
Pandangan mataku teralihkan pada Izumi yang melompat masuk ke dalam lapangan, pedang yang ada di pinggangnya tertarik keluar sembari kedua kakinya terus melangkah mendekati Haruki berserta kerumunan laki-laki yang mengelilinginya.
Langkah kaki Izumi terhenti sejenak saat sebuah panah menancap di pundaknya. Izumi menggerakkan kepalanya menatap laki-laki yang memegang busur panah sebelumnya...
Laki-laki tadi, kembali menarik busur panah miliknya ke arah Izumi. Aku beranjak berdiri, kutatap Cia yang terbangun dari tidurnya dengan mata memerah. Tubuhku berbalik menurunkan Cia di bangku yang aku duduki sebelumnya sembari tanganku mengarah kepada Eneas.
Aku berlari meninggalkan Cia dan Eneas berdua saat Eneas memberikan busur dan anak panahku yang sebelumnya aku titipkan padanya. Langkah kakiku terhenti di tengah anak tangga, kuangkat busur panah milikku sembari ku jatuhkan tabung berisi anak panah yang aku bawa.
Kuarahkan anak panah yang telah aku ambil sebelumnya dari dalam tabung menempel erat pada busur yang aku pegang. Tubuhku bergerak... Membidik laki-laki yang masih diam menatapi Izumi dari tempatnya berdiri.
Anak panahku melesat cepat menembus pergelangan tangan laki-laki tadi yang masih memegang busur panahnya. Busur berserta anak panah yang ia pegang, jatuh terlepas dengan sebelah tangannya menggenggam erat pergelangan tangannya tadi.
Izumi menunduk, sebelah tangannya bergerak ke anak panah yang menancap di pundaknya. Digenggamnya anak panah tadi dengan sebelah tangannya, perlahan... Anak panah itu tertarik ke luar diikuti kucuran darah yang mengikuti.
Aku menunduk meraih tabung kayu berisi penuh anak-anak panah milikku yang sempat ku jatuhkan di lantai sebelumnya. Tubuhku kembali beranjak lalu berlari semakin mendekati lapangan itu.
"Jangan mengganggu pertarungan ku!" Teriak Hanbal dengan sangat kuat, kedua kakiku berhenti melangkah oleh teriakannya yang sedikit mengejutkan itu.
"Anak buah milikmu yang sangatlah memalukan," ucap Haruki melangkah ke samping mendekati Hanbal.
__ADS_1
"Aku meminta maaf atas sikap lancang mereka," ucap Hanbal ikut berjalan maju dengan sebelah tangannya masih menggenggam erat perutnya.
"Apa kau menyerah?" Ungkap Haruki, sebelah tangannya bergerak menyeret tombak yang ia bawa ke tanah.
"Jangan bercanda. Ini kali pertamaku mendapatkan lawan yang sedikit seimbang" tukas Hanbal tersenyum menatapi Haruki.
"Sedikit seimbang. Heh..." Haruki menjawab perkataan laki-laki tersebut dengan kepala tertunduk.
"Apa mereka keluargamu?" Ucap Hanbal mengalihkan pandangannya padaku dan juga Izumi bergantian.
"Jika kau kalah di dalam pertarungan ini dan mati. Kedua keluarga mu itu akan menjadi budakku."
"Bagaimana jika... Aku membuatmu sedikit serius," ucap Hanbal mengangkat genggaman telapak tangannya ke atas.
Kepalaku tiba-tiba mendongak ke atas diikuti tarikan kuat pada rambutku. Kedua mataku melirik pada Haruki maupun Izumi yang menatapku dengan kedua mata mereka yang terlihat membesar dari sebelumnya.
Tubuhku terdorong ke depan, kedua tanganku yang menggenggam busur berserta tabung berisi anak panahku terlepas saat kudengar suara Uki yang bercuap riuh dari dalam tas yang aku bawa.
Kedua tanganku bergerak memeluk tas yang terdapat Uki di dalamnya. Kuangkat sebelah telapak kakiku menempel erat pada dinding yang ada di hadapan. Kakiku yang menempel di dinding batu tersebut, kugerakkan menendang kuat dinding itu hingga tubuhku berserta seseorang yang ada di belakang jatuh terjungkal ke belakang.
__ADS_1
Aku segera menggerakkan tubuh ke samping lalu beranjak berdiri, dengan sigap... Ku injak-injak wajah laki-laki yang menarik rambutku itu sebelum tubuhnya sempat beranjak kembali.
Aku berlari menjauh dari laki-laki tadi sembari mataku bergerak melirik ke arah Hanbal yang menatapku dari kejauhan. Langkahku terhenti, seorang laki-laki bertubuh besar yang pergelangan tangannya ku panah sebelumnya telah berdiri di hadapan.
Tubuhku berbalik kembali ke arah sebelumnya, laki-laki yang aku injak-injak wajahnya juga telah berjalan mendekati. Aku melirik ke arah kanan, kerumunan penonton hanya memandangku... Mereka menatap, seakan berharap sesuatu yang buruk segera terjadi padaku.
"Sachi," teriakan Izumi mengalihkan pandanganku ke kiri. Aku berlari ke arah kiri, tubuhku memanjat dinding yang ada di sana lalu melompatinya.
"Keluargamu benar-benar menarik. Calon budak yang sangat sempurna," ucap Hanbal saat kedua kakiku mendarat di tanah dengan keras.
Kutarik napasku dalam-dalam, kedua kakiku seakan membeku karena lompatan tadi. Rasa kesemutan menjalar hingga ke kepala, aku masih duduk berlutut dengan kepala tertunduk tanpa mengindahkan perkataan yang aku dengar barusan.
"Aku tidak suka bermain-main, terlebih pada manusia rendahan seperti kalian," ucap Haruki mengarahkan ujung tombak miliknya ke arah Hanbal.
Aku beranjak berdiri, menatapi mereka yang kembali diam. Hanbal tiba-tiba tertunduk diikuti suara tertawa yang kuat terdengar darinya. Laki-laki paruh baya itu, tiba-tiba jatuh berlutut di hadapan Haruki.
Dia tertunduk dengan sebelah tangannya bergerak menutupi mulutnya. Beberapa kali ia terbatuk-batuk, kepala Hanbal kembali terangkat menatapi Haruki yang masih mengarahkan tombak ke arahnya.
Hanbal menurunkan telapak tangan yang menutupi wajahnya itu, bibirnya dipenuhi darah, begitupun dengan telapak tangannya tadi. Sebelah tangannya menggenggam kuat luka yang ada di perutnya, sedangkan sebelah tangannya yang lain... Basah oleh darah yang ia muntahkan.
__ADS_1
"Dia sekarat," ungkap Lux, kutatap dia yang entah kapan telah berpindah ke dalam tas dengan Uki di dalamnya.