
Langkah kaki kudaku ikut terhenti saat Haruki menghentikan kuda yang ia tunggangi. Aku menggerakkan kudaku berbalik mendekati Izumi, kuarahkan kedua tanganku membuka tas besar yang digantungkan di samping kuda miliknya. Sebelah tanganku bergerak merogoh tas tadi berusaha menarik sehelai kain hitam yang ada di dalamnya.
Dengan rambut pendek yang Cia miliki, banyak yang akan mengira jika dia anak laki-laki. Tapi, aku tidak ingin mengambil risiko dan mengorbankan keselamatannya.
Kedua tanganku tadi bergerak membentang kain hitam tadi seraya kuarahkan kain tadi menyelimuti seluruh tubuh Cia. Kutarik semakin ke depan kain hitam tadi hingga menutupi seluruh wajahnya.
"Apakah tempat itu yang kau maksudkan?" Ungkap Haruki menunggangi kudanya mendekati kami.
"Benar, tempat itu."
"Berenike," ucap Mas'ud menjawab pertanyaan Haruki.
"Berenike?"
"Sebutan untuk tempat itu," ungkapnya menimpali perkataan Izumi.
"Baiklah, kita akan segera ke sana. Ingat, untuk jangan saling berjauhan," ucap Haruki kembali menggerakkan kuda miliknya berjalan meninggalkan kami.
Kedua tanganku bergerak menarik tali kekang yang mengikat kuda milikku. Kuda tersebut berlari kencang menyusul kuda cokelat milik Haruki. Sesekali kugerakkan tanganku meraih kain hitam yang jatuh dari kepala Cia, kugerakkan kain tersebut kembali menutupi kepalanya
Haruki memperlambat kuda miliknya saat kami semakin mendekati wilayah luas dengan banyak sekali bangunan tinggi yang mengelilinginya. Tak ada tembok tinggi yang seringkali kami temukan untuk membatasi wilayah... Tempat itu, hanya mengandalkan bangunan-bangunan tinggi nan mewah yang menjadi batas wilayahnya.
Sebuah bangunan berbentuk lingkaran bak koloseum berdiri kokoh di tengah-tengah wilayah tersebut. Titik-titik hitam yang hilir-mudik bergerak ikut memenuhi pemandangan yang kami lihat dari atas bukit pasir.
__ADS_1
Haruki melirik ke arah kami, digerakkannya kembali kudanya dengan cepat mendekati wilayah tersebut. Saat kami menatap dari atas bukit, yang tampak hanyalah padang pasir biasa... Tapi, saat kuda milikku berjalan melaluinya.
Tengkorak-tengkorak manusia mencuat satu persatu dari balik padang pasir yang kadang kala tertiup angin.
Apakah ini pemakaman terbuka?
Itulah kata pertama yang terlintas di dalam kepalaku saat kutatap sekelompok manusia yang melempar seseorang ke hamparan pasir itu. Sekelompok laki-laki tersebut berbalik meninggalkan tubuh laki-laki yang mereka lemparkan tadi.
Suara burung berkoak melewati, kutatap sekumpulan burung yang mendekati laki-laki tadi. Burung-burung tersebut bergerak mematuk-matuk tubuh laki-laki itu, jeritan yang sebelumnya redam terdengar kini menghilang sepenuhnya.
Saat kami berjalan melewati mereka, burung-burung tadi enggan beranjak bahkan semakin gencar mematuk mayat laki-laki tersebut yang telah banjir akan darah. Pandangan mataku menghindar ke samping saat aku tak sengaja menatap satu bola mata yang menggantung di salah satu paruh burung tersebut.
Kegilaan apa lagi ini? Aku sudah tidak mengerti lagi tentang dunia ini.
Aku kembali berbalik menatapi mayat tadi, seekor burung yang berdiri di atas tubuhnya tampak asik melahap usus panjang yang keluar dari perut mayat tadi yang telah terbelah lebar.
Suara bising di sekitar memenuhi telinga, beberapa laki-laki bertubuh tinggi besar berjalan lalu-lalang melewati kami. Kapak, pedang, atau bahkan batu besar dengan gagang kayu berada di genggaman mereka.
Beberapa perempuan juga kutemukan di sepanjang jalan, mereka semua... Hanya mengenakan sehelai tipis kain yang menutupi bagian bawah tubuh mereka dan selapis kain lainnya menutupi dada mereka.
Aku terperanjat kaget saat kurasakan lengan kananku menyentuh sesuatu nan empuk. Kepalaku berbalik menatap seorang perempuan yang telah menarik lenganku tadi hingga menekan dadanya.
"Tuan? Apa kau pendatang baru di sini? Apakah kau berkenan singgah ke tempatku," ucap perempuan tadi semakin menekan lenganku ke dadanya.
__ADS_1
Tubuhku merinding seketika karena perlakuannya. Jadi seperti ini yang kedua Kakakku rasakan dulu saat kami mengunjungi Metin... Lagipun, apakah di dunia ini sudah ada bedah plastik? Lihatlah... Lihatlah.
"Maaf, bisakah kau menjauhkan tanganmu dari Isteri ku?" Terdengar suara Izumi diikuti tarikan pada lengan kananku.
"Dia perempuan, dan dia Isteri ku. Apa kau tertarik pada perempuan?" Ucap Izumi pelan yang samar terdengar.
"Maaf. Karena dia membawa anak kecil, aku pikir dia laki-laki," ungkap perempuan tadi menarik kedua tangannya lalu digenggamnya kuat seraya kepalanya tertunduk dalam.
"Apa kalian telah selesai?" Ucapan Haruki ikut terdengar, dilepaskannya genggaman tangannya di lenganku oleh Izumi sembari kurasakan tepukan pelan di punggungku.
Kugerakkan kembali kudaku berjalan mengikuti langkah Haruki. Perempuan tadi masih tertunduk dengan perempuan-perempuan lain yang mengelilinginya.
Suara teriakan riuh memekakkan telinga saat kami berjalan melintasi bangunan lingkaran seperti koloseum yang aku katakan sebelumnya. Apa yang ada di dalamnya? Apakah aku akan menemukan pertarungan antar gladiator yang sering ada di zaman Romawi?
Aku ingin sekali melihatnya. Aku ingin...
"Hari ini, siapa yang bertarung?" Terdengar suara laki-laki berjalan melewati kami.
"Aku tidak tahu. Apa kau ingin kembali bertaruh hari ini?" Sambung laki-laki yang ada di sebelahnya.
"Tentu saja. Aku akan memberikan semua uangku untuk taruhan, dan aku akan memilih dia yang terkuat. Dengan itu, aku akan kaya," ucap laki-laki satunya diikuti suara tawa yang keras terdengar.
"Permisi, kami pendatang. Jika boleh tahu, apa yang terjadi di dalam sana?" Ucap Haruki menghentikan langkah kaki kedua laki-laki tadi.
__ADS_1
"Apakah kau mempunyai banyak uang, jika tidak... Jangan berharap untuk dapat menonton pertarungan," ucap laki-laki itu menarik tangan temannya.
"Jawab pertanyaannya dengan sangat jelas sebelum melangkah pergi. Atau aku, akan menerbangkan kepala kalian saat ini juga," ungkap Izumi mengarahkan pedangnya ke leher salah satu laki-laki tersebut.