
“Apa terjadi sesuatu, My Lord?”
Aku tertegun saat ucapan Kou terngiang di kepalaku, “apa maksudmu, Kou? Apa kau, tidak merasakan sihir yang muncul sebelumnya?”
“Tidak ada sihir apa pun, kecuali sihir darimu sendiri, My Lord. Bahkan sihir Lux pun, terasa sangat jauh dari tempatmu berdiri,” sambungnya menimpali perkataanku.
Aku beranjak dengan menundukkan kepala, mataku melirik ke kiri, berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. “Sa-chan, apa terjadi sesuatu?” tukas suara Haruki yang membuatku menoleh ke arahnya.
Aku menggeleng pelan dengan kembali menundukkan pandangan, “tidak terjadi apa pun. Hanya mungkin, aku salah merasakan sesuatu, nii-chan.
“Dibandingkan itu, kita lanjutkan lagi perburuan,” sambungku sambil meraih sebutir kelapa yang telah dikupas setengahnya oleh Izumi.
“Kita lanjutkan lagi perburuan,” sahut Haruki, aku kembali melirik ke arahnya yang berbicara kepada Hayle sambil menggerakkan tangannya.
Aku turut melangkah mengikuti mereka yang sudah terlebih dahulu berjalan, dengan sesekali meminum air dari buah kelapa yang aku bawa. Selama kami berjalan, selama itu pula para penduduk mengeluarkan suara tanpa henti, suara yang mereka keluarkan itu meniru suara-suara dari hewan-hewan yang ada di hutan.
Langkah kaki kami berhenti, ketika Hayle mengangkat tangan kanannya ke samping. Aku bergeming, tatapan mataku teralihkan ke arah seorang laki-laki yang terlihat seusia dengan Eneas, berdiri dengan mengangkat sebilah bambu sedikit besar di tangannya. Mata laki-laki itu masih mengarah ke atas, diikuti sebilah bambu besar tadi ia angkat hingga menyentuh bibirnya, setelah sebelumnya ia memasukkan benda seperti anak panah ke dalamnya.
Kepalaku terangkat ke atas, saat mereka semua juga telah melakukannya, diikuti semakin riuhnya suara-suara yang mereka keluarkan untuk menarik perhatian … Monyet? Aku tertegun, saat benda melesat keluar dari ujung bambu. Monyet yang bergelantungan di dahan pohon itu berhasil menghindar, sebelum anak panah kedua akhirnya menjatuhkannya ke bawah.
Aku masih terdiam, ketika salah seorang penduduk berjalan memungut monyet yang berhasil diburu itu. “Nii-chan, bisakah kau mengambilkan aku buah kelapa lebih banyak?” gumamku pelan, aku melirik ke arah Izumi yang menggerakkan kepalanya membalas lirikanku.
“Apa kau masih haus?” Dia balik bertanya menatapku.
“Aku, sudah bisa membayangkan … Makanan apa yang akan kita makan nanti malam, karena itu … Sebelum hal itu terjadi, aku berniat untuk membuat perutku kenyang dengan air kelapa,” jawabku sambil meraih lalu menggenggam erat lengan bajunya.
“Kau tidak perlu melakukannya, Sa-chan. Kami akan berburu hewan yang lain-”
“Benarkah itu Haru-nii?”
Haruki menganggukkan kepalanya, “tapi apa benar kau baik-baik saja? Wajahmu, pucat sekali,” tukasnya, wajahku bergerak ke kanan dan ke kiri saat jari-jemarinya itu menggerakkannya.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja. Aku, hanya tidak menduga dengan hasil buruan.”
“Benarkah?” Lagi-lagi aku menganggukkan kepala membalas pertanyaannya.
“Baiklah, jika kau lelah … Hanya katakan saja!”
Mataku mengikutinya yang berjalan melewati setelah sebelumnya menepuk pelan pipiku. “Apa kau haus, Izu-nii?” tukasku sambil mengarahkan buah kelapa yang ada di tanganku itu kepadanya.
“Bagaimana denganmu?”
“Aku sudah tidak haus lagi. Nii-chan, dapat meminumnya,” jawabku yang tersenyum saat dia meraih buah kelapa itu.
“Mungkin Eneas yang lebih membutuhkannya. Eneas, ambil ini! Kau haus, bukan?”
Aku menoleh ke arah yang ia tuju, kutatap Eneas yang berjalan mendekat. Senyumnya mengembang saat Izumi menjulurkan kelapa yang ada di tangannya itu ke arah Eneas, “terima kasih. Andai aku bisa lebih baik dalam memanah,” gumamnya menatapi kelapa yang ada di tangannya.
“Kau hanya perlu banyak-banyak berlatih. Mungkin nanti, kau dapat mengalahkan kami dengan sangat mudah,” ucap Izumi sebelum dia berjalan meninggalkan kami.
“Aku berniat mengambilnya sendiri, tapi jangkauan panahku belum sejauh nee-chan. Jadi-”
“Bodoh,” ungkapku memotong perkataannya sambil meletakkan telapak tangan di atas kepalanya, “kau adikku! Jika aku saja seringkali meminta apa pun darimu tanpa rasa sungkan, kau pun … Harus melakukan hal yang sama kepadaku. Dengan begitu, aku akan turut merasa, kalau adikku ini … Membutuhkanku juga sebagai kakaknya,” sambungku mengusap kepalanya sebelum melanjutkan kembali langkah menyusul Izumi.
_________________.
Aku duduk termenung, menatapi beberapa perempuan yang tengah menyiapkan makanan untuk kami santap. Aku semakin terdiam, saat para perempuan itu menarik bangkai monyet yang telah hangus terbakar dari dalam api, sedangkan anak-anak kecil yang turut membantu, tampak sibuk membersihkan tubuh monyet bakar yang sengaja ditumpuk oleh para perempuan, menggunakan telapak tangan mereka.
Tubuhku semakin meringkuk, saat memikirkan … Jika tak ada hewan yang bisa kami tangkap selain monyet saat ini. Aku menarik napas sangat dalam sebelum beranjak dengan meninggalkan mereka, langkah kakiku terus bergerak dan terus bergerak mendekati gubuk yang kami tempati.
Aku duduk di depan gubuk, sambil menatapi para penduduk yang berlalu-lalang melewati. “Apa yang kau lakukan di sini?” Kepalaku terangkat, mencari asal suara yang terdengar.
“Nii-chan, dari mana saja kau?” tanyaku, yang masih menjatuhkan pandangan ke arahnya yang berjalan mendekat dengan sebuah obor menyala di tangannya.
__ADS_1
Izumi mengikatkan obor yang ada di tangannya ke sebuah tonggak kayu sebelum dia duduk di sampingku, “kami tadi mengecek jebakan yang sebelumnya dibuat Haruki sebelum kita tertangkap. Beruntungnya, ada seekor hewan yang sudah sekarat terjebak di sana. Haruki dan yang lainnya tengah memasak daging dari hewan tersebut untuk kita makan.”
“Haru-nii? Memasak? Aku, sedang tidak bermimpi, bukan?”
“Setidaknya, ada penduduk lain yang dapat diandalkan. Aku justru meragukan suatu makanan, jika yang memasak makanan itu, Haruki sendirian,” aku tertawa kecil menimpali perkataan Izumi.
“Nii-chan, aku menginginkan ikan bakar.”
“Apa ada sesuatu yang kau katakan?”
Kepalaku menyandar di pundaknya, “aku tidak ingin memakan hewan apa pun, kecuali ikan.”
“Jadi?”
“Aku ingin ikan bakar. Carikan aku ikan, nii-chan!”
“Telingaku, sedang tidak salah mendengar, bukan?”
“Aku ingin ikan bakar, nii-chan! Aku hanya ingin makan ikan sekarang. Carikan aku ikan,” rengekku sambil melingkarkan tangan di lengannya.
“Kau sendiri, bukan? Yang mengatakan agar jangan mendekati sungai.”
“Apa kau ingin membuatku jadi santapan ular, atau mungkin buaya yang ada di sungai? Ini malam hari, kau lihat bintang dan bulan yang ada di langit, bukan?” ungkapnya sambil menjepit pipiku menggunakan kedua jarinya.
Aku beranjak masuk ke dalam gubuk saat jari-jari tangan Izumi lepas dari pipiku. Kepalaku berbaring di bantal terbuat dari lipatan daun yang ada di dalam gubuk. Aku menghela napas, sambil menatap kosong ke depan. “Sachi, Haruki dan yang lainnya menunggu kita.”
Aku berbaring menyamping sembari memejamkan mata, “aku, sedang tidak lapar, nii-chan. Kalian, habiskan saja semuanya,” ucapku yang masih lanjut memejamkan mata.
“Nii-chan, bisakah membantuku? Apa Zeki mengirimkan surat untukku? Dia belum mengirimkan kabar apa pun sejak pulang ke Yadgar. Aku, sangat mengkhawatirkannya.”
“Tolong, tanyakan hal tersebut kepada Haru-nii. Dan maaf, karena sangat merepotkanmu akhir-akhir ini, Izu-nii,” sambungku pelan mengucapkannya.
__ADS_1