
“Ryu, apa ada yang ingin kau makan?” tanya Ibu menggunakan bahasa Latin pada Ryuzaki yang duduk di sampingnya.
“Sachi,” tukasnya yang membuatku berhasil menoleh menatapinya.
Aku menurunkan sendok yang ada di tanganku ke atas piring, “ada apa, Ryu?” Aku balas bertanya kepadanya.
Dia masih terdiam dengan melirik ke sekitar hingga kami semua yang berada di dalam ruangan menoleh ke arahnya. “Ibu, apa kita akan melakukannya malam ini?” tukasku yang langsung mengalihkan pandangan ke arah Ibu.
“Semakin lama menunda, semakin berbahaya untuk mereka,” timpal Ibu, dia mengangkat telapak tangannya mengusap kepala Ryuzaki yang masih saja diam menatapiku.
“Nii-chan,” ujarku sambil menoleh ke arah Izumi yang duduk di sebelah, “bantu kami untuk membawa Ryu ke belakang Istana. Dan Ayah, bisakah Ayah meminta beberapa Kesatria untuk berjaga saat kami melakukannya?” tanyaku kembali dengan mengalihkan pandangan ke arah Ayah.
_____________.
“Kou, apa kau mendengarku? Buka gerbang, agar anak Rusa itu bisa ke sini,” ucapku dengan setengah berbisik diikuti pandangan mata yang masih menatap ke arah beberapa Kesatria.
Para Kesatria tadi bergerak menanam obor-obor yang ada di tangan mereka ke tanah. “Ibu,” ucapku pelan sambil menatap ke arah Ibu yang masih berdiri di hadapanku.
“Bibi mengatakan jika makhluk lain tidak bisa melihat rusa tersebut, tapi kenapa … Naga dan para Manticore milikku dapat melihatnya?” tanyaku ketika dia telah berbalik menatapku.
Ibu menggeleng pelan menatapku, “Ibu pun tidak tahu, mereka hewan-hewan milikmu, bukan? Mungkin itulah alasannya, lagi pun … Bukankah bagus jika mereka bisa saling melihat satu sama lainnya,” jawab Ibu yang kembali tersenyum menatapku.
Aku menoleh ke belakang saat udara dingin tiba-tiba berembus, kulambaikan tanganku ketika bayangan kecil itu berjalan mendekat. “Kepada siapa kau melambaikan tanganmu?” Aku melirik ke belakang, ke arah Izumi yang berjalan mendekat.
__ADS_1
“Kepada rusa kecil milik Ryu,” jawabku yang dibalas tatapan bingung dari Izumi.
Aku menggaruk tengkuk sambil mengalihkan pandangan dari Izumi, “mendekatlah, Ryu telah menunggumu,” ungkapku kepada Rusa itu sembari mengangkat kembali tanganku ke arahnya.
Aku berjalan berdampingan dengan Ibu melewati Izumi saat Rusa itu telah mendekat. Ayah, Haruki, ataupun Eneas dan Lux yang berdiri di dekat Ryuzaki mengangkat wajah mereka ke arah kami yang semakin melangkah mendekati, “aku ingin, kalian semua menyingkir kecuali Sachi … Meninggalkan hanya kami bertiga,” ungkap Ibu yang tiba-tiba bersuara.
Mereka yang ada di dekat kami saling pandang, mereka terdiam tanpa mengeluarkan suara apa pun, “kumohon,” ucap Ibu kembali dengan pandangan matanya yang langsung mengarah kepada Ayah.
Ayah terhenyak, lama dia membalas tatapan Ibu, “baiklah,” ucap Ayah, dia mengusap kepala Ryuzaki yang berada di samping kakinya sebelum Ayah berbalik melangkahkan kakinya.
“Kalian semua, menjauhlah dari sini. Berjagalah dengan jarak yang sedikit jauh dari mereka,” sambung Ayah lagi sambil membuang pandangannya ke arah beberapa Kesatria yang berdiri mengelilingi kami.
“Ibu, apa kita memang harus mengusir mereka? Maksudku, mereka juga tidak akan mengerti apa yang kita katakan,” ungkapku kepadanya saat semua orang sudah menghilang meninggalkan kami bertiga.
Aku menganggukkan kepalaku, kedua mataku tiba-tiba membesar saat Ibu masih terdiam menatapku, “apa karena cahaya mereka dapat menyebabkan kebutaan di mata mereka?” tanyaku saat aku kembali mengingat kata-kata yang dulu sempat Zea katakan.
Ibu mengangguk pelan sambil dia berjongkok di hadapan Ryuzaki, “dan juga, Ibu ingin kau menutup mata Ryu. Matanya, sama seperti Ayahmu … Ibu mengkhawatirkan matanya jika tiba-tiba saja dia membuka matanya saat upacara berlangsung,” sambung Ibu seraya mengangkat wajahnya menatapku.
Aku berjalan, lalu berhenti kembali tepat di belakang punggung Ryuzaki. Kedua kakiku bertekuk diikuti wajahku yang mendekatinya, “Ryu, jangan takut. Kau percaya padaku, bukan?” tukasku sambil mengangkat tangan menutup pelan matanya.
“Sachi, pinta dia untuk meludah,” ucap Ibu sembari mengangkat kedua tangannya ke depan wajah Ryuzaki.
“Ibu, apa Ibu yakin? Ibu meminta Ryu untuk meludahi telapak tangan Ibu?” tanyaku secara beruntun kepadanya.
__ADS_1
“Ini akan lebih baik, dibanding dia kebingungan akan apa yang terjadi,” tukas Ibu menjawab pertanyaanku.
“Aku mengerti.”
“Ryu, apa kau bisa membuang air ludahmu ke depan? Buang air ludahmu dengan pelan, Ryu,” bisikku sambil mengangkat sebelah tangan yang lain menggerakkan wajah Ryuzaki.
Ryu melakukan apa yang aku perintahkan, Ibu berbalik dengan mengangkat kedua tangannya yang berisi air ludah Ryuzaki, “mendekatlah!” panggil Ibu kepada Rusa milik Ryuzaki menggunakan bahasa Latin.
“Buka mulutmu!” perintah Ibu kembali padanya, Rusa kecil itu mendongakkan kepalanya saat kedua kakinya berhenti di dekat kami.
Ibu sedikit beranjak dengan menuangkan air ludah milik Ryuzaki yang ada di telapak tangannya ke arah mulut Rusa tadi. Cahaya keemasan langsung mencuat dari dalam tubuh Rusa tersebut, dengan sekejap … Rerumputan yang ada di sekitar kami telah dipenuhi oleh bunga-bunga kecil dengan kelopak keemasan yang tiba-tiba tumbuh tanpa henti hingga rerumputan-rerumputan yang ada semakin tertutupi oleh bunga-bunga kecil tersebut.
Cahaya yang berasal dari Rusa tadi tiba-tiba meredup diikuti tubuhnya yang menghilang entah ke mana. “Dia pulang ke tempat yang seharusnya ia tinggali. Zea dan rusa milikmu, telah menunggunya di sana,” ucap Ibu, kepalaku yang bergerak menoleh ke kanan dan ke kiri berhenti ketika mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulutnya.
“Tapi-”
“Tapi, tapi bukankah Ryu harus memberikannya nama terlebih dahulu?” tanyaku dengan sedikit terbata saat Ibu telah kembali beranjak berdiri di hadapan kami.
“Kalian lahir secara bersamaan, satu nama sudah cukup untuk mewakili rusa kalian,” ucap Ibu, ia menundukkan wajahnya dengan tersenyum kecil saat aku juga telah ikut beranjak berdiri, “Sachi, kau memiliki mata yang sama dengan para Elf, sedangkan Ryu memiliki telinganya. Karena itulah, satu nama sudah cukup untuk mewakili semuanya,” sambung Ibu, dia kembali mengangkat wajahnya membalas tatapanku.
“Ryu, cobalah untuk berdiri, nak. Ibu akan membantumu,” sambung Ibu, aku melepaskan telapak tanganku yang menutupi mata Ryuzaki ketika Ibu menjulurkan kedua tangan ke arahnya.
Ryuzaki mengangkat kedua tangannya meraih tangan Ibu, aku tertegun … Terhenyak saat Ryuzaki dapat beranjak berdiri tanpa kesulitan sedikit pun, “Ibu, jelaskan kepadaku … Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku, aku menatap ke arah Ibu sebelum pandangan mataku kembali terlempar kepada Ryuzaki yang telah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
“Jika sihir yang kau miliki dapat mengambil luka dan kutukan untuk orang yang berharga untukmu, kenapa … Kau tidak bisa melakukannya pada dia yang selalu bersamamu sejak di dalam perut Ibu. Sachi, Ibu akan memberitahukanmu … Semua hal mengenai sihir yang kita miliki,” ungkapnya lagi-lagi dengan sangat pelan mengetuk telinga.