
"Emre, apa itu kau?" ucap laki-laki tadi seraya menjauhkan wajahnya dari perempuan yang ada di sampingnya tadi.
"Benar Tuan, dan aku membawakan tamu penting untukmu," jawab Emre semakin berjalan mendekatinya.
"Tamu penting?" balas laki-laki tadi, digerakkannya wajahnya menatapi kami.
Bola matanya yang berwarna hitam tampak serasi dengan kulit cokelat yang ia miliki. Rambut hitamnya yang sedikit panjang bergelombang terlihat menyentuh pundaknya yang tidak mengenakan pakaian tersebut...
Kualihkan pandanganku pada telapak tangannya yang terlihat merangkul pinggang kedua perempuan yang duduk di kiri dan kanannya. Ditatapnya lama kami dengan kepalanya yang disandarkannya dengan posisi sedikit miring ke kanan.
"Apa kau tidak mengajarkan mereka caranya hormat padaku?" ucap laki-laki tadi seraya mengalihkan pandangannya kepada Emre.
"Kami tidak akan memberikan hormat padamu," sambung Haruki menjawab perkataannya.
"Heh berani sekali kau menjawab seperti itu di Istanaku, apa kau tidak sayang dengan nyawa yang kau punya," ungkapnya balas menatap Haruki dengan kepala yang diarahkannya ke depan.
"Tuan, mereka tidak..."
"Tutup mulutmu Erol, apa kau ingin menggantikan mereka mati?!" teriaknya menghentikan perkataan Erol, kulirik Erol yang langsung tertunduk diam mendengar perkataannya.
"Kami ke sini untuk menawarkan kerja sama dengan kalian, bukan ingin menjadi salah satu bawahanmu. Jadi, kami tidak akan memberikan hormat apapun padamu," ungkap Haruki kembali, kualihkan pandanganku padanya yang terlihat membalas tatapan laki-laki tadi.
"Kami tidak pernah melakukan kerja sama apapun pada orang asing, menyingkirlah sebelum tubuh kalian habis tak bersisa," ucapnya seraya melepaskan salah satu telapak tangannya yang merangkul pinggang wanita yang ada di sampingnya seraya digerakkan dan digoyangkan telapak tangannya tadi ke arah kami.
"Kami dapat membantumu membunuh Monster yang menyulitkan kalian selama ini," ucap Haruki kembali, kutatap mata laki-laki tadi yang terlihat sedikit membesar.
__ADS_1
"Kalian? Menyelamatkan kota kami? Jangan bercanda?!" ungkapnya dengan nada tinggi disertai gelak tawa yang mengikuti.
"Apa aku terlihat bercanda saat ini?" sambung Haruki, kulirik dia yang terlihat menyilangkan kedua lengannya di dadanya.
"Apa kau tahu tradisi di kota ini?" ungkap laki-laki tadi, kualihkan pandanganku kembali padanya yang tersenyum menatap Haruki.
"Tradisi?"
"Kami mempunyai tradisi membagi pasangan dengan para rekan kami, aku akan mengizinkanmu berhubungan dengan salah satu dari para perempuanku. Jika kau mampu melakukannya di hadapanku sekarang juga, aku akan memikirkan kerja sama yang kau ajukan," ucapnya seraya mendorong punggung perempuan yang ada di samping kanannya, beranjak berdiri perempuan tadi seraya melangkah ia mendekati Haruki.
Kutatap perempuan tadi tengah merangkulkan lengannya di leher Kakakku itu, Haruki masih tak bergeming. Perempuan tadi semakin mendekati tubuhnya menempel pada tubuh Kakakku itu...
"Tunggu apalagi, aku telah berbaik hati memberikan salah satu perempuanku untukmu," ucapnya dengan senyum sumringah.
"Aku akan melakukannya, tapi tidak di hadapan mereka."
"Aku tidak ingin Adikku melihat Kakaknya melakukan segala macam cara untuk mencapai tujuannya. Aku tidak ingin mereka melihat perbuatanku yang menjijikan," ungkap Haruki membalas perkataannya.
"Jangan melakukannya jika kau tidak ingin melakukannya nii-chan," ucapku dengan suara bergetar padanya, menoleh ia ke arahku dengan kedua bola matanya yang terlihat membesar.
"Suara perempuan?" terdengar suara laki-laki bergantian dari sekitarku.
"Maafkan aku nii-chan, tapi..."
"Menyingkirlah dari Kakakku, aku tidak akan memberikannya pada perempuan yang kuanggap tidak pantas untuknya," ucapku seraya mencengkeram lengan perempuan tadi, kutatap dia yang berlutut di hadapanku menahan sakit.
__ADS_1
"Jangan samakan kedua Kakakku denganmu, sialan! Aku akan membekukan seluruh kotamu jika kau memperlakukan Kakakku yang berharga seperti itu," sambungku, kualihkan pandanganku pada laki-laki tadi.
"Sachi!" teriak Haruki, menoleh aku ke arahnya yang terlihat melotot menatapku.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya, aku tidak tahu sudah berapa banyak laki-laki yang bersama dengannya. Bagaimana jika dia menularkan penyakitnya padamu?!" balasku berteriak padanya, semakin kuat cengkeraman tanganku di lengan perempuan tadi.
"Kumohon nii-chan, jangan merendahkan dirimu seperti itu. Kau seorang... Dan kau Kakak yang berharga untukku," ucapku lagi padanya, kutatap dia yang terlihat menutup wajahnya menggunakan telapak tangan seraya berkali-kali helaan napas keluar mengiringinya.
"Kau dengar itu, aku tidak bisa melakukannya. Adikku melarangku untuk melakukannya," ungkap Haruki, diturunkannya telapak tangannya tadi seraya dialihkannya tatapan matanya menatapi laki-laki tadi.
"Aku tidak masalah, sebagai gantinya... Berikan adikmu itu padaku!" ungkapnya, kualihkan pandanganku padanya yang tersenyum menatapku.
"Jika wajahmu tampan, tentu pastinya Adik yang ada di sampingmu itu cantik. Anggap saja, sebagai tanda jadi kerja sama yang kau ajukan," ucapnya lagi, ditatapnya Haruki dengan senyum sumringah yang ia keluarkan.
"Jika kau melakukannya..."
"Jangan bercanda! Kau ingin aku menyerahkan Adik perempuan yang telah aku jaga baik-baik pada laki-laki sepertimu?" ungkap Haruki memotong perkataannya.
"Kau menolak permintaanku untuk kedua kalinya, aku pikir kalian tidak menyayangi nyawa yang kalian punya."
"Lakukan saja, jika kau dapat membunuh kami. Tapi sebelum itu..." ungkap Haruki menoleh menatapku.
"Kou, datanglah! Aku membutuhkan bantuanmu," ungkapku menanggapi tatapan Kakakku itu.
Berselang...
__ADS_1
Suara benda terjatuh terdengar sangat keras di sekeliling kami, ikut kurasakan getaran pelan yang menyentuh kakiku. Terdengar suara langkah kaki dari arah belakang mendekat... Semakin lama semakin jelas terdengar di telinga...
"Tuan! Mo-monster. Monster berwarna putih mengamuk di luar," terdengar suara laki-laki dengan napas berat mengiringi, menoleh aku menatapnya yang membungkuk lelah di hadapan kami.