Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLX


__ADS_3

Gritav kembali menggerakkan tubuhnya berjalan ke samping, aku sedikit dapat melihat kembali pasukan musuh saat dia melakukannya. Kepalaku kembali berbalik ke belakang, menatapi beberapa Kesatria yang berbaris di belakang kami.


Aku lagi-lagi menggerakkan mataku menatap ke arah beberapa Kesatria musuh yang telah jatuh bersusun di tanah. Beberapa dari mereka ada yang terbaring, beberapa dari mereka juga ada terduduk dengan telapak tangan mereka memegang beberapa bagian tubuh mereka masing-masing sebelum jatuh berbaring tak sadarkan diri.


"Lemparkan kendi yang kedua!" Aku kembali berteriak lantang dengan kedua mataku masih menatap ke arah pasukan musuh.


Kendi-kendi kecil yang ditutupi sebuah kain berwarna merah terbang melewati kepala kami sekali lagi. Beberapa Kesatria musuh yang sadar akan hal itu, langsung menembakkan anak panah mereka ke arah kendi-kendi tadi.


Anak panah yang menembus kendi-kendi tadi membuat minyak yang ada di dalamnya jatuh keluar melumuri tubuh mereka. "Tunggu apalagi, segera tembakkan panah api ke arah mereka!" Aku kembali berteriak memerintah mereka dengan kuat.


Para pemanah yang ada di depan, meletakkan ujung panah mereka ke arah obor yang ada di samping mereka. Setelah ujung anak panah itu terbakar, dengan sigap mereka langsung mengarahkan anak panah tersebut ke arah pasukan musuh.


Api di panah yang jatuh ke arah pasukan musuh, langsung menyebar saat ujung anak panah tersebut menyentuh mereka. Beberapa Kesatria yang tubuhnya terbakar ada yang berlari berusaha memadamkan api tersebut, beberapa dari mereka ada yang menggerakkan tubuh mereka berguling-guling di atas permukaan tanah.


"Lemparkan kembali kendi-kendi tersebut!"


"Dan para pemanah, siapkan panah kalian!"


Aku kembali berteriak lantang, kendi-kendi kembali berterbangan menyusul perkataanku tadi. Kendi-kendi tersebut melesat cepat ke arah pasukan musuh disusul anak panah yang ditembakkan oleh para pasukan kami.


Anak panah yang menembus kendi-kendi tadi membuat minyak yang ada di dalamnya mengalir keluar membasahi para pasukan musuh. Api yang sebelumnya hampir padam, kembali membesar bahkan semakin membesar ketika angin berembus di sekitar kami.


Para pasukan musuh semakin kewalahan, kuda-kuda yang dibawa oleh pasukan berkuda melempar beberapa Kesatria yang duduk di atasnya saat api yang ada di sekitar mereka membesar. Aku kembali mendongakkan kepalaku ke atas, matahari yang semakin condong ke Barat membuatku semakin tersadar.


"Apa kita berhasil?"

__ADS_1


Suara salah seorang Kesatria kembali mengalihkan pandangan mataku, aku kembali menoleh ke arah para pasukan kami yang terlihat membuat senyum di ujung bibir mereka.


Api yang semakin membesar, menebarkan bau terbakar yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Asap yang membumbung tinggi ke langit membuat pasukan musuh yang tersisa bergerak mundur menjauhi api yang ada di hadapan mereka.


"Apakah kita berhasil menahan mereka?"


"Kita berhasil?"


Suara para Kesatria kami terdengar bergantian, mereka saling tatap satu sama lain ... Mereka menghening sekejap, sebelum teriakan riuh memenuhi udara.


Para Kesatria kami berteriak dengan mengangkat senjata-senjata yang mereka pegang, aku sedikit menoleh ke samping saat kurasakan tepukan pelan di punggungku, "kau berhasil Hime-sama," ucap Gritav tersenyum menatapku.


"Kita berhasil," ucapku balas tersenyum menatapnya.


__________________________


"Aku membawakan makanan untukmu," ucapnya mengarahkan mangkuk yang ada di tangannya tadi ke arahku, "terima kasih," ucapku seraya kugerakkan kedua tanganku meraih mangkuk tersebut.


"Apa kau tidak ikut minum-minum bersama mereka Gritav?" Tanyaku, kedua mataku mengarah ke arah sup daging yang ada di dalam mangkuk dengan sebelah tanganku meraih sendok yang ada di dalam mangkuk tersebut.


"Kami ditugaskan untuk menjagamu, kami tidak akan melakukannya selama kami menjagamu," ucapnya duduk di sampingku.


"Sepertinya, kau sudah sedikit terbiasa dengan peperangan Hime-sama. Aku tidak menyangka, jika kau menawariku untuk melakukannya," ucapnya dengan meletakkan gelas besi yang ia genggam tadi di hadapanku.


"Aku, sedikit menyadarinya ketika kami di Balawijaya dulu," ucapku mengambil sedikit sup menggunakan sendok yang aku genggam tadi lalu menghirupnya.

__ADS_1


"Aku sedikit mendengar tentang kabar itu, mereka menang besar di bawah pimpinanmu bukan?"


"Aku memenangkannya karena para penduduk di sana ingin melindungi Kerajaan mereka dengan nyawa mereka sendiri," ucapku kembali menghirup sup yang sebelumnya telah aku tiupkan udara.


"Gritav, terima kasih," ucapku menoleh ke arahnya, "terima kasih?" Dia balik bertanya ke arahku.


"Aku, sebenarnya hampir merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki yang ada di atas kereta kuda tadi. Terima kasih, karena telah membuatku tersadar kembali," ucapku tersenyum kecil ke arahnya.


"Ketika perang, kita hanya memikirkan bagaimana caranya mengalahkan musuh. Entah itu serangan yang melukai tubuh ataupun pikiran, jadi Hime-sama ... Ketika kau, merasa terganggu dengan apa yang dilakukan musuh."


"Itu akan berimbas langsung pada pasukan yang kau pimpin, sebagai pemimpin yang memimpin banyak sekali pasukan. Kau dilarang untuk ketakutan, karena ketika para pasukanmu merasakan hal yang sama ... Saat itulah, pasukan yang kau pimpin akan hancur," ucapnya, Gritav kembali mengarahkan pandangan matanya ke arah api unggun yang ada di hadapan kami.


Beberapa Kesatria yang ada di arah kanan kami tiba-tiba bergerak ke samping seakan memberikan jalan kepada seseorang. Kutatap Adofo yang berjalan di tengah-tengah mereka dengan membawa sebuah kain tebal berwarna kecokelatan ke arah kami.


"Hime-sama," ucapnya tertunduk dengan kedua tangannya yang memegang kain tadi ke arahku.


Aku meletakkan mangkuk berisi sup yang ada di tanganku ke samping, kuangkat tanganku tadi meraih kain yang ada di tangan Adofo, "terima kasih," ucapku kepadanya seraya kubuka sedikit lipatan dari kain tebal tadi.


"Apa kau mendapatkan kabar terbaru dari pasukan lain, Adofo?" Tanyaku, kuarahkan kain tadi menutupi seluruh kakiku.


"Pasukan di benteng Selatan, kembali memukul mundur pasukan musuh ketika Tuan Haruki datang. Jika dia datang sedikit terlambat saja, benteng Selatan kemungkinan telah roboh oleh musuh sekarang," ucapnya yang bergerak duduk di samping Gritav.


"Lalu?" Tanyaku lagi, seraya kuarahkan kembali tanganku meraih mangkuk berisi sup milikku tadi.


"Benteng Barat dan juga Timur, mereka bahkan tidak bertarung dengan musuh. Pasukan musuh yang ada di hadapan mereka, tidak melakukan penyerangan sama sekali," ucapnya kembali, Adofo menggerakkan tangannya meraih potongan-potongan kayu lalu melemparkan potongan kayu tadi ke dalam api unggun.

__ADS_1


"Sebenarnya, apa yang mereka pikirkan?" Aku sedikit bergumam dengan menggigit kuat ujung ibu jariku, "lalu? Sebutkan perincian tentang kondisi pasukan kita sekarang!" Aku kembali berbicara dengan mengalihkan pandangan ke arahnya.


__ADS_2