Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLXV


__ADS_3

"Kalian diperbolehkan untuk saling membunuh. Akan tetapi, jika kalian berkeinginan untuk membiarkan lawan kalian hidup... Mereka akan menjadi budak kalian, melanggar peraturan? Dimana pun kalian tinggal, kami akan memburu kalian," ucap laki-laki paruh baya tadi menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menatapi Izumi dan laki-laki bernama Tiebout tadi.


Laki-laki paruh baya tersebut mundur ke belakang beberapa langkah, dia berbalik melangkah meninggalkan mereka berdua di tengah arena. Tiebout dan Izumi berjalan ke sisi lapangan, langkah kaki mereka berdua bergerak mendekati dua tombak yang bersandar di sisi dinding arena.


Tombak? Bertarung menggunakan tombak bukanlah hal yang mudah? Selain harus memiliki kekuatan berkali-kali lipat, memakai tombak haruslah memiliki dasar bela diri yang memungkinkan. Apakah Izumi akan baik-baik saja?


Mereka berdua berbalik lalu berjalan ke tengah, tombak dengan mata pisau yang besar telah digenggam erat oleh tangan-tangan mereka. Keadaan menghening... Keriuhan tiba-tiba memudar.


Dhung... Dhung!


Suara gong tiba-tiba terdengar diikuti suara riuh para penonton yang kembali memecah kesunyian.


"Habiskan dengan cepat!"


"Aku ingin melihat mayat lagi!"


"Aku ingin kepala terbang, berikan aku pertunjukan kepala terbang!"


Teriakan demi teriakan memenuhi tempat itu, aku berbalik menatap Eneas yang menggenggam kedua tangannya di sampingku, sedangkan Haruki... Telapak tangannya bergerak menggenggam sehelai kertas yang ia dapatkan dari laki-laki sebelumnya.


Laki-laki bernama Tiebout tadi mengangkat tombak yang ada di tangannya, diayunkannya tombak tadi ke arah Izumi. Izumi menangkis tombak laki-laki tadi yang mengarah ke arahnya, kedua kakinya sedikit menekuk saat laki-laki bernama Tiebout tadi semakin mendorong tombak tadi dengan kedua tangannya ke arah Izumi.


Perlahan, kaki Izumi yang menekuk kembali berdiri seperti sebelumnya. Izumi mengangkat kaki kanannya setinggi mungkin seraya diarahkannya kaki kanannya tadi menghantam lengan kiri laki-laki tersebut.


Saat genggaman dari sebelah tangan Tiebout terlepas dari tombak miliknya, Izumi dengan cepat bergerak ke samping seraya tangan kanannya menggerakkan ujung tombak miliknya hingga menyentuh perut laki-laki tersebut.

__ADS_1


Laki-laki tadi tertunduk sejenak dengan sebelah tangannya memegang perutnya. Izumi masih menatapi laki-laki tadi, bisik-bisik kembali terdengar... Kenapa dia tidak langsung membunuhnya saja? Begitulah kata-kata yang terlontar dari beberapa orang itu.


Laki-laki bernama Tiebout tadi mengangkat kembali tombak miliknya dengan kedua tangannya. Tombak miliknya berayun-ayun ke arah kanan dan ke kiri berusaha memotong bagian tubuh Kakakku itu.


Izumi berjalan mundur seraya tangannya menggerakkan tombak miliknya menangkis serangan dari laki-laki itu. Teriakan dari bangku penonton semakin riuh terdengar... Potong kepalanya! Atau cepat selesaikan pertarungan ini! Saat Izumi semakin melangkah mundur oleh serangan yang dilakukan Tiebout.


"Kumohon, nii-chan," ucapku pelan menatapi pertarungan mereka.


"Apa kau pikir Izumi akan kalah dari laki-laki itu?" Ucapan Haruki terdengar, kugerakkan kepalaku menatapnya yang telah menyilangkan lengannya di dada menonton pertarungan.


"Haru-nii, apa kau tidak khawatir sama sekali padanya?"


"Izumi itu kuat. Dia telah menguasai banyak sekali bela diri sejak kecil. Dia tidak akan kalah hanya karena musuhnya bertubuh lebih besar darinya," ucap Haruki, tampak kutatap dia menarik napas dengan sangat kuat.


Tombak Tiebout semakin gencar berayun ke arah Izumi saat tubuh Izumi tak dapat lagi berjalan mundur oleh dinding kayu di belakangnya. Izumi sedikit menggerakkan tubuhnya ke samping saat tombak milik laki-laki itu bergerak cepat ke arahnya.


Aku sedikit beranjak saat kutatap tombak milik laki-laki itu tertancap di dinding kayu. Izumi menggenggam kuat batang tombak milik laki-laki tadi seraya tubuhnya melompat menerjang wajah lawannya.


Tiebout mundur ke belakang akibat tendangan di wajahnya oleh Izumi. Izumi melangkahkan kakinya mendekati lawannya seraya kedua tangannya mengangkat tinggi tombak miliknya. Tiebout mengangkat kedua tangannya menutupi wajahnya saat tombak milik Izumi mengarah padanya.


"Aku ingin menjadikannya budakku," teriak Izumi saat tombak miliknya menancap ke tanah persis di samping lawannya yang duduk tak berdaya.


"Kau ingin menjadikannya budakmu?" Ungkap laki-laki paruh baya yang telah berdiri di salah satu bangku penonton dengan corong pengeras suara di tangannya.


"Aku ingin menjadikannya budakku, karena itu aku tidak akan membunuhnya di sini," ucap Izumi menjawab perkataan laki-laki paruh baya itu.

__ADS_1


"Tidak masalah, asalkan kau membayar kami untuk mengurus surat perjanjiannya," ucap laki-laki paruh baya itu lagi dengan mengarahkan corong pengeras suara mendekati wajahnya.


"Aku tidak masalah, hanya jadikan dia budakku," ucap Izumi menatapi Tiebout yang tertunduk diam.


"Baiklah, pertarungannya berakhir. Pemenangnya adalah Dante," ucap laki-laki itu kembali dengan sangat lantang.


"Dia hidup karena belas kasihan lawannya."


"Memalukan sekali."


"Aku lebih memilih mati, daripada menjadi budak karena kalah bertarung."


Bisik-bisik kembali terdengar saat Izumi menarik kembali tombak yang ia tancapkan di tanah dan berjalan meninggalkan Tiebout... Izumi menatapi kami dengan senyum darinya.


Kedua mataku membesar saat kutatap Tiebout yang berlari kencang mendekati Izumi. Jelas sekali, kemarahan tergambar di wajahnya itu...


"Izu-nii," ucapanku terhenti.


Kutatap Izumi yang telah menggerakkan tubuhnya sedikit berbalik ke belakang. Tombak miliknya bersimbah darah diikuti tubuh Tiebout yang jatuh tersungkur di hadapannya... Izumi berjalan lalu menunduk dengan sebelah tangannya meraih kepala Tiebout yang menggelinding ke tengah lapangan.


"Aku membunuhnya, apa aku harus tetap membayar perjanjian itu?" Ucap Izumi berbalik menatap laki-laki paruh baya tadi dengan sebelah tangannya mengangkat kepala Tiebout ke atas.


"Perjanjiannya batal, kau akan mendapatkan hadiah dari memenangkan pertarungan ini nanti," ucap laki-laki itu tersenyum menatapi Izumi.


"Baiklah, aku menantikan hadiahnya," ungkap Izumi berbalik lalu melemparkan kepala Tiebout yang ada di tangannya ke arah laki-laki yang duduk di hadapan kami.

__ADS_1


__ADS_2