanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang mencari keberadaan Haru nii-chan," ucapku mengalihkan pandangan darinya.
"Aku pun masih mencarinya. Sebenarnya, kemana dia?" Tukas Izumi kembali mengarahkan pandangannya ke sekeliling.
Laki-laki besar itu kembali melangkahkan kakinya dengan menyeret kapak yang ia bawa. Kapak itu merayap menaiki tubuh dari mayat yang diinjak laki-laki tadi lalu jatuh kembali ke tanah dan begitu seterusnya.
"Aku pemenangnya, sudah tidak ada lagi lawan yang tersisa!" Teriak laki-laki tersebut sembari kedua tangannya mengangkat tinggi kapak yang ia bawa.
"Aku masih belum dapat memastikan kemenanganmu, coba perhatikan sekitarmu terlebih dahulu!" Ungkap paruh baya itu dengan corong kayu berada di dekat mulutnya, dia berdiri menatap laki-laki bertubuh besar itu dari salah satu bangku penonton.
"Apa kalian masih ingin melawanku! Majulah, majulah siapa yang ingin mati selanjutnya!" Teriak laki-laki tadi mengarahkan kapak miliknya berputar menatapi beberapa orang laki-laki yang tengah bergerak menghindar dengan banyak luka di tubuh mereka.
"Apakah pemenangnya sudah ditentukan!" Teriak suara seorang laki-laki, suara yang sudah sangat ku kenal.
Haruki berjalan keluar dari salah satu lubang yang ada di dinding. Wajahnya menatap lurus ke depan seraya tangannya meraih dan menarik sebuah tombak yang tertancap di tubuh seorang mayat laki-laki saat dia berjalan semakin mendekati laki-laki bertubuh besar itu.
"Siapa kau?!" Teriak laki-laki bertubuh besar itu dengan kapak yang ia genggam mengarah ke arah Haruki.
"Aku, salah satu petarung. Apa kau tidak lihat? Aku baru saja keluar dari pintu itu," ucap Haruki berbalik sembari menunjuk ke arah lubang ia keluar sebelumnya menggunakan tombak yang ia bawa.
__ADS_1
"Jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda. Namaku Savon, bukankah ada nama Savon di daftar nama yang kau bawa itu Tuan?!" Tukas Haruki dengan nada meninggi, dialihkannya pandangannya menatap laki-laki paruh baya itu.
Laki-laki tersebut menoleh ke arah seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya. Laki-laki tersebut membuka gulungan kertas yang ia genggam, lama matanya tertuju ke arah gulungan kertas tersebut.
"Dia salah satu Petarung!" Ucap laki-laki paruh baya tersebut saat laki-laki yang menggenggam gulungan kertas tadi mengangguk padanya.
Bisik-bisik kembali terdengar, Haruki masih berdiri seakan tak terjadi apapun. Pengecut! Apakah kau mencoba bersembunyi dari tadi! Kenapa dia menunjukkan wajahnya! Seperti itu, kata-kata yang kadang kala keluar memenuhi tempat itu sekarang.
"Pak Tua, dia tidak ikut pertarungan sebelumnya. Bagaimana bisa dia mengikuti pertarungan ini!"
"Kau be..."
"Apakah ada peraturan tertulis ataupun kau menyebutkan jika semua petarung harus mengikuti pertarungan ini?" Ucap Haruki dengan nada meninggi memotong perkataan laki-laki paruh baya itu.
"Tidak ada bukan? Kau hanya menyebutkan jika kami diperbolehkan saling membunuh atau menjadikan yang hidup sebagai budak. Aku benar bukan?" Ucap Haruki kembali, dia berjalan mendekati laki-laki bertubuh besar tadi dengan mengangkat tombak yang ia bawa ke pundak.
"Jadi, jika aku selama ini bersembunyi dan hanya keluar untuk mengalahkan laki-laki ini, tidak ada peraturan yang aku langgar bukan?" Ucap Haruki kembali, laki-laki paruh baya itu menunduk diikuti suara hening di sekitar.
"Jangan bercanda!"
"Kami bertarung hingga terluka parah, dan kau..."
"Apa kau tidak tahu malu!" Teriak para laki-laki yang yang duduk bersandar di dinding kayu lapangan, sebagian dari mereka tampak menggenggam kuat luka yang ada di tubuh mereka.
"Kalian saja yang terlalu bodoh! Jangan melampiaskan kebodohan kalian pada seseorang, karena itu menjijikan!"
"Dan untukmu, majulah! Aku akan mengakhiri ini secepatnya," ucap Haruki kembali, diarahkannya tombak yang ia pegang ke arah laki-laki bertubuh besar itu.
__ADS_1