Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXCII


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?" ucap Julissa, kuarahkan pandanganku menatap padanya.


"Aku baik-baik saja, perutku hanya sedikit nyeri," ungkapku, kembali kutundukkan kepalaku memandangi kedua kakiku yang bergerak melangkah bergantian.


"Kau yakin?" ucapnya kembali, kali ini kurasakan sesuatu menyentuh pundakku.


"Sakit sekali, Julissa, bagaimana ini? Sepertinya ini waktuku," ungkapku, seraya kujatuhkan diriku berlutut dengan kedua lengan melingkar kuat di perut.


"Jangan katakan?"


"Apa kau bisa berjalan? Aku bisa memapah tubuhmu," ucapnya, kembali kurasakan sentuhan di pundakku sebelumnya sedikit mengerat.


"Aku tidak bisa berjalan, perut dan punggungku rasanya sakit sekali. Bisakah kau menggendongku?" ungkapku, kualihkan pandanganku menatapnya yang juga telah berdiri menatapku.


"Apa kau pikir, tubuhku yang lemah ini akan mampu menggendongmu?" ucapnya kembali, diangkatnya kepalanya tadi seraya digerakkannya ke kanan dan ke kiri.


"Adinata, Danurdara, Zeki!" Teriak Julissa, kualihkan pandanganku menatap ke arah yang ia pandangi.


"Ada apa?" ucap Adinata, berjalan semakin mendekati dengan Danurdara dan Zeki berjalan di belakangnya.


"Zeki, bisakah kau membawanya ke kamar? Aku akan membuatkan obat untuknya," ucap Julissa kembali.


"Obat? Kau baik-baik saja?"


"Apa kau harus menanyakannya? Dengan melihatku seperti ini saja bukankah kau harusnya sudah tahu aku sedang tidak baik-baik saja," ucapku dengan nada sedikit meninggi padanya.


"Apa yang terjadi padamu? Dan kenapa juga kau harus melampiaskan kekesalanmu padaku? Aku hanya bertanya, kau tahu? Aku hanya bertanya," jawabnya yang juga dengan nada sedikit meninggi.

__ADS_1


"Kau jahat sekali. Julissa, tidak bisakah kau saja yang membawaku?" rengekku, kualihkan pandanganku menatap Julissa kembali.


"Kami para perempuan tidak seperti kalian laki-laki, apa kalian pernah merasakan sakit perut setiap bulan seperti kami? Apa kau tidak bisa sedikit lembut padanya..."


"Aku akan menggendongmu Sachi, kita tidak bisa berharap kepada mereka, terlebih lagi pada tunanganmu," ucap Julissa dengan nada yang juga sedikit meninggi, kutatap ia yang bergerak menunduk mendekati.


"Astaga, berikanlah aku kesabaran Deus," terdengar suara Zeki, kurasakan tubuhku terangkat ke atas seraya kutatap ia yang juga balas menatapku.


"Aku akan membawanya ke kamar, hanya berikan saja dengan cepat obat yang kau maksudkan itu," ungkapnya lagi, diikuti bergeraknya tubuhnya yang membawaku itu.


"Apa kau yakin baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali?"


"Jangan banyak bertanya, apa kau tidak bisa mempercepat langkah kakimu?" ucapku, kutatap dia yang terlihat menarik napas dalam-dalam lalu dikeluarkannya kembali dalam satu hentakan.


"Pelayanmu ini akan mengantarmu dengan sangat cepat Hime-sama," ungkapnya tersenyum dingin menatapku.


Kualihkan pandanganku menghindari tatapannya, kembali kugerakkan kepalaku semakin mendekati dan terbenam di dadanya. Rasa nyeri di perut dan punggungku terasa semakin menjadi, diikuti semakin melembabnya celana yang aku gunakan...


"Aku mengerti, aku akan melakukannya untukmu. Perkataanmu adalah perintah mutlak untukku Putri," ucapnya, kurasakan gerakan langkah kakinya yang membawaku semakin cepat dan semakin cepat.


__________________


"Kau yakin baik-baik saja di dalam?" teriaknya diikuti suara ketukan pintu dari luar kamar mandi.


"Aku baik-baik saja, apa kau tidak bisa sedikit tenang? Kau membuat perutku semakin berdenyut," ucapku, seraya kugerakkan tanganku dengan kuat membuka pintu kamar mandi.


"Dan kau membuat kepalaku tak henti-hentinya berdenyut, bagaimana aku bisa tenang melihatmu yang pucat itu masuk ke dalam kamar mandi sendirian. Bagaimana jika kau tak sadarkan diri disana?!" balasnya dengan sedikit nada meninggi.

__ADS_1


"Apa seperti ini caramu memperlakukan pasanganmu sendiri yang sedang sakit? Perut dan punggungku terasa remuk dan kau memarahiku karenanya?"


"Ya Deus, aku tidak tahu lagi harus bagaimana?" ucapnya mengalihkan pandangannya dariku, kutatap dia yang berkali-kali memukul dinding yang ada di hadapannya.


"Kau menjengkelkan sekali. Aku tidak ingin melihatmu sekarang, pergilah," ungkapku, kulangkahkan kakiku bergerak perlahan mendekati ranjang lalu berbaring di atasnya.


"Manusia menjengkelkan inilah yang membawamu kesini dengan keadaan baik-baik saja tanpa kekurangan sedikitpun, wahai Putri," ucapnya, kualihkan pandanganku padanya yang berjalan mendekati.


"Apa sakit sekali?" ucapnya, tetap kutatap dia yang telah duduk di samping ranjang menatapku.


"Tentu, kau bodoh. Kalian laki-laki tidak akan paham bagaimana sakitnya."


"Julissa akan segera kembali, bertahanlah. Apa kau membutuhkan sesuatu?"


"Tidak ada, aku hanya ingin istirahat... Tubuhku sakit semua karena latihan menari, dan sekarang perut dan punggungku..."


"Bagaimana dengan Kou? Dia bisa menyembuhkanmu bukan?" ucapnya, kurasakan telapak tangannya mengusap-usap pelan lenganku.


"Sihir Kou hanya bisa menyembuhkan penyakit luar yang aku derita, seperti luka atau memar. Aku membutuhkan darahnya, jika ingin menyembuhkan penyakit yang ada dari dalam tubuhku," ucapku, kualihkan pandanganku menatap langit-langit ranjang yang ada di hadapanku.


"Apa kau ingin aku memijat perutmu?"


"Aku tidak mau, kau... Kau pasti akan melakukan hal aneh lagi padaku, apa kau tahu aku hampir saja mati di hadapan Ayah dan kerua Kakakku karenamu," ucapku lagi tanpa menoleh ke arahnya.


"Begitukah? tapi seperti apa aku mengatakannya, tapi sebenarnya apa yang dapat kau banggakan dari tubuhmu."


"Kau," ungkapku seraya mencoba beranjak lalu terbaring kembali.

__ADS_1


"Aku bercanda, beristirahatlah. Aku akan menjagamu," ucapnya, kutatap tajam dia yang juga menatapku.


"Aku tidak akan melakukan apapun, aku bersumpah, aku tidak akan melakukannya," sambungnya lagi seraya tetap menatapku.


__ADS_2