Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXXIV


__ADS_3

Haruki membawaku ke salah satu kamar lalu membaringkan tubuhku dengan perlahan di atas kasur, “bagaimana keadaanmu?” Tanyanya saat dia masih membungkuk dengan meletakkan sebelah tangannya di atas keningku.


“Tubuhku hanya terlalu lemah untuk digerakkan, besok pagi pasti sudah sembuh,” jawabku dengan melirik ke arahnya yang telah duduk di pinggir ranjang.


“Apa yang kau lakukan di sana?”


Aku mengarahkan pandanganku menatap langit-langit, “aku memanggil Kou dan beberapa Manticore untuk membantuku,” ucapku dengan kembali melirik ke arahnya.


“Kau tahu sendiri apa risikonya bukan?!” Haruki membentakku, aku sedikit melirik ke arah Izumi yang berusaha menenangkan tangis bayi perempuan di gendongannya.


“Kau membuat bayi itu menangis nii-chan,” tukasku kepadanya.


Izumi mengangkat wajahnya menatapku, “ini semua karena suara kalian berdua,” ungkap Izumi dengan melirik ke arah kami berdua bergantian.


“Izumi,” suara Haruki terdengar, aku mengalihkan pandangan ke arahnya yang tengah memijat kepalanya sendiri, “titipkan bayi itu pada Wasfiah, pinta Danur untuk menjaganya sejenak,” ungkap Haruki, dia mengangkat kepalanya ke atas sebelum menghela napas kuat.


“Jadi, ceritakan padaku semuanya yang terjadi,” ungkapnya kembali berbicara saat Izumi telah berjalan keluar dengan menggendong bayi tadi.


“Aku ke sana, hanya karena ingin mengetahui seseuatu yang mungkin berhubungan dengan mataku,” aku melirik ke arahnya dengan menceritakan semua yang terjadi, “jadi begitulah, nii-chan. Aku membawa bayi itu, karena sebelum aku kembali ke sini … Aku menyelamatkannya terlebih dahulu.


“Kau tahu, risiko memanggil Manticore saat sihir Kou masih belumlah sempurna bukan?”


“Aku tahu, tapi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Aku mungkin tidak akan bisa hidup sampai sekarang jika kalian tidak menjagaku bukan? Aku akan lebih menyesal jika tidak sempat menyelamatkannya, maafkan aku, nii-chan,” ungkapku dengan kembali menatap langit-langit.


“Lalu? Apa gunanya ketiga wakil Kapten itu?”


“Mereka menjagaku, hanya saja untuk mencari informasi … Dua dari wakil kapten, terpisah dari kami. Walaupun wakil kapten, aku rasa mustahil untuk mengalahkan pasukan musuh di Kerajaannya sendiri.”


“Kau, jangan membuatku tidak tenang seperti itu,” Haruki lagi-lagi berbicara, aku melirik ke arahnya dengan memegang tangannya.


“Nii-chan. Terima kasih, telah mengkhawatirkan aku,” ucapku tersenyum menatapnya.


“Beristirahatlah,” Haruki mengangkat sebelah tangannya menyentuh pipiku, “kau pasti lelah bukan,” ungkapnya lagi yang aku balas dengan anggukan kepala.


Haruki beranjak berdiri, lalu berjalan meninggalkan ranjang yang aku tempati, “nii-chan,” ucapku memanggil namanya.

__ADS_1


Haruki menghentikan langkah kakinya lalu berbalik menatapku, “bisakah nii-chan memanggil seseorang yang menunggu di luar itu,” ucapku dengan melirik ke arah bayangan yang terlihat dari pintu geser berlapiskan kertas.


“Baiklah,” ucapnya berbalik sebelum melanjutkan kembali langkah.


Aku kembali mengarahkan pandangan ke atas, kuangkat sebelah tanganku mengusap kepala diikuti helaan napas yang juga ikut keluar, “bagaimana keadaanmu?” Aku kembali melirik ke arah pintu saat suaranya terdengar.


“Aku baik-baik saja,” ungkapku menatapnya yang telah duduk di samping ranjang.


“Kau tidak bertanya, alasan aku melakukannya?”


“Aku telah mendengarkannya di luar. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Aku sudah melarangmu untuk datang ke sana bukan?” Aku melirik ke samping, berusaha menghindari pandangannya saat Zeki melirik tajam ke arahku.


“Apa kau sudah mengetahuinya? Maksudku, jika Raja tersebut menumbalkan bayi perempuan, apa kau … Sudah mengetahuinya?”


“Aku mengetahuinya, aku juga mengetahui jika dia sedang gencar mencari perempuan bermata hijau. Karena itu, aku melarangmu untuk pergi ke sana.”


Aku mengarahkan pandangan kembali menatap langit-langit kamar, “apa karena kalian laki-laki, jadi kalian menutup mata akan masalah ini?” Tukasku dengan mengangkat sebelah lengan menutupi kening.


“Lalu? Apa kau mengetahui tentang legenda yang mereka maksudkan?” Aku kembali bertanya tanpa menoleh ke arahnya.


Aku mengangkat tanganku lalu menoleh ke arahnya, “tidak ada, lupakan saja,” ungkapku tersenyum menatapnya.


“Sachi.”


“Berikan aku waktu, aku … Belum siap untuk menceritakannya,” ungkapku kembali padanya.


Zeki menghela napas, dia beranjak berdiri lalu duduk semakin mendekati lenganku, “apa kau yakin, baik-baik saja?” Tukasnya dengan meraih beberapa helai rambutku yang masih menempel di pipi.


“Aku hanya berpikir, jika aku membunuh Raja itu dari dulu … Mungkin sudah banyak bayi perempuan yang selamat. Aku tahu, konflik antara dua Kerajaan bukanlah hal yang mudah, tapi-”


“Karena itulah, aku tidak memberitahukanmu. Aku, sekali pun tidak pernah perduli pada orang lain. Aku, menghormati keluargamu … Karena mereka keluargamu, dan kau menyayangi mereka,” ucapnya yang membuatku menoleh, “aku tidak perduli jika banyak yang mati, asal itu bukanlah kau,” ungkapnya semakin bergerak mendekat.


Aku melirik ke kanan, melirik ke arah telapak tangannya yang telah menyentuh bantal di samping telingaku, “apa kau, kecewa padaku?” Tukasnya lagi, napasnya yang berembus menyentuh kulitku saat wajahnya semakin bergerak mendekati.


“Aku tidak tahu, apa yang kau maksudkan,” ungkapku membalas tatapannya.

__ADS_1


“Kau tidak tahu?” Dia kembali bertanya, aku menoleh ke samping menghindari tatapannya. “Kau membuatku tidak bisa berhenti khawatir. Berhenti, membuat masalah seperti itu terus menerus,” ucapnya yang kembali menjauhkan wajahnya dariku.


“Aku, tidak akan mengulanginya. Kakakku juga pasti akan membunuhku jika aku melakukannya lagi.”


“Apa kau telah berbicara dengan Danur? Kapan dia sampai ke sini?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Dia sampai ke sini, baru tadi pagi,” ungkap Zeki, dia beranjak berdiri lalu berjalan ke sisi lain ranjang,


Aku melirik ke arahnya yang telah beranjak duduk bersandar di kepala ranjang, “auranya terlihat berbeda sekali bukan?” Ungkapnya dengan tersenyum menatapku.


“Dia terlihat lebih dewasa dibanding sebelumnya. Wasfiah pun, terlihat lebih anggun sekarang. Menjadi orang tua, terlihat menakjubkan,” ucapku kembali menatap ke atas.


Aku melirik ke kiri, saat ranjang yang aku tiduri itu sedikit bergerak, “aku bisa menjadikanmu seorang Ibu, jika kau ingin,” tukasnya yang telah berbaring di sampingku dengan sebelah tangan memangku kepalanya.


“Berhenti bercanda, jika kedua kakakku mendengarnya … Kau akan dikuliti oleh mereka hidup-hidup,” ungkapku membuang pandangan menghindarinya.


“Harus sampai kapan, aku harus menahan diri,” ucapnya, aku kembali menatapnya saat kurasakan rangkulan di pinggangku.


“Apa yang-”


“Aku lelah, aku hanya akan tidur. Aku, tidak akan melakukan sesuatu apa pun padamu. Aku bersumpah,” ucapnya yang memotong perkataanku dengan nada yang tinggi terdengar.


“Apa yang kau lakukan?”


“Sehari saja. Aku berharap tidak ada seseorang yang mengawasi gerak-gerikmu,” dia berbisik pelan, aku ikut melirik ke arah yang ia tuju.


“Apa kau, membasuh tubuhmu dengan sesuatu yang manis?” Aku kembali melirik ke arahnya yang telah mengangkat wajahnya dari pundakku.


“Membasuh?” Aku diam sejenak menatapnya, “aku menceburkan diri ke air Anggur untuk menyelinap,” lanjutku kepadanya.


“Ah sialan,” ucapnya beranjak berdiri lalu berjalan mendekati pintu.


“Kau mau ke mana?”


Zeki menghentikan langkah kakinya lalu melirik ke arahku, “menenangkan diri. Aku butuh udara segar untuk menenangkan diri,” ucapnya kembali berjalan ke depan pintu lalu membukanya.

__ADS_1


__ADS_2