Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLIX


__ADS_3

Aku melirik ke arah Izumi ketika dia beranjak lalu berjalan mendekati kursi yang sebelumnya diduduki Alma, “apa menurutmu, dia bisa melakukannya?” Tanya Izumi, dia menyandarkan dirinya di kursi dengan matanya melirik ke arah Haruki.


Haruki balas melirik ke arahnya, “karena itulah, aku meminta Lux untuk langsung pergi menyusulnya. Kita bisa mengandalkan Lux untuk urusan ini,” ucap Haruki, dia memijat kepalanya yang tertunduk menggunakan tangan kanannya yang bertumpu di lengan kursi.


Aku menundukkan kepala, “Kou, tetap perhatikan sihir Lux. Jika kau merasakan keanehan padanya, segera beritahukan aku,” bisikku pelan sambil mengangkat kembali pandangan.


Aku menoleh ke belakang saat suara pintu terbuka menyentuh telingaku. Aku ikut beranjak saat Haruki dan Izumi telah berdiri di dekatku. Aku melirik ke arah lantai, ke arah bayangan yang berjalan mendekat, “siapa kalian?” Tanya Haruki pada dua orang laki-laki yang aku perkirakan usianya tidak terlalu jauh dari Izumi.


Mereka berdua membungkukkan tubuh, “Pangeran Alma, meminta kami untuk menjaga kalian,” ucap mereka sebelum beranjak berdiri kembali.


“Yang aku tanyakan, siapa kalian?”


“Kami pengawal sekaligus teman masa kecil Pangeran Alma,” ungkap salah satu di antara mereka.


Izumi berdiri membelakangiku, “jika benar, bukankah seharusnya kalian berdua menjaganya yang sedang pergi menemui pamannya?” Izumi mengangkat jari telunjuknya sedikit ke kanan.


Salah seorang laki-laki berjalan maju. “Itu benar, tapi wakil kapten sendiri yang telah menemani Pangeran,” jawabnya dengan sangat lugas.


“Pangeran Alma, telah menceritakan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi di hutan Kekaisaran. Karena itu, kami ingin mengucapkan terima kasih,” ucap laki-laki lainnya kepada kami.


“Kami akan berjaga di luar, panggil kami jika membutuhkan sesuatu-”


“Aku membutuhkan sesuatu,” ungkapku memotong perkataan salah satu di antara mereka.


“Antar aku, ke suatu tempat. Ada yang ingin aku pastikan,” ucapku kepada mereka.


“Sa-chan.”

__ADS_1


“Oi, Sachi,” ucap Haruki dan Izumi bergantian.


Aku mengembuskan napas, “nii-chan, aku akan pergi ke sana sendirian. Kalian bertiga, berjagalah di sini hingga dia kembali,” ungkapku sambil melirik ke arah mereka yang telah melebarkan pandangan.


“Apa maksudmu?” Aku berbalik ke samping saat kurasakan tarikan di lengan kananku.


“Aku, hanya ingin memastikan sesuatu di luar. Jika telah selesai, aku akan segera kembali,” aku berusaha menyakinkan Izumi yang membelalakkan matanya menatapku.


Izumi melirik ke arah mereka, “aku bahkan tidak bisa mengetahui, mereka berdua bisa bertarung atau tidak,” sindir Izumi kepada mereka berdua.


“Alma, mungkin tidak akan sembarangan memberikan pengawal lemah untuk melindungi kita,” timpalku kepada Izumi.


“Nii-chan,” ucapku menoleh ke arah Haruki, “aku akan memberi tahu informasi apa pun yang akan aku dapatkan nanti. Karena itu, percaya dan tunggu saja aku,” ungkapku kepadanya.


“Apa kau yakin akan baik-baik saja?”


“Baiklah, Eneas,” ucap Haruki sambil melirik ke arahnya, “temani Sachi!” Perintah Haruki ketika dia kembali melirik ke arahku.


Aku melirik ke arah Eneas yang telah menyanggupi perintah Haruki. “Bagaimana, apa kalian bisa membantuku keluar dari tempat ini sejenak? Ada tempat yang ingin aku kunjungi,” tukasku kepada dua orang laki-laki yang diperintahkan Alma untuk menjaga kami.


“Bagaimana dengan mereka?”


“Kami bisa menjaga diri kami sendiri, hanya jaga saja dia,” sahut Izumi ketika mereka berdua melirik ke arah Haruki dan juga dirinya.


Kedua laki-laki itu melirik satu sama lain, “baiklah. Ikuti kami,” ucap salah satu laki-laki diikuti laki-laki lainnya yang berjalan di belakangnya.


Aku melirik ke arah Haruki dan juga Izumi bergantian sebelum kedua kakiku melenggang pergi meninggalkan mereka. Pandangan mataku terjatuh ke samping, ke arah si Kakek dan juga cucu laki-lakinya yang tengah duduk bersandar di dinding rumah saat kedua kakiku telah melangkah keluar dari rumah tersebut.

__ADS_1


Dengan cepat, kubuang pandangan mataku dari mereka yang terlihat tidak menyadariku yang telah berjalan menjauhi rumah. “Nee-chan,” aku melirik ke samping kanan, ke arah Eneas yang telah berjalan di sampingku.


“Sebenarnya, kita akan ke mana?” Bisiknya ketika aku telah mengalihkan pandangan kepadanya.


“Ke, pantai … Mungkin,” jawabku sambil kembali mengarahkan pandangan lurus ke depan.


Kedua laki-laki tadi, membawa kami ke sebuah rumah petak yang ada di sudut pagar, lengkap dengan kereta kuda mewah dan beberapa gerobak kuda penuh kotak kayu di atasnya bersusun rapi di dekat rumah petak yang aku maksudkan. Salah satu laki-laki menaiki gerobak kayu tersebut, dia membuka salah satu kotak yang ada di sana, lama dia terlihat merogoh ke dalam kotak kayu tadi sebelum akhirnya ia turun dengan membawa lipatan kain berbeda warna kepada kami.


“Ini milikku, aku tidak tahu … Apa ini muat di tubuh kalian atau tidak,” ucapnya sembari mengarahkan kedua lipatan kain tadi ke arahku dan Eneas bergantian.


Aku meraih lipatan kain tadi, kutatap jubah cokelat yang lipatannya telah terbuka di tanganku itu. Aku sedikit menoleh ke samping saat kugerakkan kedua tanganku mengenakan jubah tersebut. “Apa kau, memiliki pedang untuknya, dan juga pedang atau panah untukku?” Tanyaku menatap laki-laki tadi yang sedikit membelalakkan matanya ketika aku mengatakannya.


“Aku bisa menggunakan kedua senjata itu,” ucapku berusaha untuk menjawab kebingungan yang terlukis di wajahnya.


Laki-laki itu mengangguk, “baiklah, aku akan mengambilkannya,” tukasnya sebelum berbalik lalu melangkah mendekat ke arah salah satu gerobak.


Aku mengarahkan pandangan ke arah laki-laki lainnya, dia berbalik melangkah mendekati kami dengan dua ekor kuda yang ia bawa di belakangnya. Dia menaiki kuda berwarna hitam yang ada di sebelah kanannya lalu menoleh ke arahku, “naiklah,” ungkapnya sebelum membuang kembali pandangannya dariku.


Aku berjalan mendekati kuda hitam yang ia tunggangi, “apa, kami berdua tidak bisa mendapatkan kuda masing-masing untuk ditunggangi?” Tanyaku dengan sedikit mendongakkan kepala menatapya.


Dia menoleh ke arahku yang telah berdiri tidak terlalu jauh dari kakinya, “kuda yang lain, milik para Kesatria. Kami tidak bisa meminjam kuda mereka tanpa izin terlebih dahulu.”


Aku menghela napas, lalu berjalan semakin mendekatinya dengan meraih tangannya yang mengarah padaku. Aku beranjak duduk ke atas kuda saat laki-laki itu menarik tanganku ke atas. “Pedang,” aku menoleh ke arah suara laki-laki yang terdengar di samping.


Laki-laki yang sebelumnya aku pinta untuk menyiapkan pedang, mengarahkan dua buah pedang yang ada di tangannya ke arahku. Aku melirik kedua pedang tersebut lalu meraih sebuah pedang berbungkus kayu cokelat di tangannya, “terima kasih,” ucapku kepadanya sebelum dia pergi menjauh mendekati Eneas.


“Putri,” pandangan mataku kembali teralihkan pada laki-laki yang ada di hadapanku, “ke mana, kami harus mengatarmu?” Tanyanya tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

__ADS_1


“Aku akan memberi tahu kalian nanti, jalan saja terlebih dahulu,” balasku singkat sebelum kuda yang ia tunggangi itu berhenti.


__ADS_2