
“Aniela, bagaimana? Apa kau menerima lamaran itu?”
“Aku, tidak akan menyetujuinya, jika kau menikah dengan mereka yang bersekutu pada Kaisar. Namun aku, akan menyetujuinya jika kau menerima lamaran Pangeran Kerajaan Sora itu! Sora, mereka Kerajaan yang besar, ambisi mereka pun sama seperti kita, yakni melawan Kaisar. Aku, tidak ingin tahu, kau harus menerimanya!”
Lalu untuk apa kau bertanya tentang pendapatku? Jika pada akhirnya, keputusanmu tetaplah mutlak.
Aku disembunyikan, sebelumnya tak diakui sebagai anakmu. Setelah Kakak sembuh oleh mereka yang kau anggap sekutu itu, kau bahkan mengangkatku ke permukaan dengan alih-alih memperkuat Kerajaan. Takaoka Eneas? Aku bahkan tidak tahu siapa dia, kenapa aku harus menikahi laki-laki yang aku pun tidak tahu itu siapa.
______________.
“Putri, kita hampir sampai.”
Suara derap langkah kaki kuda, beradu dengan detak jantungku yang kian tak menentu. Aku mengangkat tangan, menekannya kuat ke dadaku. Seperti apa Kerajaan Sora itu? Perempuan, tidak pernah dihargai di dunia ini, bukan? Lalu, apa yang akan terjadi padaku setelah sampai ke sana? Aku tidak dapat melakukan apa pun, yang aku miliki hanya wajah dan tubuhku saja, bagaimana ini? Mereka, pasti memperlakukanku dengan buruk.
Aku terhentak saat pintu kereta terbuka, telapak tanganku semakin basah oleh keringat saat Kesatria itu mengatakan, bahwa kami telah sampai. Aku menarik napas dalam, kakiku gemetar, terasa sukar untuk digerakkan saat aku mencoba untuk turun dari atas kereta tersebut. “Dia datang.” Aku tertegun, ketika suara perempuan terdengar ketika kakiku telah kembali menapak di tanah.
Aku terdiam, mataku terpaku menatap seorang laki-laki paruh baya dengan tiga orang perempuan, dan sepasang anak kecil yang berdiri, tersenyum menatapku. “Takaoka Kudou, Ayah dari Pangeran Takaoka Eneas … Selamat datang, di Kerajaan kami, calon menantuku,” ucap laki-laki paruh baya itu tersenyum ke arahku.
Apa benar ini Sora? Mereka Kerajaan besar yang sangat kuat, bukan? Apa mereka memang, seramah ini memperlakukan perempuan?
“Yang di sebelah kananku, dia Isteriku, Takaoka Ardella. Sedangkan, dua perempuan yang ada di sebelah kiriku, mereka calon kakak iparmu, Luana dan juga Sasithorn,” ucapnya lagi yang diikuti anggukan kepala dari ketiga perempuan itu.
“Miyu, Hikaru, beri salam kepada bibi kalian,” ucap salah seorang perempuan yang tubuhnya gelap.
Anak perempuan, berserta anak kecil laki-laki yang berdiri di dekatnya itu, membungkukkan tubuh mereka ke arahku sebelum anak laki-laki itu kembali memeluk perempuan tersebut. “Eneas, berserta anak-anakku yang lain masih di dalam perjalanan pulang. Kami telah menyiapkan semua yang kau perlukan, jangan sungkan,” tukas laki-laki paruh baya itu yang lagi-lagi tersenyum menatapku.
__ADS_1
_________________.
Sudah beberapa hari aku tinggal di sini, dan jujur … Bahkan sampai sekarang saja, aku masih belum terbiasa dengan Kerajaan ini. “Bibi, apa Bibi memerlukan sesuatu?” Aku terhenyak ketika suara anak perempuan mengetuk telinga.
Lirikan mataku tertunduk, menatap Miyu yang telah berdiri di dekatku dengan beberapa tumpuk buku di tangannya. “Tidak. Saya tidak memerlukan apa pun.”
Kening anak perempuan itu berkerut menatapku, “Kakek mengatakan, dalam keluarga tidak perlu berbicara terlalu kaku seperti itu. Bibi akan menikah dengan Paman Eneas, itu berarti Bibi juga keluarga kami,” ucapnya, dia berjalan melewatiku sambil meletakkan buku yang ia bawa ke atas meja yang ada di dekat kami.
“Apa kau tahu, bagaimana menderitanya para perempuan di luar sana?”
Apa yang kau lakukan Aniela? Dia, hanya anak perempuan berusia sem-
“Aku tahu,” jawabnya santai menatapku, “karena itulah aku sekarang berusaha untuk belajar banyak hal agar dapat membantu Ayah dan juga Paman berserta Bibi berjuang. Ayah mengatakan, karena aku terlahir beruntung memiliki semuanya, karena itu juga aku harus memanfaatkan semua yang aku miliki untuk dapat menolong sesama.”
“Miyu! Paman pulang membawakanmu sesuatu.”
Aku terhentak saat suara laki-laki terdengar mengetuk telinga. Aku kembali tertegun, ketika mataku dan mata abu-abu seorang laki-laki bertemu. “Paman!” Miyu berlari cepat melewatiku mendekati laki-laki itu.
Laki-laki tersebut membungkuk, menggendong Miyu yang berdiri di sampingnya, “keponakan Paman yang cantik. Kau terlihat semakin cantik setiap kali kita bertemu,” ucap laki-laki tersebut sambil mencubit pipi Miyu yang ada di gendongannya.
“Apa kau Putri Aniela?” tukasnya, kepalaku mengangguk dengan cepat menjawab perkataannya.
“Takaoka Izumi, kakak kedua dari Pangeran Takaoka Eneas. Salam kenal untukmu, calon adik ipar,” ucapnya tersenyum sebelum berbalik dengan membawa Miyu di gendongannya.
“Jangan hanya berdiam diri seperti itu. Saudaraku yang lain, dan juga Eneas pasti sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu,” sambungnya sambil tetap berjalan tanpa sedikit pun berbalik.
__ADS_1
Aku ikut berjalan di belakangnya, langkahku terhenti kembali ketika kedua mataku terjatuh ke arah beberapa orang yang saling bercengkerama satu sama lain. “Ayah,” tukas Miyu, dia berjalan mendekati salah seorang laki-laki setelah laki-laki bernama Izumi itu menurunkannya dari gendongannya.
Laki-laki itu berjongkok memeluk Miyu, “bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan mengusap belakang kepala Miyu.
“Miyu baik-baik saja, Ayah. Ayah sendiri bagaimana?”
“Apa kau merindukan Ayah?” Laki-laki tersebut menggendong Miyu setelah dia menganggukkan kepalanya, “Miyu, apa kau melihat di mana Ibumu?”
“Tubuh Hikaru kotor setelah berlatih pedang dengan Kakek, jadi sekarang Ibu mungkin sedang memandikannya,” jawab Miyu sambil mengangkat jari telunjuknya menyentuh bibir.
“Eneas, kenapa kau hanya berdiam diri seperti itu saat calon isterimu sekarang tepat berada di hadapanmu.”
Aku terdiam, kugenggam kuat kedua tanganku ketika suara Izumi kembali terdengar. Kujatuhkan pandanganku kepada seorang laki-laki yang berdiri tertunduk. Rambutnya hitam, tubuhnya tinggi dan tegap, sama seperti laki-laki lain yang ada di hadapanku. Aku terpaku ketika mata hitamnya itu terangkat menatapku, “Takaoka Eneas, sa- salam kenal.”
“Perkenalan macam apa itu!”
Tubuh Eneas bergerak lalu berhenti tepat di hadapanku ketika Izumi memukul kuat punggungnya, “nii-san, apa yang kau lakukan?!” Dia berteriak dengan berbalik menatap ke arah Izumi yang berdiri di belakangnya.
“Apa seperti itu caramu memperlakukan calon isteri?!”
“Hentikan Izumi, lihatlah wajahnya yang merah itu,” sambung laki-laki yang menggendong Miyu sambil ia tersenyum menatap kami.
“Kita belum berkenalan, Takaoka Haruki. Anak tertua dari Keluarga Takaoka,” ucap laki-laki yang menggendong Miyu itu kembali.
“Takaoka Sachi, kau bisa memanggilku kak Sachi. Senang berkenalan denganmu, calon adik ipar,” timpal seorang perempuan bermata hijau yang berdiri di tengah-tengah mereka.
__ADS_1