
"Kita sudah sepakat, jadi berikan penawar racun tersebut padaku," ucapnya, kembali kualihkan pandanganku menatapnya yang tengah mengarahkan telapak tangannya padaku.
"Adikku," ucapku seraya kugerakkan kepalaku mencoba menatapi Eneas yang tertutupi oleh tubuhnya Izumi, kuangkat telapak tanganku tadi membentang di hadapan Izumi.
"Penawar racunnya," terdengar suara Eneas diikuti suatu benda tergeletak di telapak tanganku tadi.
"Terima kasih," ungkapku seraya kutarik kembali telapak tanganku tadi.
"Penawar racunnya. Kau hanya harus meminumkan semuanya padanya," ucapku lagi tersenyum menatapnya dengan telapak tanganku tadi bergerak ke arahnya.
Niel meraih botol kecil bertutup kain merah di atas telapak tanganku, dengan cepat dibukanya tutup botol tadi seraya diarahkannya botol tadi mendekati bibir Egil.
"Jika kondisi anakku semakin memburuk. Aku akan menebas kepala kalian semua dengan tanganku sendiri," ungkapnya kembali menatap tajam padaku.
___________________
Kugerakkan tubuhku berbaring di ranjang, kuangkat lengan kananku berbaring di atas dahiku. Entah telah beberapa kali helaan napas keluar dari balik bibirku...
*Flashback
"Mudah saja, kau hanya harus membantuku menyelamatkan seseorang yang dikurung di penjara bawah tanah," ucap Egil balas menatapku.
"Seseorang? Siapa?" tanyaku lagi padanya.
"Kau tidak harus mengetahuinya sekarang, hanya bantu aku terlebih dahulu untuk membebaskannya," sambungnya lagi padaku.
"Lalu apa yang akan aku dapatkan jika aku berhasil melakukannya?" ucapku membalas tatapannya.
"Semua yang ingin kau ketahui tentang kota ini. Tanpa sepengetahuan Ayah, aku membayar beberapa pencuri di pasar untuk membantuku mencari setiap informasi yang ada. Jika kau dapat melakukannya, aku akan memberikan semua informasi tersebut padamu," ungkapnya lagi padaku.
"Apakah hanya itu saja persyaratannya?" ucapku seraya kugerakkan ibu jariku mendekati bibir lalu menggigitnya pelan.
"Hanya itu, bagaimana? Apa kau bisa melakukannya?" ucapnya diiringi beberapa kali anggukan kepala yang ia lakukan.
__ADS_1
"Berikan aku waktu untuk memikirkannya," ungkapku sembari kembali kugigit ujung ibu jariku tadi.
"Baiklah, Lux apa kau disana?" ucapku lagi sembari kulepaskan ibu jari yang sempat kugigit beberapa kali itu.
"Kau memerlukan bantuan ku?" Terdengar suara Lux diikuti bayangannya yang keluar dari dalam rambutku yang tergerai.
"Makhluk apa itu?" sambung Egil, kualihkan pandanganku menatapnya yang tampak keheranan memandang Lux.
"Dia temanku. Lux, aku ingin kau terbang sembunyi-sembunyi lalu beritahukan semua rencana yang akan aku katakan nanti pada Kakakku. Pastikan tersampaikan dengan sangat baik," ucapku sembari kualihkan tatapanku kembali pada Lux.
"Dan Egil," sambungku kembali menatapnya.
"Apa Ayahmu sering menjemputmu jika kau terlambat datang menemuinya?" ungkapku lagi padanya, mengangguk Egil menjawab perkataanku.
"Kalau begitu, aku ingin kita berdua tetap berada di sini hingga Ayahmu datang dan aku juga ingin, kita berdua selalu beradu pendapat di hadapannya. Apa kau bisa melakukannya?"
"Untuk apa aku melakukannya?" ucapnya kembali menatapku.
_____________________
Mataku terbuka sangat perlahan saat kurasakan sesuatu menimpa tubuhku. Kedua mataku sedikit membesar saat kutatap Niel yang telah duduk di hadapanku dengan suatu benda keras, tajam nan dingin menyentuh leherku. Kugerakkan kedua mataku melirik pada pintu kamar yang sedikit terbuka...
Apa dia berniat membunuhku?
Tenangkan dirimu Sachi, biarkan otakmu berkerja keras dengan nyaman terlebih dahulu. Pikirkan, dan ingat kembali kelemahannya yang sempat dikatakan Egil padamu...
Pandangan mataku kembali bergerak membalas tatapan Niel. Kembali dan kembali helaan napas keluar mengiringi tatapanku padanya...
"Kau ingin membunuhku?" ucapku seraya kuarahkan telapak tanganku meraih dan menggenggam ujung pisau yang menempel di leherku.
"Kau menyadarinya?" sambungnya semakin menekan pisau tersebut menempel pada leherku.
"Kau yakin? Tapi nyawa Egil masih belum selamat sepenuhnya, dia masih harus menerima penawar racun dariku seminggu lagi. Jika tidak..."
__ADS_1
"Tutup mulutmu!" bisiknya semakin mendekatkan wajahnya padaku.
"Baiklah. Aku tanyakan sekali lagi, kau yakin ingin membunuhku?" ucapku seraya kuarahkan kedua lenganku merangkul lehernya.
"Jauhkan kedua tanganmu dari tubuhku," ungkapnya, kurasakan tekanan pisau yang menempel di leherku sedikit berkurang.
"Jauhkan terlebih dahulu tanganmu di leherku," sambungku tersenyum menatapnya.
"Aku tidak akan melakukannya."
"Akupun tidak akan melakukannya. Wajah cantik, kulit yang mulus... Aahh, kau benar-benar tipe idamanku," ucapku sembari kugerakkan telapak tangan kananku menyentuh wajahnya lalu bergerak ke lehernya.
"Benar-benar menjijikan. Kalian perempuan benar-benar menjijikan," ucapnya beranjak berdiri tiba-tiba, kepalaku terjatuh membentur lantai tatkala lenganku terlepas dari pundaknya.
"Kepalaku," bisikku pelan seraya kuarahkan telapak tanganku mengusap-usap pelan kepalaku.
"Apa kau tidak bisa bersikap sedikit lemah lembut pada perempuan!" teriakku mengalihkan pandangan padanya.
"Untuk apa aku bersikap lemah lembut pada perempuan tidak tahu malu sepertimu!" ungkapnya balas berteriak dengan sebilah pisau yang masih ada di genggamannya mengarah padaku.
"Siapa? Siapa yang tidak tahu malu? Kau sendiri yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku tanpa diundang."
"Untuk apa aku memberi kabar seseorang yang ingin ku bunuh kalau dia akan segera ku bunuh," ucapnya lagi kembali menatap padaku.
"Lagipun, kau sendiri yang mulai menggodaku," sambungnya dengan nada sedikit gelagapan.
"Aku tidak tertarik padamu. Aku tidak tertarik pada laki-laki sepertimu! Kau sama sekali tidak menarik perhatianku, apa kau puas?!" ucapku seraya berusaha menggerakkan tubuh beranjak duduk.
"Ada apa ini? Sa-chan, apa yang terjadi?" terdengar suara Haruki, tubuhku tertegun sejenak memikirkan apa yang harus aku lakukan kemudian.
"Nii-chan, tolong aku. Dia... Dia berusaha membunuhku," rengekku dengan wajah tertunduk, sekuat mungkin kupaksakan mataku untuk mengeluarkan air mata.
"Menjauhlah dari Adikku, atau akan kupastikan kepalamu akan hancur oleh kedua tanganku sendiri," kembali terdengar suara Haruki diikuti suara langkah kaki yang semakin berjalan mendekati.
__ADS_1