Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXCVI


__ADS_3

Kedua kakiku melangkah semakin mendekati Kou dan juga Manticore tadi. Manticore itu, semakin meringkukkan tubuhnya saat Kou melepaskan cengkeramannya. “Apa yang ingin kau lakukan?” Tukasnya yang melintas di kepalaku.


Aku menghentikan langkah di dekatnya, “di sini berbahaya untuk kalian tinggali,” ucapku pelan, kedua bola mata Manticore itu sedikit membesar tatkala aku duduk berjongkok di dekatnya.


Manticore itu menggeram kuat dengan kedua matanya masih menatap tajam padaku, “apa yang ingin kau lakukan? Apa yang kau rencanakan?” Tubuhku sedikit menyamping saat lengannya hampir mencakar tubuhku jika saja Kou tidak cepat mencengkeram lengannya tadi.


“Jika kalian masih tetap tinggal di sini, hewan yang dulu menyerang rumah kalian … Akan menyerang kalian kembali di sini,” ucapku, Manticore itu kembali memperbesar kedua matanya menatapku, “jika dia dapat menemukan tempat tinggal kalian yang dulu, kenapa dia tidak bisa menemukan kalian yang hidup di dunia manusia?” Dia terdiam, Manticore itu terdiam saat aku mengatakannya.


“Aku benar bukan?” Sambungku kembali padanya untuk memastikan.


“Lalu apa yang kalian inginkan?!” Kepalaku lagi-lagi tertunduk saat suaranya terdengar keras di dalam kepalaku, “mau tidak mau, kalian harus ikut dengan kami. Kau, telah terikat kontrak dengannya,” ucapku sambil mengangkat sebelah tangan menunjuk ke arah Kou.


“Dengan kata lain, menentang perintahnya adalah kematian untukmu. Jika kau mati, lalu siapa yang akan menolong mereka?” Aku kembali bersuara pelan dengan sedikit melirik ke arah Manticore-Manticore yang lainnya.


“Yang aku maksudkan, kalian akan tinggal di dunia miliknya. Di sana, banyak sekali sihir, makhluk seperti kalian memerlukannya bukan?” Lanjutku lagi padanya, “Naga yang menyerang kalian, tidak akan bisa menemukan keberadaan kalian, jika kalian berada di bawah kekuasaan Naga milikku. Sihir yang kalian keluarkan, akan diredam olehnya hingga keberadaan kalian akan sulit ditemukan oleh makhluk jahat itu,” Geraman dari Manticore itu kembali mengetuk telingaku.


“Percayalah, aku pun sama seperti kalian. Kami, sama seperti kalian semua … Aku juga, ingin sekali membunuh makhluk itu. Kami, sedang dalam perjalanan untuk mencari banyak sekali pasukan untuk menghancurkan mereka, dan jujur … Aku ingin kalian bergabung bersama kami, bergabung bersama kami menghancurkan mereka semua,” ucapku lagi padanya, Manticore itu kembali diam tak berkutik seperti sebelumnya.


“Apa jaminannya?”

__ADS_1


“Lux, kemarilah!” Suaraku meninggi memanggil namanya, “dia seorang peri. Kerajaannya, dihancurkan oleh makhluk yang sama seperti yang menyerang kalian. Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa selamat sampai sejauh ini, tapi berbeda dengannya … Dia, satu-satunya bangsa Peri yang tersisa, semua keluarga dan temannya musnah dibantai oleh makhluk tersebut. Apa kalian, ingin berakhir seperti mereka?”


________________________


Aku mengenggam erat bulu loreng yang menyelimuti tubuh Manticore yang membawaku itu, sesekali aku menoleh ke belakang … Menatap ekornya yang mencuat ke atas saat tubuhnya berlari membawaku menaiki tebing batu. Aku tertunduk menatap bulu Manticore yang aku tunggangi itu, bulu-bulunya menggumpal satu sama lain saking kusutnya.


Manticore itu menghentikan langkah kakinya saat kami telah sampai di puncak tebing, aku bergerak ke samping lalu melompat turun dari atas tubuhnya. Dia berbalik lalu berlari kembali menuruni tebing bersama tiga Manticore yang membawa Haruki, Izumi dan juga Eneas.


“Bau mereka, benar-benar membuatku mual. Mengingatkan aku saat kita dulu sedang bersembunyi di tumpukan bangkai di hutan terlarang,” ucap Izumi, aku menoleh ke arahnya yang berjalan mendekatiku dengan mengangkat lengan kanannya lalu menciuminya.


“Apa mereka menggunakan bahasa kuno sama seperti Kou?” Aku kembali menoleh ke samping kanan, menatap Haruki yang telah berdiri di sampingku, “Kou melakukan kontrak paksa kepada pemimpin mereka, jadi dia akan bisa menggunakan bahasa kuno itu. Aku pun mungkin bisa berbicara dengan Uki jika saja Kou juga melakukan hal yang sama padanya,” ucapku dengan mengangkat sebelah tangan menggaruk belakang leher.


“Lalu? Bagaimana mereka semua dapat makanan?” Aku beralih ke arah Izumi yang telah duduk beralaskan tanah di hadapan kami, “bisakah nanti nii-chan meminta ayah untuk meletakkan banyak sekali hewan liar di hutan yang ada di ujung utara Kerajaan,” ucapku ikut duduk dengan kepalaku yang sedikit menengadah ke atas.


“Hutan yang sama, dengan hutan tempat kau menemukan Kou dulu?” Aku mengangguk ke arah Haruki yang juga ikut duduk di dekatku, “ di sana, mereka dapat berburu hewan-hewan liar tersebut, karena hutan itu dengan dunia Kou berhubungan.”


“Seperti hutan terlarang dan juga dunia milik Naga Kaisar?” Aku kembali menganggukkan kepala menatap Izumi, “jadi nii-chan bisakah? Itu akan membantu mereka untuk mendapatkan makanan,” sambungku kembali mengalihkan pandangan kepada Haruki.


Haruki mengangkat kedua tangannya bersilang di dada, “aku mengerti, aku akan meminta Ayah untuk melakukannya,” ucapnya kembali menoleh ke arah jurang yang ada di belakangnya.

__ADS_1


“Nii-san, buku milikmu,” ucap Eneas mengangkat sebuah buku ke arah Haruki, “bukankah buku ini ada padamu Sa-chan? Sejak kapan kau memberikannya kepada Eneas,” ucap Haruki meraih buku tersebut dengan sedikit melirik ke arahku.


“Aku benar-benar tidak ingat jika memegang buku tersebut, maaf,” ucapku membungkukkan tubuh ke arahnya, Haruki menghela napas saat aku kembali mengangkat kepalaku menatapnya, “lupakan, apa kalian masih ingin melihatnya? Sebelum aku menyimpannya kembali,” ungkap Haruki menatap kami bergantian.


Aku menoleh ke arah Izumi dan juga Eneas yang telah menganggukkan kepala mereka, kedua tanganku terangkat meraih buku yang diberikan Haruki padaku. Izumi dan Eneas bergerak mendekat saat aku dengan perlahan membuka halaman demi halaman buku tersebut, “bukankah ini Kou?” Tukas Eneas saat halaman berhenti bergerak di sebuah gambaran yang menjelaskan tentang naga.



“Apakah ini sepertimu?” Sambung Izumi diikuti jarinya yang bergerak ke arah sebuah gambaran manusia yang berdiri di dekat gambar naga tersebut, “mungkin,” ucapku saat jari-jemariku kembali membuka halaman yang lainnya.


“Phoenix,” ucapku dengan meraba bagian permukaan kertas tersebut.



“Phoenix? Maksudmu Uki?” Tukas Izumi yang aku balas dengan anggukan kepala, “mungkinkah jika besar nanti … Uki akan secantik itu?” Aku sedikit melirik ke samping saat suara Lux terdengar di samping telinga, “mungkin,” ungkapku tersenyum lalu membalik kembali halaman yang lain.



“Hip-po-cam-pus,” aku mengangkat kembali kepalaku menatapnya ketika Izumi mengeja dengan sangat pelan nama hewan setengah kuda dan setengah ikan seperti kuro.

__ADS_1


“Nii-chan,” ucapku, Izumi mengangkat wajahnya menatapku, “sejak kapan Izu-nii, bisa membaca bahasa kuno?” Tanyaku, Izumi melirik ke ujung kiri matanya diikuti mulutnya yang terkatup rapat tak bersuara.


__ADS_2