
Aku kembali berjalan menyusuri anak tangga dengan Adofo dan juga Gritav di belakangku. Kugenggam kuat busur panah milikku seraya kedua mataku menatap lurus ke depan. “Apa ada kabar dari pasukan yang lain?” Aku kembali bertanya kepada mereka berdua yang masih menghening diam di belakangku.
“Pasukan kita yang berada di Selatan mendapatkan serangan dadakan, hampir setengah dari tembok benteng roboh. Beruntung mereka semua masih bisa bertahan hingga hari berakhir,” ucap Gritav membuka suara.
“Lalu? Bagaimana dengan Kakakku Haruki dan juga Eneas?” Aku menghentikan langkah lalu berbalik menatapnya.
“Haruki maupun Eneas, mereka berdua baik-baik saja. Aku lupa memberitahukanmu, Hime-Sama. Sebenarnya itu salah satu rencana mereka untuk menghancurkan musuh dalam satu serangan,” sambung Gritav kembali padaku.
Aku kembali membalikan tubuh berdiri membelakangi mereka, “syukurlah, jika mereka baik-baik saja,” ucapku kembali melanjutkan langkah.
Aku langsung menggerakan kepalaku menoleh ke kiri saat kedua kakiku telah menapaki puncak benteng. “Bagaimana keadaan?” Tanyaku melangkahkan kaki mendekati tiga orang Kesatria yang berjaga semalaman di puncak benteng. “Mereka masih belum melakukan pergerakan Hime-Sama,” ucap salah seorang laki-laki yang tinggi tubuhnya melewati kedua temannya yang berdiri di samping kanan dan juga kiri tubuhnya.
“Mereka tidak melakukan apa pun dari semalam?” Aku kembali memastikan, laki-laki tadi menganggukan kepalanya diikuti dua orang laki-laki di sampingnya.
“Begitukah,” gumamku seraya kembali mengalihkan pandangan ke pasukan musuh, aku menatap lama kepada para pasukan pejalan kaki musuh, mereka … Maksudku para pasukan pejalan kaki tadi, mengarahkan pandangan mata mereka semua ke arah seorang laki-laki yang duduk di atas kuda berwarna hitam.
__ADS_1
Laki-laki yang berada di atas kuda hitam tadi mengarahkan kudanya berjalan membelakangi para pasukan yang masih berdiri di belakangnya. Laki-laki tersebut mengangkat tangan kanannya ke udara, berselang … Seluruh pasukan yang berada di belakangnya, entah itu pasukan pejalan kaki, mau pun pasukan berkuda … Semuanya berlari ke arah benteng.
“Perintahkan para pasukan untuk menunggu aba-aba dariku!” Kepalaku bergerak cepat menoleh ke arah belakang yang segera disambut oleh anggukan kepala Gritav. “Seluruh pasukan bersiap menerima perintah!” Gritav meninggikan suaranya di belakangku, pandangan mataku masih tertuju ke para pasukan musuh yang kian mendekat.
“Lemparkan batu!” Aku berteriak kuat hingga suaraku hampir menghilang.
“Lemparkan batu!”
“Lemparkan batu!”
Suara laki-laki bergantian mengulangi perkataanku, aku mendongak ke atas saat bayangan hitam melintas di kepalaku. Batu besar yang dilemparkan oleh para pasukan kami melayang cepat mendekati para pasukan musuh. Beberapa pasukan musuh berlari mundur ke belakang, berusaha menghindari batu besar tersebut … Sedangkan beberapa pasukan yang lain, tubuhnya menghilang terbenam oleh batu tersebut diikuti jejak merah yang mengalir di sekitarnya saat mereka tidak sempat berlari menghindari batu-batu yang kami lemparkan.
Pandangan mataku sedikit teralihkan pada seekor kuda yang meringkik kesakitan saat kutatap sebelah kaki kuda tersebut telah terbenam oleh batu besar yang menimpanya. Kesatria yang sebelumnya jatuh terlempar dari atas kuda tersebut, menggerakan tubuhnya beranjak berdiri, berjalan mendekati kuda tadi. Laki-laki itu mengangkat pedang miliknya ke atas, lalu menganyunkan pedang tersebut ke leher kuda yang masih meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri. Darah dari kuda malang tersebut, memercik tubuh Kesatria tadi saat dia melayangkan pedang miliknya bertubi-tubi ke leher kuda tersebut.
Kesatria tadi menginjak leher kuda tadi sebelum kedua kakinya melangkah berlari, membaur bersama para pasukan pejalan kaki yang ada di hadapannya. Aku menggigit kuat bibirku lalu menggerakan kepalaku berbalik menatapi para pasukanku yang diam terhenyak menyaksikan pemandangan yang ada di hadapan mereka. Aku menarik napas sedalam mungkin sebelum, “jangan lengah! Jangan biarkan ujung jari mereka menyentuh dinding benteng ini!” Aku kembali berteriak lantang kepada mereka semua, “laksanakan Hme-Sama,” para Kesatria kami balas berteriak lantang menimpali perkataanku.
__ADS_1
Aku kembali menatap para pemanah yang tanpa putus menembakan anak-anak panah mereka ke arah pasukan musuh. Panah-panah yang mereka tembakkan ada yang menembus kepala musuh, ada yang menembus salah satu mata dari mereka, ada yang langsung menancap di leher musuh, bahkan ada yang tertancap kuat di beberapa Kesatria musuh. Pandangan mataku kembali teralihkan kepada beberapa laki-laki yang berlari dengan ember-ember kayu yang mengepulkan asap putih di tangan mereka.
Para Kesatria yang membawa ember-ember kayu tadi berlari ke arah depan benteng mendekati para pemanah lalu menyiramkan air panas yang ada di dalam ember tadi ke arah pasukan musuh yang berusaha memanjat ke atas benteng. Air panas yang menjatuhi tubuh Kesatria musuh, membuat mereka kembali terjatuh ke bawah lalu berguling dengan kedua telapak tangan mereka yang melepuh itu menutupi wajah mereka.
Semua suara bercampur di telingaku, suara para Kesatria kami yang saling berusaha memberi semangat satu sama lain, atau suara jeritan pilu yang dikeluarkan oleh para Kesatria musuh di bawah. Semuanya semakin jelas terdengar saat matahari semakin naik ke atas, aku menghela napas panjang seraya kuangkat busur panah yang aku genggam di tangan kiriku.
Kuraih anak panah yang ada di punggungku menggunakan tangan kanan, kuarahkan anak panah tadi mendekati busur yang aku genggam di tangan kiriku. Kembali kuangkat kepalaku menatapi para pasukan musuh seraya kutarik kuat tali yang ada di busur panahku. Anak panah milikku melesat cepat menembus kepala salah satu Kesatria musuh saat tangan kananku melepaskannya, aku kembali mengambil anak panahku yang lainnya lalu menembakan anak panah, anak panah tersebut ke arah pasukan musuh yang tak lelah untuk menyerang.
Sudah tak terhitung lagi, berapa puluh anak panah yang telah aku tembakan ke arah pasukan musuh, dan sudah tak terhitung lagi … Berapa nyawa yang menghilang karenanya. “Hime-Sama,” suara laki-laki menghentikan gerakan tanganku, kugerakan kepalaku menoleh ke belakang, “ada apa Gritav?”
“Hari ini telah berakhir Hime-Sama,” ucapnya menatapku.
“Eh?” Aku sedikit kebingungan menatapnya, “apa kau tidak mendengar suara terompet yang berbunyi?” Dia balik bertanya kepadaku.
“Terompet?” Ungkapku bingung dengan sedikit menggerakan kepalaku menoleh ke sekitar.
__ADS_1
Kepalaku tertunduk saat suara terompet itu benar-benar terdengar di telingaku, “aku tidak menyadarinya,” ucapku pelan seraya kuangkat tangan kananku menutupi kedua mataku.
“Kau melakukan semuanya dengan sangat baik, Hime-Sama,” ucapnya terdengar diikuti tepukan pelan yang menyentuh kepalaku. “Bukan aku, tapi kita semua,” ucapku pelan menjawab perkataannya.