
“Jadi seperti itu keadaan kami di masa lalu?” ucapku, Aniela masih tertunduk, hanya kepalanya saja yang mengangguk pelan membalas perkataanku.
“Aniela, dapatkah kau mengabulkan permintaanku?”
“Jika nanti, kakakku Haruki mengorek informasi darimu. Bisakah kau menyembunyikan kondisi keluarganya di masa lalu?” sambungku kembali kepadanya.
“Kenapa aku harus melakukannya?”
“Karena aku penyebab kematian dari Luana.”
“Eh? Kak Luana?”
Aku menghentikan langkah lalu berbalik menatapnya, “kumohon kepadamu,” ucapku sambil membungkukkan tubuh ke arahnya, “aku, benar-benar tidak akan sanggup menatap wajahnya lagi jika dia mengetahui tentang hal ini. Dia memiliki dua orang anak, itu berarti aku telah membunuh salah satu anaknya sebelum anaknya itu memiliki kesempatan untuk lahir, entah Miyu atau Hikaru … Yang jelas, aku telah membunuh salah satu di antara mereka,” ungkapku kembali mengangkat wajah menatapnya.
“Kenapa? Padahal, kak Luana yang dulu selalu membantuku. Dia selalu mengajariku, apa yang harus dan tidak harus dilakukan oleh seorang Putri,” isaknya, kedua lengannya terangkat menutupi matanya yang tertunduk.
“Jika kau ingin marah? Marah saja kepadaku. Jika kau menyimpan dendam? Lampiaskan saja dendam itu kepadaku. Tapi sebelum itu, tolong rahasiakan semuanya dari Kakakku,” ucapku, aku berbalik melangkahkan kaki menjauhinya yang masih terisak.
Aku berjalan dan terus berjalan, sesekali aku berhenti lalu bertanya kepada beberapa Kesatria yang lewat. Setelah berjalan mengikuti arahan Kesatria-kesatria itu, langkahku kembali terhenti di sebuah pintu dengan dua orang Kesatria yang berjaga. “Aku diperintahkan Raja Piotr untuk menemui Pangeran,” ucapku dengan menatap dua Kesatria itu bergantian.
Mereka saling tatap sebelum salah satu di antara mereka membuka pintu tersebut. Aku mengangguk, lalu berjalan masuk melewati mereka. Langkahku terhenti, saat sepasang mata biru menatapku dari kejauhan, “salam, Takaoka Sachi, utusan dari Kerajaan Sora. Datang ke sini, untuk menyembuhkanmu, Pangeran,” tukasku sembari berjalan mendekati jendela kamar.
Kedua tanganku bergerak membuka jendela tersebut, “Kou, buka gerbang dan bawa Uki ke sini!” tukasku sambil kembali berbalik melangkahkan kaki mendekati ranjang.
“Bisakah aku, melihat kedua kakimu?” tanyaku setelah menghentikan langkah di sampingnya.
__ADS_1
Dia masih terdiam, hanya kepalanya saja yang terangkat menatapku. Wajahnya, tidak jauh berbeda dari Putri Aniela, hanya rambutnya saja yang terlihat sedikit gelap, “bolehkah, aku melihatnya?” tanyaku kembali kepadanya.
“Tidak ada yang perlu diobati, pergilah!” ucapnya seraya membuang pandangan.
“Tujuh tahun yang lalu, kami pun berada di hutan yang sama,” ungkapku yang membuat tatapan matanya kembali terangkat menatapku.
Aku berjalan semakin dekat lalu duduk di samping ranjang, “aku tahu, bagaimana menakutkannya hutan tersebut,” ungkapku, pandangan mataku beralih ke arah tanganku yang membuka pelan selimut di kakinya.
Aku menarik napas dalam, saat mataku itu menjalari kedua kakinya … Kulit di kakinya tampak membentuk sebuah lingkaran yang masuk ke dalam. Bukan hanya satu, melainkan banyak dan memenuhi setiap jengkal kakinya, “sudah aku katakan, tidak ada yang perlu diobati,” ucapnya diikuti selimut yang terangkat menutupi kedua kakinya itu kembali.
“Kenapa kau mengatakannya? Apa karena, tidak ada yang dapat mengobatimu selama ini?”
“Sudah aku kat-”
“Masuklah, Uki! Kita tidak memiliki banyak waktu,” ucapku beranjak kembali dari kasur sambil mengarahkan pandangan ke arah Uki yang telah bertengger di jendela.
Uki terbang mendekat saat aku mengangkat sebelah tangan. “Buka mulutmu, Pangeran!” perintahku, ketika Uki telah hinggap di kakinya.
“Sudah aku kat-”
“Kau, keras kepala sekali!” bentakku, aku beranjak menaiki ranjang, mendorong tubuhnya ke belakang lalu menduduki tubuhnya berbaring itu.
“Apa yang kau lakukan?”
“Membatasi ruang gerakmu. Dengarkan aku! Apa kau hanya ingin berdiam diri akan apa yang Kaisar perbuat padamu?!”
__ADS_1
“Apa kau, tidak menderita karena kebebasanmu terenggut?!”
“Siapa yang mengatakan aku tidak menderita?!” Dia balas berteriak yang membuatku terdiam seketika.
“Aku tidak bisa berjalan lagi semenjak kejadian itu. Pangeran macam apa yang tidak bisa berdiri melindungi Kerajaannya?!”
“Karena itu kau harus segera sembuh, kau bodoh!” bentakku kembali dengan mencengkeram kuat pakaian yang dikenakannya. “Berhenti pesimis jika kau memang seorang Pangeran, kau sialan!” sambungku, kulepaskan cengkeraman tanganku di pakaiannya hingga kepalanya terjatuh ke ranjang.
Aku menghela napas dengan kembali beranjak dari atas tubuhnya. Aku tertunduk dengan mengangkat sebelah tangan menutup wajah di dekatnya, “apa yang terjadi di masa lalu memang tak bisa dirubah. Namun apa yang terjadi di masa depan … Dapat kau ubah dengan perbuatanmu di masa sekarang. Aku, akan menyembuhkanmu dan itu pasti. Jangan menyia-nyiakan kesempatan, di saat sesuatu yang baik masih bisa terjadi padamu,” ucapku sambil menurunkan kembali tangan menatapnya.
“Jadi buka mulutmu sekarang juga!” pintaku yang masih tak bergeming menatapnya.
Dia lama membalas tatapanku sebelum lidahnya berdecak dengan membuka perlahan mulutnya, “Uki, lakukan sekarang!” perintahku sambil membuang pandangan ke arah Uki yang mulai melangkah di atas tubuh laki-laki itu.
Uki menghentikan langkahnya tepat di dada Pangeran, dengan sebelah kakinya terlihat mencengkeram dagu Pangeran itu. Kepala Uki bergerak miring mendekati bibir sang Pangeran, Uki terbang menjauh tatkala air matanya menetes, masuk ke dalam mulut Pangeran. Aku dengan cepat meraih selimut miliknya, lalu mengepalkan selimut tersebut ke arah mulutnya saat pandangan mataku terjatuh ke arahnya yang telah mencengkeram kuat kain yang menyelimuti kasurnya.
Aku merangkak mundur ketika tubuhnya menggelepar, semakin lama semakin menjadi hingga ranjang yang semula rapi sudah tak beraturan. Aku segera berlari ke sisi seberang ranjang saat Pangeran tersebut tiba-tiba terjatuh, langkahku terhenti … Menatapnya yang semakin menjadi-menjadi mengejang di lantai, lengkap dengan kepalan selimut yang ia gigit kuat. Kedua matanya yang merah dan basah lama menatapku, sebelum akhirnya tubuhnya berhenti mengejang diikuti pandangannya yang kembali sendu.
Aku berjalan lalu duduk berjongkok mendekatinya, “kau, masih bernapas, bukan?” tukasku sambil menusuk-nusuk pipinya menggunakan jari telunjuk.
Aku bergerak sedikit mundur saat tangannya bergerak meraih selimut yang sebelumnya ia gigit. Dia beranjak duduk dengan matanya yang merah tak bergeming menatapku, kepalanya tertunduk sambil menggenggam erat selimut di tangannya. Napasnya yang tersengal terdengar jelas, beriringan dengan pundaknya yang bergerak naik-turun tanpa henti.
Aku beranjak berdiri hingga dia mengangkat kembali kepalanya, kuangkat kedua tanganku itu ke arahnya, “berdirilah! Aku akan membantumu,” ucapku sembari menggerakkan beberapa kali jari-jemariku yang mengarah kepadanya itu.
“Apa kau, tidak ingin kembali melihat dunia luar?” tukasku lagi, jari-jemariku kembali bergerak dengan kembali tersenyum menatapnya.
__ADS_1