
"Apa kalian yang memanggil Monster itu ke sini?!" teriak laki-laki tadi menatap tajam ke arah kami.
"Tunggu apalagi kalian! Cepat habisi mereka semua!" Sambungnya, kualihkan pandanganku ke sekitar. Laki-laki bertubuh besar yang memenuhi ruangan sebelumnya semakin berjalan mendekati kami.
Semua orang di ruangan seketika diam membisu, kualihkan pandanganku pada dinding yang tiba-tiba hancur di samping kami. Kutatap dinding di sampingnya yang ikut hancur, sebuah benda putih panjang nan berduri melintas di lubang dinding tadi...
Dua orang laki-laki bertubuh besar yang menelungkup dengan tumpukan batu di atas punggungnya mencoba beranjak berdiri, kutatap mereka berdua yang berjalan tergopoh-gopoh dengan sebelah tangannya memegang punggung masing-masing.
Sebuah jari-jemari besar berwarna putih yang dipenuhi cakar tajam terlihat mencengkeram dinding berwarna hitam yang ada di hadapan kami. Remuk menjadi potongan-potongan kecil dinding tadi karenanya...
Asap putih terlihat mengepul memasuki ruangan, kualihkan pandanganku ke arah mereka yang tengah menggenggam lengan masing-masing menahan dingin. Kutatap Kou yang berusaha masuk mendekati kami...
Matanya yang merah menyala seakan membekukan semua orang yang ada. Kakinya yang dipenuhi cakar tajam terlihat membekukan lantai yang ia pijak. Kulepaskan cengkeraman tanganku pada perempuan tadi seraya kulangkahkan kakiku mendekatinya...
"Menyingkirlah kalian semua dari jalan kami, jika tidak... Aku tidak akan segan-segan memerintahkannya untuk menelan tubuh kalian hidup-hidup," ucapku dengan nada tinggi pada kumpulan laki-laki yang ada di hadapanku, kutatap mereka yang juga menoleh menatapku seraya berjalan mereka meminggir seperti yang aku ucapkan.
"Cepatlah nii-chan kita pergi dari sini, tidak ada gunanya kita menolong mereka. Biarkan mereka hancur dan musnah karena kebodohan mereka sendiri," ucapku lagi, kulangkahkan kakiku semakin mendekati Kou yang bola matanya kembali berangsur-angsur menghitam.
"Tunggu dulu!" teriaknya, menoleh aku ke arahnya diikuti kedua Kakakku dan juga Eneas yang melakukan hal yang sama.
"Apa Monster itu milik kalian?"
"Dia milikku," balasku padanya.
"Kami telah berbaik hati akan menolong kalian sebelumnya bukan?" ucap Haruki menimpali perkataanku.
"Kami sudah katakan untuk menolong kalian membunuh Monster yang menjadi mimpi buruk untuk kalian beberapa waktu terakhir..."
"Namamu?" ucapnya memotong perkataan Haruki, ditatapnya wajah Kakakku itu dengan ekspresi yang sangat berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
"Takaoka Haruki, Pangeran pertama Kerajaan Sora," sambung Haruki, diangkatnya kedua lengannya seraya disilangkannya ke dada.
"Pangeran? Sora? Apa kau mencoba menipuku? Seluruh pewaris tahta Kerajaan Sora telah mati enam tahun yang lalu," ungkapnya, ikut diangkatnya kedua lengannya seperti yang dilakukan Haruki sebelumnya.
"Kami memalsukan kematian kami sendiri. Aku, laki-laki yang ada di sampingku dan dia yang ada di samping Monster putih itu adalah pewaris sah Kerajaan Sora," ucap Haruki lagi padanya.
"Aku sudah mengatakannya, jika aku menemuimu bukan karena ingin menjadi bawahanmu melainkan ingin menjalin kerja sama dengan kalian..."
"Kami akan membantu kalian membunuh Monster yang mengganggu kalian sedangkan kalian... Haruslah membantu kami memberontak pada Kekaisaran," ungkap Haruki lagi padanya.
"Heh, Kerajaan Sora yang dipimpin oleh Raja Takaoka Kudou ingin memberontak pada Kekaisaran? Guyonan menggelikan seperti apa itu," sambungnya balas menyeringai menatap Haruki.
"Apa aku terlihat bercanda di hadapanmu sekarang? Jangan membuang-buang waktuku, kau ingin menerima bantuan kami atau tidak? Karena bukan kau satu-satunya yang ingin kami ajak bergabung menjadi sekutu," ungkap Haruki lagi, ditatapnya laki-laki tadi dengan kepalanya yang sedikit dimiringkannya ke kiri.
"Aku tidak mempercayai orang luar, bagaimana jika kalian mengkhianati kami?"
"Apa kau meragukan ku?"
"Aku mempertanyakan hal yang sama padamu, apa kau meragukan kami?" ucap Haruki kembali.
"Aydin, namaku Aydin. Jika yang kau katakan itu benar, maka aku tidak akan mempermasalahkan menjadi sekutu Kerajaan kalian," ungkapnya seraya mengarahkan telapak tangannya ke arah Haruki.
"Kami tidak akan mengecewakanmu," ucap Haruki meraih dan menggenggam telapak tangan laki-laki tadi.
"Ikuti aku," ucapnya, dilepaskannya genggaman tangannya pada Haruki seraya berbalik dan berjalan ia menjauhi kami.
Menoleh Haruki ke arahku, diarahkannya telapak tangannya tadi kepadaku. Kutatap Izumi yang juga ikut menoleh ke arahku...
"Kou, tunggu aku dan awasi mereka. Kau mengerti?!" ucapku seraya mengarahkan telapak tanganku mengusap-usap lehernya.
__ADS_1
"Aku mengerti, serahkan mereka semua padaku, My Lord."
Kuturunkan telapak tanganku tadi dari lehernya seraya berbalik aku kembali menatapi Kakakku tadi. Melangkah aku mendekatinya seraya kugenggam telapak tangan yang ia arahkan padaku...
Berjalan kami mengikuti Emre menyusuri lorong yang dipenuhi banyak sekali pintu berbaris di kanan dan kiri kami. Berhenti Emre di salah satu pintu yang ada di pojok ruangan, dibukanya pintu tersebut seraya mempersilakan kami untuk masuk ke dalamnya.
Ikut melangkah aku mengikuti langkah kaki Haruki memasuki ruangan. Kutatap pandanganku pada beberapa puluh buku yang tersusun rapi di dalam ruangan. Angin yang berembus dari balik jendela terlihat berusaha menerbangkan lembaran sebuah buku yang tergeletak di atas meja yang ada...
Kualihkan pandanganku pada Aydin yang telah duduk menunggu kami di pinggir meja tadi. Diangkatnya sebelah tangannya seakan meminta kami untuk duduk di kursi-kursi yang berbaris rapi di hadapannya...
Melangkah kami mendekati kursi-kursi tadi lalu duduk di atasnya, berjalan ia mendekati seraya ikut duduk di kursi seperti yang kami lakukan...
"Aku tidak menyangka seorang pemimpin perompak menyimpan banyak sekali buku," ucap Haruki, kualihkan pandanganku padanya yang terlihat sibuk menatapi buku-buku tersebut dari kejauhan.
"Jika kau berpikir seorang perompak adalah manusia yang bodoh, maka saat itulah kalian telah berada dalam genggaman mereka. Raki?" ucapnya seraya mengangkat sebuah botol ke arah kedua Kakakku.
"Apa itu Alkohol? Jika benar, maka kami harus menolaknya," sambung Haruki balas menatapnya.
"Kenapa? Bukankah aneh laki-laki dewasa tidak meminumnya?"
"Alkohol sangatlah buruk untuk kesehatan, aku sendirilah yang melarang mereka untuk meminumnya," ucapku seraya menatap lurus ke depan.
"Jika dia Pangeran, berarti kau seorang Putri. Perlihatkan wajahmu padaku Putri!"
"Jangan perlakukan Adikku seperti kau memperlakukan perempuan-perempuan tadi, atau aku akan langsung menghancurkan seluruh tulangmu," ucap Izumi, menoleh aku ke arahnya yang terlihat tajam menatap seseorang yang duduk di hadapanku itu.
"Sikap kalian yang seperti itu semakin membuatku ingin menggodanya," jawabnya balas menatap Izumi.
"Berhenti mempermainkan Adikku, hanya katakan saja... Seperti apa Monster yang mengganggu kalian selama ini?" ungkap Haruki seraya menoleh menatap Aydin dengan tubuh yang ia sandarkan di kursi yang ada di sampingku.
__ADS_1