Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXIV


__ADS_3

Aku melirik ke arah Haruki yang menelungkupkan kedua tangannya, kepalanya tertunduk dengan kedua matanya terpejam di depan makam Luana. Kualihkan, tatapan mataku kepada Ibu, yang juga telah melakukan hal yang sama, namun di depan makam Mari. Kalian benar, Ibu tidak tahu jika Mari dieksekusi karena hampir membunuh Putrinya sendiri, yang ia tahu mungkin … Sama yang aku ketahui, sebelum aku mengetahui kebenaran itu.


Berselang, setelah menunggu cukup lama. Kami semua beranjak, berjalan menuruni bukit. Langkahku berhenti di dekat Tsubaru yang membukakan pintu salah satu kereta, “masuklah!” perintah suara Zeki yang terdengar dari arah belakang.


Aku kembali membuang pandangan ke depan, lalu mengangkat kedua kakiku menaiki kereta disusul Zeki yang ikut bergerak di belakangku. Aku duduk menunduk dengan merapikan ujung kimono yang aku kenakan, “kau kenapa?” tanyaku sambil melirik ke arahnya yang tiba-tiba duduk sambil menyandarkan kepalanya di pundakku.


Kedua mataku sedikit membelalak saat kurasakan kecupan di leherku, “Ze-”


“Pelankan suaramu! Kau, tidak ingin jika keluarga dan kesatriamu mendengar apa yang kita lakukan, bukan?” bisiknya pelan, tubuhku sedikit tersentak saat kurasakan gigitan di leher telah berpindah ke telingaku.


“Berikan aku ciuman!” bisiknya kembali, lama kutatap dia dengan napasku yang sedikit tersengal.


Aku mengangkat kepalaku mendekati wajahnya, mataku terpejam saat bibir kami saling menempel. Rangkulan di pinggangku itu semakin menguat, membuat tubuhku sedikit maju ke depan, semakin mendekatinya. Zeki kembali menciumi bibirku saat ciuman yang kami lakukan berhenti, “Sachi,” ucapnya pelan ketika mata kami saling bertatap.


“Kita,” ungkapku beranjak kembali duduk dengan mengusap wajah, “masih di luar,” sambungku, aku mengembuskan napas sambil jari-jemariku merapikan kembali kimono yang aku kenakan itu.


Aku melirik ke arahnya yang telah duduk kembali dengan membuang tatapannya ke arah pintu kereta. Ikut kulemparkan pandanganku ke arah jendela, sambil helaan napas pelan tak henti-hentinya keluar ketika detakan jantungku masih tak menentu kurasakan. “Lusa, kemungkinan aku telah kembali ke Yadgar,” tukasnya yang memecahkan keheningan.


“Aku seorang Raja, jadi tidak bisa meninggalkan Kerajaanku terlalu lama, seperti yang kau katakan, bukan?” ucapnya kembali saat mata kami saling bertemu.


“Lagi pun, aku masihlah harus memperluas wilayah kekuasaanku setelah pulang dari sini. Semakin banyak kerajaan kecil yang jatuh di tanganku, semakin bertambah pula sekutu untuk kita nanti.”


“Jika benar begitu, perintahkan saja para Kesatriamu untuk pulang. Dan untukmu, Kou dapat mengantarmu ke Yadgar hanya dalam waktu semalam.”

__ADS_1


Aku menoleh ke arahnya saat kurasakan cubitan kuat di pipiku yang ia lakukan, “apa kau sekarang, sudah merasa sulit untuk berpisah dengan suamimu ini,” ucapnya, dia melepaskan kembali cubitannya itu sembari membuang tatapan matanya ke depan.


“Walau kita telah menikah, jangan lupakan tujuan kita. Aku paham, mengapa Haruki memberikan syarat tersebut untuk kita berdua … Ia pasti mengkhawatirkan, kalau nantinya kita sulit untuk berpisah jika sudah merasakan hal itu. Lebih tepatnya mungkin, semua kekhawatiran itu, ia tujukan kepadaku,” Zeki menundukkan kepalanya, sedikit dapat terlihat senyuman yang terukir di wajahnya.


“Kau, telah menjadi Isteriku saja … Itu sudah lebih dari cukup. Untuk yang lain, aku bisa menunggunya lagi sedikit lebih lama. Berjuanglah, aku akan mendukungmu apa pun yang terjadi,” tukasnya lagi, dia menggerakkan wajahnya itu mengecup pelan pipiku.


_______________.


Aku menatap ke arahnya yang tengah berjalan menjauh dengan Ayah dan juga Haruki, “Sachi!” Kepalaku berbalik menoleh ketika suara Ibu terdengar memanggil.


“Kemarilah!” panggil Ibu kembali dengan melambaikan tangannya ke arahku.


Aku berjalan mendekatinya, “di mana yang lainnya, Ibu?” tanyaku saat kami telah berjalan berdampingan.


“Jadi-”


“Jadi? Apanya yang jadi, bu?” Aku balas bertanya dengan menoleh ke arahnya.


“Apa yang kau khawatirkan? Ibu dapat merasakannya,” ucapnya sambil mengangkat tangannya menyelipkan rambut di telingaku.


“Isteri yang baik itu, seperti apa?” gumamku pelan dengan membuang pandangan ke samping.


“Isteri yang baik itu, seperti apa Ibu menjelaskannya. Mungkin seperti sebuah rumah yang selalu kita rindukan ketika berpergian jauh. Sebuah tempat di mana, suatu perasaan yang tak akan bisa ditemukan di mana pun, kecuali di tempat tersebut. Melayani suami, sudah menjadi kewajiban seorang isteri. Mencukupi semua kebutuhan isteri, sudah menjadi kewajiban seorang suami.”

__ADS_1


“Saat kau memutuskan untuk menikah, ini bukan lagi tentang kau dan juga aku … Melainkan tentang kita. Tahan semua ego, bicarakan apa pun dengan suamimu. Percayalah, dia pun pasti merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan sekarang,” ucap Ibu, dia tersenyum menatapku sambil memegang pipiku, “berjuanglah Putriku. Pernikahan, adalah awal dari semua titik balik kehidupanmu … Kau, pasti tidak akan menikah dengan laki-laki yang menurutmu tidak pantas, bukan?”


_______________.


Aku menatap bayangannya yang terpantul dari cermin, tubuhku berbalik menatapnya yang masih tak bergeming dari lembaran-lembaran kertas yang ia baca. “Kertas apa itu?” tanyaku sambil melangkahkan kaki mendekati ranjang.


“Ini informasi, mengenai beberapa Kerajaan yang ada di sekitar Yadgar. Haruki memberikannya kepadaku saat kami berkumpul sore tadi,” ucapnya yang masih menatapi lembaran kertas di tangannya.


Aku beranjak naik ke atas ranjang lalu duduk di sampingnya, “apa aku bisa melihatnya?” tanyaku sembari mengangkat tangan ke arahnya.


Zeki menoleh sambil memberikan lembaran kertas tersebut di atas telapak tanganku. Aku menundukkan pandangan membaca baik-baik semua kata-kata yang tertulis di sana, “kau, ingin menyerang semua kerajaan ini?”


“Tentu saja. Haruki benar-benar mengerikan, aku baru menyadarinya setelah membaca catatan ini. Bagaimana caranya, dia mengetahui titik kelemahan mana yang dapat kita manfaatkan untuk menghancurkan musuh,” sahutnya seraya mendongakkan kepalanya ke atas.


“Dan semua informasi yang ia dapatkan, langsung berhasil dieksekusi olehmu, seperti yang kalian lakukan di Tao. Ini semakin membuatku tersadar, betapa mengagumkannya perempuan yang aku nikahi ini,” sambungnya yang kembali menundukkan pandangan.


"Apa kau, kehilangan kepercayaan diri?" Aku balik bertanya dengan memberikan lembaran kertas tadi kepadanya.


Kutatap dia yang meletakkan lembaran kertas tersebut di atas meja yang ada di samping ranjang. "Apa kau bercanda? Aku justru semakin tertantang, kau tahu," ucapnya, matanya melirik dari wajahku lalu ke bawah saat dia menghentikan wajahnya itu tepat di hadapanku.


"Darling, apa tawaran pagi tadi masih berlaku?" tukasnya, aku melirik ke arah tangannya saat kurasakan jari tangannya itu mengusap bibirku.


"Apa kau melupakan kata-kata yang kau ucapkan saat kita di kereta?"

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak mengingat kata-kata apa yang kau maksudkan itu," ucapnya sambil mengecup bibirku, "jadi, bisakah kita melakukannya sekarang?" sambungnya, napasnya yang sedikit memburu itu semakin terasa menyentuh kulit saat dia menciumi pipiku berulang-ulang.


__ADS_2