Fake Princess

Fake Princess
Takaoka Izumi (Side story') II


__ADS_3

"Kau sungguh-sungguh mau makan malam bersama Raja dan Ratu, Yang Mulia?" tanya Tsutomu dengan nada penuh semangat.


"Apa ada masalah dengan itu?" tanyaku menatap bayangannya di cermin, menggeleng ia ikut menatap bayanganku yang juga terpantul di cermin.


Beranjak seraya berjalan aku mendekati pintu, dibukanya pintu tersebut oleh Tsutomu. Keluar aku dari dalam kamar seraya melangkahkan kakiku mendekati ruang makan yang tak pernah sekalipun aku masuki.


Dua pengawal yang berjaga membukakan pintu itu untukku, kembali kulangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan tersebut. Menoleh mereka berdua menatap ke arahku, tampak terlihat mata berkaca-kaca terpancar dari perempuan yang menjadi istri Ayahku itu.


Melangkah aku seraya berjalan mendekati Ayah, diangkatnya tubuhku ke atas pahanya. Menoleh aku ke arah Ayah, tampak berkali-kali ia tersenyum menatapku...


"Apa ada yang ingin kau makan Izumi?" ucap Ayah, dibelainya kepalaku pelan olehnya.


"Aku ingin sup seperti yang ada disana," ucapku menunjuk ke arah semangkuk sup yang ada di hadapan wanita itu.


"Kau ingin memakannya? aku akan menyuapimu," ucapnya, diraihnya sendok yang ada di pinggir mangkuk seraya diambilnya sup tersebut menggunakan sendok tersebut.


"Buka mulutmu," sambungnya seraya mengarahkan sendok tersebut kearahku.


"Aku bisa memakannya sendiri," ungkapku balas menatapnya.


"Aahh maaf," ungkapnya, diletakkannya kembali sendok tersebut ke dalam mangkuk.


"Aku jadi mempelakukanmu seperti Haruki, kau dapat memakan semuanya Izumi-kun," ucapnya lagi, diangkatnya semangkuk sup tersebut di hadapanku.


Kuraih sendok yang ada di dalam mangkuk seraya kumakan sup tersebut sesendok demi sesendok. Kualihkan pandanganku padanya yang sedang mengupas kulit buah anggur lalu memakannya...


"Apa kalian berdua tidak memakan apapun?" ucapku, kuarahkan kepalaku menghadap ke atas.

__ADS_1


"Ayah telah selesai makan sebelum kau datang kesini."


"Lalu..." ucapku mengarahkan pandangan kepadanya.


"Aku? Ayahmu menungguku untuk menghabiskan sup itu, tapi aku tidak bisa memakan apapun selain buah anggur. Karena itulah, terima kasih telah membantuku menghabiskannya," ucapnya tersenyum menatapku.


_________________


"Apa kau akan tidur di kamarnya Haruki lagi malam ini?" ucap Ayah menatapnya.


"Haruki semakin hari semakin membaik, dan aku tidak tega meninggalkannya tidur sendirian di kamar segelap itu."


"Aku mengerti, segera panggil aku jika terjadi sesuatu," ungkap Ayah, mendekat ia seraya mencium dahi wanita itu.


Berbalik ia seraya berjalan menjauhi kami dengan dua orang pengawal berjalan di belakangnya. Ayah ikut berbalik berjalan dengan aku berada di gendongannya, kutatap punggung wanita tersebut... rambutnya yang cokelat bergelombang tampak menyatu dengan sinar bulan yang jatuh di atasnya.


"Apa kau mencintai perempuan itu Ayah?"


"Cepat atau lambat, kau akan mengetahui betapa mempesonanya dia. Aku, tidak akan memilih sembarang wanita untuk menjaga anak-anakku."


______________


Kubuka kedua mataku, suara berisik yang pelan-pelan terdengar mengganggu tidurku. Beranjak aku duduk seraya mengusap-usap kedua mataku berulang kali, berbalik aku menoleh ke arah sumber suara...


"Apa yang kau lakukan disini?" ucapku menatapnya yang telah duduk di sofa kamarku dengan sebuah keranjang dan juga sebuah syal yang telah kuserahkan pada Tsutomu untuk dibuang.


"Merajut syal ini kembali untukmu," ungkapnya seraya tetap melanjutkan merajut kembali syal tersebut.

__ADS_1


"Kenapa kau tega membuangnya, ini syal kesayanganmu bukan?" sambungnya tanpa menoleh ke arahku.


"Itu tidak ada hubungannya denganmu!" teriakku menatapnya.


"Aku tahu, syal ini satu-satunya peninggalan dari Ibumu. Karena itu, aku ingin memperbaikinya agar kau tetap dapat menyimpannya nanti."


"Kau melakukan semuanya hanya untuk mendapatkan simpati dari Ayah bukan?"


"Aku ingin mendapatkan simpati darimu bukan dari Ayahmu, Izumi-kun."


"Enyahlah!" ucapku menatapnya tajam.


"Maaf, maafkan aku," ucapnya menahan tangis, diangkat telapak tangannya yang melepuh merah menutupi mulutnya.


"Kumohon, aku akan menerima kata-kata apapun yang kalian teriakkan. Tapi kumohon, jangan mengucapkan kata tersebut... Aku, tidak ingin kehilangan Ayah kalian..."


"Aku akan membereskan semuanya," ucapnya beranjak berdiri.


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, asal jangan terlalu berisik, aku ingin beristirahat," ucapku kembali berbaring, kubalikkan tubuhku membelakanginya.


Aku tidak dapat memejamkan mataku kembali, suara kursi bergeser terdengar dari arah belakangku. Kupejamkan kedua mataku beriringan dengan semakin dekatnya suara langkah kaki ke arahku...


Kurasakan kasur yang berada di belakang punggungku bergerak diikuti belaian lembut di kepalaku.


"Aku meletakkan syalnya di atas mejamu, dan kubuat ukurannya sedikit lebih panjang dari sebelumnya. Jadi kau bisa memakainya di musim dingin nanti, selamat tidur Putraku," bisiknya pelan, kurasakan sesuatu hangat nan lembut menyentuh pipiku.


Suara langkah kaki itu semakin menjauh, ikut pula terdengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali. Kubuka kedua mataku kembali, beranjak aku duduk seraya meraih syal putih yang terlipat rapi di atas meja...

__ADS_1


"Kau malah memperburuknya, lihat saja... warnanya tidak sama satu dengan yang lainnya," ucapku, kutatap lama syal putih tersebut. Tampak warna benang yang telah mengusam dan benang yang masih baru terlihat, bercampur menjadi satu.


Kuletakkan kembali syal tersebut ke atas meja, kubaringkan tubuhku kembali di atas ranjang. Aku tidak tahu kenapa? Hanya saja, hati dan tubuhku terasa lebih hangat dibandingkan sebelumnya.


__ADS_2