Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXIV


__ADS_3

“Nii-chan, jelaskan kepadaku, sebenarnya tempat apa ini?” tanyaku sambil berjalan lalu duduk di kursi yang ada di samping Izumi dengan menatap Haruki yang keluar dari kamar mandi dengan kain putih kecil di atas kepalanya.


Haruki berjalan dengan menundukkan kepalanya, kedua tangannya terangkat mengusap kain putih yang ada di kepalanya itu sebelum dia duduk di samping ranjang menatap ke arah kami, “selama di kapal, aku mendapatkan laporan dari kapten … Dia mengatakan, jika beberapa rakyat kita yang ditugaskan untuk berdagang di sini justru seringkali tak terdengar kabarnya lagi. Mereka tiba-tiba menghilang, karena itu … Aku meminta Arata dan juga Yuki untuk mencari tahu mengenai tempat ini terlebih dahulu ketika kita masih menunggu mereka di kapal.”


“Yuki memberitahukanku mengenai rumor tentang penginapan bangsawan ini, aku penasaran akan rumor yang menceritakan jika seorang perempuan menginap di sini, keesokan harinya dia akan ditemukan tak bernyawa, jika pengelana laki-laki yang datang menginap … Dia akan sulit melepaskan diri dari tempat ini.”


“Karena itu, kau memerintah Sachi untuk tinggal sendirian bersama Lux? Kau, ingin mengorbankannya untuk rumor yang tidak jelas kebenarannya?” timpal Izumi, dia mengangkat sebelah tangannya mencengkeram lengan kursi yang ia duduki.


“Kau salah memahami maksudku, aku melakukannya karena itu satu-satunya jalan untuk kita saling menjaga. Jika rumor tentang perempuan itu benar, kita yang akan langsung melindungi Sachi. Akan tetapi, jika rumor yang menyangkut laki-laki itu benar, kita bisa berpangku pada Sachi ketika sesuatu terjadi kepada kita. Dan buktinya, kita semua diselamatkan oleh Sachi, bukan?” jawab Haruki yang mengangkat kain putih dari atas kepalanya ketika tatapannya masih mengarah kepadaku.


Aku menoleh ke arah belakang saat suara ketukan tiba-tiba terdengar. “Masuklah,” tukas Haruki menjawab ketukan tersebut.


Ketukan berhenti diikuti deritan pintu yang terbuka … Tatsuya, Tsubaru dan Yuki berjalan masuk bergantian lalu menghentikan langkahnya di hadapan kami. “Bagaimana?” Haruki kembali membuka suaranya, kuangkat wajahku ke arahnya yang telah duduk di lengan kursi yang aku duduki.


“Laki-laki berkepala botak yang kita tangkap, tidak lain tidak bukan, merupakan pemilik penginapan ini,” keningku mengerut ketika Tatsuya mengatakannya, “mereka melakukannya bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali pada tamu laki-laki yang memiliki wajah rupawan,” aku semakin mengerutkan keningku saat Tatsuya melanjutkan perkataannya.


“Tatsuya, sebelum kalian datang … Aku sempat melihat laki-laki botak itu menepuk bo-”


“Bo? Bo apa, Sa-chan?” tanya Haruki saat dia mengarahkan pandangannya kepadaku.


Aku membuang pandanganku ke arah bawah, kedua mataku membesar saat kulihat kaki Izumi telah menginjak kakiku itu. “Bo apa, Sachi?” tanya Izumi, dia tersenyum sambil semakin memperkuat ijakannya ketika aku menoleh ke arahnya.


Bo … Bagaimana aku bisa mengatakannya jika kau menginjak kuat kakiku seperti itu.

__ADS_1


“Bo, maksudku dia menepuk kepala botaknya sendiri,” ungkapku mengalihkan pandangan ke arah Haruki diiringi tawa kecil yang keluar dari bibirku.


“Situasi sekarang sedang serius, jangan bercanda,” timpal Haruki yang mencubit kuat pipiku.


Aku tertunduk dengan mengusap pipiku ketika dia melepaskan cubitannya itu, “aku tidak bercanda nii-chan. Maksudku, jika mendengar pembicaraan mereka berdua sebelum Tatsuya dan yang lainnya datang, bukankah sudah jelas apa yang sebenarnya terjadi di sini?”


“Katakan padaku Tatsuya, apa kalian telah mengetahui siapa laki-laki berjubah yang kalian tangkap itu?” sambungku sambil membuang pandangan ke arah Tatsuya.


“Dia, tangan kanan pemimpin di sini.”


“Lihat! Pembicaraan di antara kedua orang itu, tepukan di bo-,” ucapku terhenti dengan menggigit kuat bibirku, “laki-laki rupawan yang menghilang, semuanya sudah jelas … Semua orang itu dijual, dijadikan seperti budak yang ditugaskan untuk memuaskan nafsu,” aku kembali melanjutkan perkataan dengan melirik ke arah Haruki dan Tatsuya bergantian.


“Maksud nee-chan, mereka menjual laki-laki, kepada laki-laki?” Kepalaku mengangguk cepat saat suara Eneas yang bertanya terdengar.


“Eneas, cukuplah pikiran dia yang terkotori, kalian berdua jangan,” timpal Izumi sambil menunjuk ke arah Eneas dan juga Ryuzaki.


“Nii-chan, bagaimana rasanya mendapatkan kejutan tak terduga tadi?” tanyaku ketika kami berdua telah saling bertatapan.


“Jika kau masih mengingatnya, jangan menyesal akan apa yang aku lakukan kedepan,” timpal Izumi yang membuatku langsung membuang pandangan darinya.


“Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian berdua?” gumam Haruki, aku masih membuang pandanganku ke depan, berusaha untuk tak menggubris mereka.


“Aku mengerti apa yang dimaksudkan Sachi. Tatsuya, habisi mereka berdua … Lakukan sampai bersih hingga tak menimbulkan kecurigaan. Tsubaru, beri kabar kepada Ayah agar memutus perdagangan dengan Kerajaan ini, dengan alasan mereka tidak bisa menjamin keselamatan para pedagang kita. Kita akan meninggalkan tempat ini, secepatnya, sebelum ada yang curiga,” ungkap Haruki dengan menatapi mereka bergantian.

__ADS_1


“Lalu, bagaimana dengan mereka yang telah ditangkap?”


“Kita tidak memiliki banyak waktu, aku melakukan hal ini hanya untuk mengetahui penyebab yang terjadi kepada mereka. Lagi pun, apa yang dilakukan para pedagang di penginapan khusus bangsawan yang biayanya menginap semalam saja lumayan mahal, sedangkan mereka telah disiapkan rumah khusus yang keamanannya terjamin oleh Kerajaan kita. Itu, kesalahan mereka karena bertindak ceroboh semau mereka sendiri,” ungkap Haruki yang langsung dengan cepat memotong perkataanku.


“Tugas untukmu, Yuki. Beri kabar kepada Kapten kapal jika salah satu di antara mereka adalah pengkhianat, pinta dia untuk berhati-hati. Sangat aneh jika mereka mengetahui kalau kita semua adalah pengelana, dan bukankah kalian berdua yang memberitahuku jika ada seorang laki-laki menawarkan kalian untuk tinggal di sini saat aku memerintahkan kalian untuk mencari informasi?”


“Lakukan semuanya dengan cepat, aku … Ingin segera melanjutkan perjalanan,” sambung Haruki kembali, mereka bertiga membungkukkan tubuh sebelum berbalik melangkah pergi keluar dari kamar.


“Tunggu apalagi, bersihkan tubuh kalian sebelum kita melanjutkan perjalanan. Eneas, mandilah terlebih dahulu!” Haruki menggerakkan jari telunjuknya ke arah Eneas.


Eneas beranjak dengan menggaruk kepalanya, dia mengangkat kedua tangannya meraih kain putih yang dilemparkan Haruki ke arahnya sebelum dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarku. “Kau ingin ke mana Izumi?” tanya Haruki ketika Izumi beranjak melangkahkan kakinya melewati kami.


Izumi menghentikan kakinya membuka pintu kamar, “aku ingin menyiksa laki-laki berkepala botak itu dengan tanganku sendiri sebelum membunuhnya,” ucap Izumi berjalan keluar lalu menutup kembali pintu kamar.


"Apa yang terjadi kepadanya?" Aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Haruki.


“Ryu, bagaimana kau bisa melakukannya? Maksudku, membuat tanaman berduri tumbuh di sekitar Arata sedangkan kita berada di lantai dua bangunan tanpa mengganggu lantai dasar,” tanyaku dengan mengalihkan pandangan ke arah Ryuzaki yang balas menatapku.


“Aku memberikan Arata sebungkus penuh tanah untuk disimpan, jadi jika kita berada dalam bahaya walau di sekitar tak ditemukan tanah. Setidaknya, aku bisa menyelamatkan kalian semua,” ucap Ryuzaki tersenyum membalas tatapanku.


“Kau melakukannya dengan sangat baik, Ryu,” tukas Haruki yang membuat Ryuzaki beralih menatapnya.


“Aku, dari dulu ingin sekali dipuji olehmu, Kakak. Terima kasih, telah memujiku sekarang,” tukas Ryuzaki membalas senyuman Haruki padanya.

__ADS_1


__ADS_2